Hukum Puasa bagi Musafir

0
3061

BincangSyariah.Com – Salah satu orang yang berhak mendapatkan dispensasi tidak puasa ketika Ramadan adalah musafir atau orang yang sedang bepergian. Hal ini telah disebutkan di dalam Alquran surah Al Baqarah ayat 184: “Siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

Dispensasi ini diberikan kepada musafir karena pada umumnya setiap musafir itu akan merasakan kesulitan selama berada di dalam perjalanan, bahkan disebutkan bahwa perjalanan itu serpihan dari azab. Lalu, bagaimana hukum puasa bagi musafir, terlebih zaman sekarang teknologi telah canggih, sehingga musafir tidak akan merasakan masyaqqah atau kesulitan selama perjalanannya?

Hukum puasa bagi musafir itu beragam. Pertama, hukumnya haram jika jika ia menduga akan terjadi kerusakan pada dirinya, anggota tubuhnya atau fungsi (dari tubuhnya) disebabkan puasa atau sebenarnya tidak membahayakan untuk sekarang, tetapi membahayakan untuk masa yang akan datang.

Jadi, pada kondisi seperti ini ia diwajibkan berbuka/tidak berpuasa. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh imam al Bajuri di dalam kitabnya:

بل ان غلب على ظنه تلف نفس أو عضو أو منفعة بسبب الصوم حرم عليه كما قاله الغزالي في المستصفى ولو لم يتضرر في الحال بالصوم لكن يخشى منه الضرر في المستقبل فالفطر افضل كما نقله الرافعي عن التتمة وأقره.

Bahkan bila seseorang menduga kuat akan meninggal, rusaknya anggota tubuh, dan fungsinya sebab puasa, maka haram baginya berpuasa sebagaimana al-Ghazali berpendapat dalam al-Mustashfa. Jika ia tidak merasa berbahaya pada saat berpuasa, namun dikhawatirkan terjadi bahaya di waktu mendatang, maka berbuka puasa itu lebih baik baginya, sebagaimana al-Rafi‘i menukil dari kitab at-Tatimmah, dan ia membenarkan pendapat tersebut.  

Kedua, makruh berpuasa bagi orang yang sudah memenuhi syarat diperbolehkannya tidak berpuasa bagi musafir. Yakni perjalanannya yang ditempuh adalah perjalanan yang diperbolehkan qasar salat, perjalanan yang mubah, bukan perjalanan untuk melakukan kemaksiatan, perjalanan yang dilakukan adalah pada malam hari sebelum terbit fajar Subuh dan melewati batas desa sebelum fajar Subuh tiba.

Baca Juga :  Lebih Utama Mana Antara Berpuasa Ramadan Atau Berbuka bagi Musafir?

Jadi, pada kondisi seperti ini, bagi musafir disunnahkan berbuka puasa. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Bakar al Ahdali dalam kitab nadzam qawaid fiqhiyyahnya yang berjudul al Faraid al Bahiyyah

وَاجِبَةٌ كَالْأَكْلِ لِلْمُضْطَرِّ# وَسُنَّةٌ كَالْقَصْرِ ثُمَّ الْفِطْرِ

بِشَرْطِهِ وَيُبَاحُ كَالسَّلَمِ # وَمَا يَكُوْنُ تَرْكُهُ هُوَ الْأَتَمُّ

Ketiga, wajib berpuasa bagi musafir yang tidak memenuhi syarat diperbolehkannya tidak berpuasa. Yakni musafir yang menempuh perjalanan yang belum diperbolehkan mengqasar salat (kurang dari 81 Km), perjalanannya untuk melakukan kemaksiatan, perjalanan yang dilakukan setelah fajar Subuh dan musafir itu telah menetap di suatu tempat.

Keempat, berpuasa lebih utama daripada berbuka bagi musafir yang sudah memenuhi syarat dan ia tidak merasa berat/kesulitan, bahkan ia kuat dan tidak ada bahaya yang ditimbulkan. Bahkan inilah yang dipilih oleh jumhur ulama’ (mayoritas ulama) sebagaimana yang diterangkan oleh Hasan Sulaiman anNuri di dalam kitab Ibanatul Ahkam.

Pendapat itu berbeda dengan Imam Ahmad yang mengatakan lebih utama berbuka daripada berpuasa meskipun ia kuat, berdasarkan hadis “Tidak ada kebaikan berpuasa di dalam perjalanan.”(HR. Albukhari dan Muslim).

Hal ini juga sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Ibrahim alBajuri di dalam kitabnya (قوله والمسافر) لكن الصوم أفضل له ان لم يتضرر به  “dan orang musafir, tetapi puasa lebih utama baginya jika tidak membahayakan.”

Demikianlah hukum berpuasa bagi musafir, yakni jika dengan berpuasa dapat menimbulkan bahaya pada dirinya, maka puasa haram baginya. Dan jika ia belum memenuhi persyaratan diperbolehkannya tidak berpuasa bagi musafir, maka ia wajib berpuasa.

Namun, jika ia sudah memenuhi syarat, maka makruh baginya berpuasa, yakni sunnah untuk berbuka. Adapun jika ia sudah memenuhi syarat diperbolehkannya tidak berpuasa dan ia masih tetap kuat untuk menjalankan puasa serta tidak ada bahaya baginya, maka berpuasa lebih utama untuk dikerjakan.

Baca Juga :  Tidak Berpuasa Karena Takut Imun Menurun, Bolehkah?

Terlebih lagi perjalanan sebagaimana kondisi saat ini sudah terasa lebih ringan dan tidak melelahkan, karena terdapat pesawat terbang dan alat transportasi yang cepat sampai tujuan, meskipun perjalanan yang ditempuh sangatlah jauh.

Hal ini, sebagaimana ayat Alquran surah 184 menjelaskan “Dan puasamu itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” Wa Allahu A’lam bis Shawab.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here