Hukum Pengobatan dengan Cara Memindah Penyakit ke Binatang

4
1802

BincangSyariah.Com- Islam begitu memperhatikan kepada umatnya sehingga memberikan anjuran berobat dari penyakit yang diderita bahkan mewajibkan bagi mereka para penderita penyakit berbahaya yang bisa menghilangkan nyawa atau membahayakan tubuh. Nabi bersabda:

إِنَّ اللهَ لَمْ يُنَزِّلْ دَاءً اِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Sesungguhnya alloh tidak menurunkan penyakit melainkan telah benurunkan obat baginya“(H.R.Bukhori).

تَدَاوُوْا فَاِنَّ اللهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ الْهَرَمِ

“Berobatlah kalian semua Karena sesungguhnya alloh tidak meletakan penyakit melainkan telah menyiapkan obat kecuali pikun “(HR Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasai, dan Ibnu Majah).

Berbagai cara dilalui demi kesembuhan, dengan berbagai pengorbanan melalui medis maupun alternatif. Muncul satu pengobatan alternatif yang nampaknya sangat diminati masyarakat yaitu memindah penyakit yang diderita pasien kepada hewan. Alternatif demikian lebih diminati masyarakat sebab berbagai faktor diantaranya biaya yang lebih hemat, serta cara yang lebih simple. Pasien cukup menyiapkan ayam atau binatang lainya kemudian penyakit yang dideritanya dipindah ke hewan tersebut. (Hukum Berobat dari Penyakit)

Pengobaan alternatif dengan memindah penyakit pasiaen ke tubuh binatang memiliki beberapa hal yang harus diperhatikan:

Pertama, memiliki nilai menyakiti kepada binatang. Rasa sakit yang diderita pasien pastinya akan dirasakan oleh binatang yang menerima transfer penyakit bahkan bisa berakibat kematian pada binatang tersebut. Namun, ta‘dzib atau menyakiti binatang sebab ada kebutuhan mendesak diperbolehkan dalam fikih. Hal ini sebagaimana keterangan dalam kitab Hasyiyah al-Bujairemi ‘ala al-Khatib (juz 3 vol.284):

وَإِنْ كَانَ فِيْ تَشْدِيْخِهَا تَعْذِيْبٌ لَهَا جُوِّزَ لِلْحَاجَةِ

“Apabila dalam melukai binatang menyakitkannya maka diperbolehkan karena kebutuhan mendesak“

Kedua, berpotensi kematian pada binatang. Diriwayatkan dari ‘Abdillah bin Amr, nabi bersabda:

مَنْ قَتَلَ عُصْفُورًا بِغَيْرِ حَقِّهِ سَأَلَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَنْهُ

“Barang siapa membunuh burung ‘ushfur tanpa haknya maka Allah akan meminta pertanggung jawabanya kelak di hari akhir”

Zainudin Muhammad al-Munawi seorang ahli hadis dalam karyanya Faidlu al-Qodir (juz 6 vol.250) menjelaskan maksud larangan membunuh binatang dalam hadis di atas sebagai berikut:

 من قتل عصفورا- إلى أن قال – لَا لِأَكْلٍ أَوْ حَاجَةٍ – إلى أن قال – وَحَقُّهَا عِبَارَةٌ عَنِ الْاِنْتِفَاعِ بِهَا

“Maksud hadis d iatas adalah larangan membunuh bukan karena untuk dimakan atau ada keperluan (hajat), haknya binatang adalah dimanfaatkan”.  

Ketiga, kematian pada binatang akibat penyakit yang dipindahkan ke tubuh binatang tersebut termasuk kategori merusak harta. Namun, perusakan harta demi menyelamatkan jiwa manusia dilegalkan dalam fikih.

Dalam prinsip syariat (maqashid al-syari‘ah) terdapat lima hal yang perlu dijaga, yaitu hifdu al-din (menjaga agama), hifdu al-nafsi (melindungi nyawa), hifdu ‘aqli (melindungi akal), hifdu al-nasli (melindungi keturunan), hifdu al-mali (melindungi harta). Menjaga diri atau nyawa (termasuk kesehatan) harus didahulukan daripada menjaga harta. Dalam kitab Dlowabitu al-Mashlahah dijelaskan:

أَمَّا إِذَا كَانَتْ الْمَصْلَحَتَانِ الْمُتَعَارِضَتَانِ فِيْ رُتْبَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا لَوْ كَانَ كِلَاهُمَا مِنَ الضَّرُوْرِيّاتِ أَوِ الْحَاجِيَّاتِ أَوِ التَّحْسِيْنِيَّاتِ فَيُنْظَرُ – إلى أن قال – فَيُقَدَّمُ الضَّرُوْرِيُّ الْمُتَعَلَّقُ بِحِفْظِ الدِّيْنِ عَلَى الضَّرُوْرِيِّ الْمُتَعَلَّقِ بِحِفْظِ النَّفْسِ

“Ketika dua nilai maslahat berada dalam satu derajat seperti andaikan keduanya sama-sama dalam derajat darurat, hajat atau sekundre (tahsiniyah) maka diperhatikan: daarurat (begitupula hajat atau tahsiniyah) yang berhubungan dengan hifdu al-din diprioritaskan daripada hifdu al-nafsi dan seterusnya.”

Demikian memberikan kesimpulan bahwa alternatif pengobatan dengan cara memindah penyakit pasien ke tubuh binatang dapat dilegalkan syariat. Dengan syarat memang penyakitnya tersebut mematikan dan memungkinkan sembuh diobati dengan cara di atas. Semoga kesembuhan dan kesehatan selalu menyertai kita dalam lindungan-Nya.

Wallahu A’lam.

100%

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here