Hukum Puasa Syawal Menurut Ulama Syafiiyah

3
667

BincangSyariah.Com – Anak kecil Indonesia banyak yang sudah diajari puasa sunnah Syawal enam hari setelah hari raya Idul Fitri. Ayah dan ibu mengajak anaknya untuk lansung berpuasa di hari kedua pada bulan Syawal. Yang begitu bukanlah sebuah kesalahan, karena puasa sunnah enam hari di bulan Syawal menjadi pelengkap ibadah puasa satu bulan Ramadan.

Kebiasaan seperti di atas tidaklah asing bagi warga Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut madzhab Syafi’iyah. Dalil yang digunakan untuk berhujjah mengeni kesunnahan berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Abu Ayyub Al Anshory. Menurut hadits ini, dikatakan bahwa Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

 Barang siapa berpuasa di bulan Romadlon, kemudian mengikutinya dengan 6 hari dari bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama setahun (HR Muslim 2/822).

Hadits di atas menunjukkan adanya kesunnahan untuk berpuasa selama enam hari di bulan Syawal. Dikatakan menunjukkan kesunnahan karena di dalam hadits tersebut tidak disebutkan adanya ancaman bagi yang tidak melaksanakan serta bagi yang menjalankan puasa dijanjikan pahala. Dengan demikian hadits tersebut merupakan anjuran yang dengan bahasa lain merupakan sunnah, bukan kewajiban karena tidak ada ancaman bagi yang meninggalkan.

Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bahwa dalil tersebut merupakan hujjah yang shahih dan tegas (sharih). Karena itulah dalam madzhab Syafi’i disunnahkan berpuasa enam hari dalam bulan Syawal. Abul Hasan Al Mawardi Asy Syafi’i berkata di dalam Kitab Beliau Al Hawi Al Kabir:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُعْطِي بِالْحَسَنَةِ عَشْرًا فَتَحْصُلُ لَهُ بِشَهْرِ رَمَضَانَ وَهُوَ ثَلَاثُونَ يَوْمًا بِثَلَاثِمِائَةِ حَسَنَةٍ وَبِسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ سِتُّونَ حَسَنَةً، وَذَلِكَ عَدَدُ أيام السنة

Baca Juga :  Keutamaan Menyingkirkan Benda Tajam di Jalanan

Sesungguhnya Alloh Ta’ala menganugerahkan kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Maka Satu bulan Romadlon yaitu tiga puluh hari menghasilkan kebaikan berupa 300 kebaikan, dan 6 hari dari bulan Syawal dengan 60 kebaikan. Dan yang demikian itu bilangan hari dalam setahun [Abul Hasan Al Mawardi Al Hawi Al Kabir].

Madzhab Syafi’iyyah berpendapat bahwa puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya sunnah berdasarkan hadis dari Imam Muslim di atas. Menurut Madzhab ini, puasa enam hari di Bulan Syawal lebih utama dilaksanakan mulai tanggal 2 Syawal sampai dengan 7 syawal, berturut-turut/berkesinambungan tanpa terputus hari yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk bersegera dalam beribadah tanpa menunda-nunda. Jika ditunda-tunda dikhawatirkan akan ada halangan semisal sakit, hamil, menyusui, meninggal dunia, atau sebab yang lain.

Menurut Syafi’iyah, utamanya puasa Syawal adalah pada tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal. Puasa enam berturut-turut setelah hari raya Idul Fitri. Namun bagi yang berhalangan atau banyak acara lainnya boleh diakhirkan atau di lain waktu salaam bulan Syawal. Adapun niat untuk berpuasa sunnah Syawal adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ ِستَةٍ ِمنْ شَوَالٍ سُنَةً ِللَه تَعَالَى

Saya niat berpuasa sunnah enam haru bulan Syawal karena Allah

 

3 KOMENTAR

    • Ass. Wr. Wbr. Hutang puasa Ramadhannya dilunasi dulu, kemudian dilaksanakan puasa Syawalnya, Insya Allah sah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here