Hukum Penyandang Disabilitas Rungu Menjadi Saksi Nikah

1
515

BincangSyariah.Com – Di antara syarat sah nikah adalah kehadiran dua saksi pada saat akad nikah dilangsungkan. Akad nikah dihukumi tidak sah tanpa kehadiran dua saksi. Pada umumnya, orang yang menjadi saksi nikah adalah orang yang bisa bicara dengan normal. Jarang kita jumpai penyandang disabilitas rungu atau orang bisu menjadi saksi nikah. Sebenarnya, bagaimana hukum penyandang disabilitas rungu menjadi saksi nikah, apakah boleh?

Kebanyakan para ulama dari kalangan Hanafiyah, Syafiiyah dan Hanabilah mengatakan bahwa di antara salah satu syarat menjadi saksi nikah adalah bisa bicara dengan normal. Oleh karena itu, seseorang yang menyandang disabilitas rungu tidak boleh menjadi saksi nikah. Jika dia menjadi saksi nikah, maka nikahnya dinilai tidak sah. Hal ini karena penyandang disabilitas rungu tidak dapat memberikan persaksian.

Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah berikut;

اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي اشْتِرَاطِ النُّطْقِ فِي شَاهِدَيِ النِّكَاحِ.فَيَرَى الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَالشَّافِعِيَّةُ فِي الأْصَحِّ أَنَّهُ يُشْتَرَطُ فِي شَاهِدَيِ النِّكَاحِ أَنْ يَكُونَا نَاطِقَيْنِ، فَلاَ يَنْعَقِدُ النِّكَاحُ عِنْدَهُمْ بِشَاهِدَيْنِ أَخْرَسَيْنِ، أَوْ بِشَاهِدَيْنِ أَحَدُهُمَا كَذَلِكَ، لأِنَّ الأْخْرَسَ لاَ يَتَمَكَّنُ مِنْ أَدَاءِ الشَّهَادَةِ

“Para ulama fiqih berbeda pendapat tekait syarat bisa bicara dalam dua saksi nikah. Menurut pendapat yang paling shahih dari kalangan ulama Hanafiyah, Hanabilah dan Syafiiyah, bahwa dua orang yang menjadi saksi nikah disyaratkan harus bisa bicara. Karena itu, menurut mereka akad nikah tidak sah dengan dua saksi yang keduanya bisu, begitu juga tidak sah dengan dua saksi yang salah satunya bisu. Hal ini karena orang bisu tidak mungkin memberikan persaksian.”

Adapun menurut ulama Malikiyah dan sebagian pendapat ulama Syafiiyah, persaksian orang bisu diterima. Karena itu, ia boleh menjadi saksi nikah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah berikut;

Baca Juga :  Benarkah Orang Buta Lebih Utama Menjadi Imam Karena Tidak Pernah Melihat Maksiat?

وَعِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَمُقَابِل الأْصَحِّ عَنِ الشَّافِعِيَّةِ تُقْبَل شَهَادَتُهُ

“Adapun menurut ulama Malikiyah dan pendapat muqabil ashah dari kalangan ulam Syafiiyah, persaksian penyandang disabilitas rungu diterima.”

1 KOMENTAR

  1. […] Di antara akad yang dianjurkan untuk mendatangkan saksi adalah hibah. Ketika seseorang hendak menghibahkan harta atau bendanya kepada pihak lain, baik itu anaknya sendiri, kerabat, dan orang lain, maka dia dianjurkan untuk mendatangkan saksi atau minta disaksikan oleh pihak lain. (Baca: Hukum Penyandang Disabilitas Rungu Menjadi Saksi Nikah) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here