Hukum Mengubur Korban Bencana Alam Secara Massal

1
2727

BincangSyariah.com – Pemerintah memutuskan melakukan penguburan massal beberapa korban yang sudah teridentifikasi namun tidak diketahui anggota keluarganya. Jumlah korban akibat bencana tsunami di Palu dan Donggala masih terus bertambah. Berita terbaru yang dilansir Kompas mencatat bahwa jumlah korban telah mencapai 925 orang. Ini belum termasuk korban luka-luka yang berjumlah 799 jiwa dan korban hilang yang tercatat berjumlah 99 jiwa dan korban tertimbun 152 orang. Data ini kemungkinan akan terus bertambah karena ada sekian korban yang masih tertimbun seperti di daerah Petobo yang desa-desa disana tertimbun tanah karena mengalami Likuifikasi (tanah yang mencair seperti lumpur). Jumlah korban yang pertama kali dikuburkan secara masal adalah 18 orang. Kuburan yang disediakan direncanakan akan diperuntukkan untuk memuat 1000 korban.

Terkait dengan penguburan secara masal tersebut. Sebenarnya bisa kita golongkan kondisinya ke dalam kondisi bencana. Artinya kondisinya tidak normal seperti biasa sehingga masuk kedalam keadaan darurat.

Dalil Kebolehan Penguburan Massal

Kondisi tidak memungkinkannya menguburkan mayit dengan satu mayit di tiap liang lahat pernah juga dialami Nabi Saw. dan sahabatnya. Peristiwa tersebut terjadi ketika perang Uhud, seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalur Jabir bin ‘Abdillah Ra.,

 كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ يَقُولُ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْءانِ فَإِذَا أُشِيرَلَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ وَقَالَ أَنَا شَهِيدٌ عَلَى هَؤُلاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ وَلَمْ يُغَسَّلُوا وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ

“Nabi Saw. pernah mengumpulkan dua laki-laki dari korban perang uhud dengan satu pakaian (kafan). Kemudian Nabi Saw. bertanya, “yang mana yang paling banyak bacaan Alquran-nya ?” Ketika sudah diisyaratkan kepada Nabi Saw, Nabi Saw. mendahulukan memasukkan yang paling banyak bacaan Alquran ke dalam lahat. Kemudian, beliau bersabda, “Aku adalah saksi bagi mereka di hari kiamat !”. Kemudian Nabi memerintahkan untuk mengubur mereka dengan kondisi masih berlumur darah, tidak dimandikan, dan tidak dishalati. 

            Dalam riwayat al-Nasa’i dari Hisyam bin ‘Amir dikisahkan kisah lengkap Nabi Saw. membolehkan menguburkan dua, tiga atau lebih mayit dalam satu liang lahat,

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Apakah Kita Ini Orang Penting

شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ ، فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ الْحَفْرُ عَلَيْنَا لِكُلِّ إِنْسَانٍ شَدِيدٌ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : احْفِرُوا وَأَعْمِقُوا وَأَحْسِنُوا وَادْفِنُوا الاثْنَيْنِ وَالثَّلاثَةَ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ . قَالُوا : فَمَنْ نُقَدِّمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : قَدِّمُوا أَكْثَرَهُمْ قُرْءانًا قَالَ فَكَانَ أَبِي ثَالِثَ ثَلاثَةٍ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ.

Kami mengadu kepada Rasulullah Saw pada hari Uhud. Kami lalu berkata: “Ya Rasulallah, penguburan untuk satu tiap orang itu sulit sekali bagi kami !” Rasulullah Saw. bersabda: “Galilah liang kubur, gali lebih dalam, dan buatlah pantas (untuk menguburkan lebih dari satu orang), dan kuburkanlah dua atau tiga orang di dalam satu lahat !” Kami lalu berkata: “Yang mana dulu yang dikuburkan ya Rasul ?” Nabi Saw. bersabda: “dahulukan yang paling banyak bacaan Alquran-nya !” Waktu itu, ayahku (ayah dari Hisyam bin ‘Amir) adalah orang ketiga dari tiga orang yang dikuburkan tersebut.

Dibolehkan Penguburan Massal Karena Darurat

Dari kedua hadis tersebut, para ulama seperti dari mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali mengatakan bahwa menguburkan dua jenazah di satu liang lahat diperbolehkan jika kondisinya sangat darurat dan tidak memungkinkan menguburkan satu orang dengan satu liang lahat. Dalam kondisi normal, dalam mazhab Syafi’I dilarang secara bersamaan menguburkan dua jenazah di satu lahat meskiput kedua jenazah tersebut muhrim, seperti ibu dengan anak.

Al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab memberikan indikator kedaruratan tersebut,

أما إذا حصلت ضرورة بأن كثر القتلى أو الموتى في وباء أو هدم وغرق أو غير ذلك ، وعسر دفن كل واحد في قبر فيجوز دفن الاثنين والثلاثة ، وأكثر ، في قبر ، بحسب الضرورة

Adapun ketika terjadi (bencana yang) sangat darurat, seperti banyaknya korban terbunuh ataupun mati akibat wabah, tenggelam, tertimpa reruntuhan, atau sejenisnya. Dan sulit untuk menguburkan satu lahat tiap satu jenazah, maka boleh menguburkan dua atau tiga orang atau lebih dalam satu kuburan dikarenakan darurat.”

Beberapa argumen diatas nampaknya dapat meyakinkan kita bahwa pada prinsipnya, kondisi darurat membolehkan untuk tidak melakukan sesuai dengan kondisi normal. Mengutip laman berita DW, beberapa jenazah yang sudah dikuburkan secara masal di Palu, diakibatkan karena jenazah sudah sampai tiga hari belum dikuburkan. Jika ada keluarga yang mengenal, maka jenazah bisa segera diambil. Jenazah yang dikuburkan masal karena tidak dapat diidentifikasi identitasnya. Karena polisi tidak bisa lagi mengambil sidik jarinya akibat sudah lama menjadi mayat.

Baca Juga :  Kuburan Akan Bertanya Enam Hal Ini pada Orang yang Baru Meninggal, Kok Bisa?

Polisi atau pihak yang mengurusi bencana juga tidak bisa melakukan penguburan satu per satu karena kondisi yang tidak memungkinkan dan mengharuskan mereka tidak larut hanya di satu pekerjaan. Ini sudah sama dengan pernyataan sahabat Nabi Saw. yang mengatakan tidak mungkin menguburkan jenazah perang Uhud satu per satu. Meskipun kalau mau, tentu sesuai dengan syariat.

Dalam pengamatan penulis, jenazah yang dikuburkan juga tidak dicampur, dimana setiap jenazah dimasukkan kedalam kantong khusus dan diletakan sejajar. Sehingga, tidak ada unsur syariat yang dilanggar menurut kami. Wallahu A’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here