Hukum Puasa Ramadan bagi Orang Pikun

0
2597

BincangSyariah.Com – Salah satu tanda-tanda seseorang sudah tidak muda lagi dan mengalami penuaan adalah penyakit kepikunan. Ini merupakan kondisi di mana seseorang butuh waktu lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya.

Ia lupa menaruh benda milik pribadinya, lupa mengingat nama sanak saudaranya, lupa dengan apa yang telah ia ucapkan sebelumnya bahkan ia juga lupa apakah ia sudah mengerjakan ibadah-ibadah yang diwajibkan agama baginya atau belum.

Salah satu kewajiban agama yang harus ditunaikan bagi setiap muslim adalah melaksanakan puasa di bulan Ramadan. Lalu bagaimana hukum puasanya orang yang sudah pikun sebagaimana disebutkan di atas? Apakah ia tetap diwajibkan berpuasa? Imam Ibnu Qasim Al Ghazi di dalam kitab Fathul Qarib menyebutkan

والشيخ والعجوز والمريض الذي لا يرجى برؤه ان عجز كل منهم عن الصوم يفطر ويطعم عن كل يوم مدا ولا يجوز تعجيل المد قبل رمضان ويجوز بعد فجر كل يوم

Orang tua, tua renta dan orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya jika masing-masing dari mereka tidak mampu berpuasa maka ia berbuka dan memberi makan (sebagai pengganti puasa) setiap harinya satu mud. Tidak boleh menyegerakan membayar denda mud tersebut sebelum Ramadan dan boleh (dibayarkan) setelah fajar (Ramadan) setiap harinya.

Sehingga bagi orang yang sudah tua tidak diwajibkan baginya berpuasa. Ini karena memang salah salah satu syarat diwajibkannya berpuasa adalah adanya kemampuan melaksanakannya.

Di dalam kitab Albajuri Hasyiah dari kitab Fathul Qarib, imam Ibrahim al Bajuri memberikan penjelasan bahwa batas usia tua (As syeikh) adalah sudah melewati umur 40 tahun.

Sedangkan jika sudah melewati batas tua disebut al Ajuz (tua renta). Dan bagian dari tanda-tanda penuaan adalah al haram (الهرم) atau kepikunan.

Baca Juga :  Cara Menghormati Tamu menjadi Ukuran Tingkat Keimanan Manusia

Dasar tidak diwajibkannya berpuasa bagi orang yang sudah pikun sebagai tanda tuanya seseorang adalah surah Albaqarah ayat 184 “…..dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin…..”. Selain itu, hadis mauquf (tetapi marfu secara hukum) dari Ibnu Abbas

 رُخِّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْناً، وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ  رَوَاهُ الدَّارُ قُطْنِيْ وَالْحَاكِمُ وَصّحَّحَاهُ

Diberikan rukhsoh/dispensasi bagi orang tua renta untuk tidak berpuasa dan ia harus memberi makan satu orang miskin setiap hari, dan tidak ada qadla puasa baginya.”(HR. Imam al Daru Quthni dan imam al Hakim, dan mereka menilai shahih terhadap hadis tersebut).

Jadi, hukum puasanya orang yang sudah pikun adalah tidak wajib. Tetapi sebagai gantinya, ia wajib membayar fidyah berupa memberikan makan orang miskin setiap harinya satu mud.

Satu mud adalah sama dengan 6 ons atau di bulatkan menjadi 1 kg beras yang diberikan kepada fakir miskin berserta uang lauk-pauknya setiap hari. Juga diperbolehkan baginya membayarkan dalam bentuk makanan atau dalam bentuk uang.

Namun, melihat kondisi orang yang sudah pikun tersebut tidak memungkinkan membayarkan fidyah-nya sendiri, maka bagi anggota keluarga hendaknya mengurusi pembayaran fidyah-nya meskipun dalam keadaan fakir.

Kewajiban membayar fidyah bagi orang fakir ini menunjukkan masih adanya ketetapan tanggungan baginya. Tetapi menurut imam Abu Hanifah, jika ia tidak mampu maka ia hendaknya meminta ampunan kepada Allah Swt.

Wallahu A’lam bis Shawab.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here