Hukum Memarkir Kendaraan di Pinggir Jalan Umum, Boleh atau Haram?

0
1241

BincangSyariah.Com – Di banyak tempat di Indonesia, banyak kita jumpai beberapa warga dan masyarakat yang memarkir kendaraannya di pinggir jalan umum, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Terkadang hal ini sampai membuat sebagian pengendara lain terganggu, bahkan membuat macet. Sebenarnya, bagaimana hukum memarkir kendaraan di pinggir jalan, boleh atau haram?

Dalam masalah ini, para ulama telah menjelaskan terkait hukum memarkir kendaraan di pinggir jalan. Menurut beliau, memarkir kendaraan di pinggir jalan, baik kendaraan roda dua maupun roda empat, hukumnya boleh bila memenuhi dua syarat. Dua syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut;

Pertama, ada jaminan keselamatan dan tidak mengganggu lalu lintas pada pengendara lain. Jika dikhawatirkan akan mencelakai orang lain, atau mengganggu lalu lintas pengendara lain, maka memarkir di pinggir jalan hukumnya tidak boleh. Hal ini karena dalam Islam, mengganggu orang lain, meskipun dalam lalu lintas, hukumnya tidak diperbolehkan. (Doa Saat Memiliki Kendaraan Baru Agar Berkah)

Kedua, ada izin dari pihak yang berwenang, seperti dari hakim atau polisi. Jika pihak berwenang tidak mengizinkan untuk memarkir kendaraan di pinggir jalan, maka hukumnya tidak boleh. Hal ini karena dalam Islam, mematuhi peraturan pemerintah termasuk bagian dari perintah agama.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

وَلَهُ إِيْقَافُ الدَّوَابِ أَوْ السَّيَّارَاتِ أَوْ إِنْشَاءِ مَرْكَزٍ لِلْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ. وَلَا يُتَقَيَّدُ إِلَّا بِشَرْطَيْنِ اَلْأَوَّلُ: السَّلَامَةُ، وَعَدَمُ الْإِضْرَارِ بِالْآخَرِيْنَ، إِذْ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ.الثَّانِيْ: اَلْإِذْنُ فِيْهِ مِنَ الْحَاكِمِ.

Boleh bagi seseorang memarkir kendaraan atau mobil atau membuat stand (kaki lima) di jalan dengan dua syarat. Pertama, ada jaminan keselamatan dan tidak membahayakan orang lain. Karena (dalam Islam) tidak boleh membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain. Kedua, mendapatkan izin dari hakim (pihak berwenang).

Baca Juga :  Apakah Semuanya Wajib Menyampaikan Apa yang Didengarnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here