Hukum Puasa Bagi Pekerja Berat

1
2410

BincangSyariah.Com – Pada dasarnya tidak ada nash Alquran dan hadis Nabi Saw yang menjelaskan secara khusus mengenai hukum puasa bagi pekerja berat, seperti kuli bangunan, buruh tani atau pemain sepak bola prosfesional. Di dalam Alquran, Allah hanya memberi keringanan boleh tidak berpuasa bagi orang sakit, musafir dan orang tidak mampu.

Meski demikian, ketika ada suatu masalah yang tidak disebutkan dalam Alquran dan hadis Nabi Saw secara khusus, para ulama menganalogikan dengan masalah yang sudah disebutkan dalam Alquran dan hadis Nabi Saw. Dalam Mazhab Syafii, hal ini disebut dengan qiyas. Melalui qiyas ini, imam al-Nawawi dalam kitabnya Nihataz Zain, menganalogikan hukum puasa pekerja keras dengan orang sakit.

فللمريض ثلاثة أحوال إن توهم ضررا يبيح التيمم كره له الصوم وجاز له الفطر وإن تحقق الضرر المذكور أو غلب على ظنه أو انتهى به العذر إلى الهلاك أو ذهاب منفعة عضو حرم الصوم ووجب الفطر وإن كان المرض خفيفا بحيث لا يتوهم فيه ضررا يبيح التيمم حرم الفطر ووجب الصوم ما لم يخف الزيادة وكالمريض الحصادون والملاحون والفعلة ونحوهم

“Ada tiga keadaan orang sakit. Pertama, ketika penyakit diprediksi kritis sehingga membolehkan tayammum, maka penderita makruh untuk berpuasa. Ia diperbolehkan tidak berpuasa. Kedua, jika penyakit kritis itu benar-benar terjadi, atau kuat diduga kritis, atau kondisi kritisnya dapat menyebabkannya kehilangan nyawa atau menyebabkan disfungsi salah satu organ tubuhnya, maka penderita haram berpuasa. Ia wajib membatalkan puasanya. Ketiga, kalau sakit ringan yang sekiranya tidak sampai keadaan kritis yang membolehkan tayammum, penderita haram membatalkan puasanya dan tentu wajib berpuasa sejauh ia tidak khawatir penyakitnya bertambah parah. Sama status hukumnya dengan penderita sakit adalah buruh tani, petani tambak garam, buruh kasar, dan orang-orang dengan profesi seperti mereka.”

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Para Nabi pun Cemburu

Dalam kitab I’anatut Thalibin, Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Syatha’ mencantumkan fatwa imam Adzra’i tentang kewajiban niat puasa pada malam hari bulan Ramadhan bagi pekerja berat.

وأفتى الأذرعي بأنه يلزم الحصادين – أي ونحوهم – تبييت النية كل ليلة، ثم من لحقه منهم مشقة شديدة – أفطر، وإلا فلا.

“Imam al-Adzhra’i berfatwa bahwa wajib bagi para petani dan sesamanya, yaitu para pekerja berat untuk melaksanakan niat di setiap malam, kemudian bila di siang hari saat berpuasa mengalami kesulitan yang berat, boleh tidak puasa. Namun apabila tidak mengalami kesulitan, maka wajib puasa.”

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pekerja berat boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut;

Pertama, niat puasa di setiap malam bulan Ramadhan. Pekerja berat harus niat berpuasa terlebih dahulu di malam hari. Juga sangat dianjurkan untuk makan sahur agar mendapatkan kekuatan di siang hari.

Kedua, sebagaimana orang sakit, pekerja berat tidak boleh berbuka pada saat bekerja di siang hari kecuali dia mengalami kesulitan seperti lemas sehingga tidak kuat bekerja, sangat kelaparan dan kehausan, sangat letih dan lain sebagainya. Apabila masih kuat untuk melanjutkan puasa dan tidak khawatir akan terjadi kesulitan atau bahaya, maka tidak boleh berbuka dan membatalkan puasa.

Ketiga, wajib mengganti puasa yang ditinggalkan di hari lain apabila tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena mengalami kesulitan akibat bekerja berat.
Dengan demikian, apabila para pekerja berat mengalami kesulitan yang dapat mengancam dirinya, maka boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan dengan kewajiban mengganti di hari yang lain, sebagaimana orang sakit.

Wallahu’alam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here