Hukum Non-Muslim Masuk Masjid

0
1407

BincangSyariah.Com – Saat ini sudah lumrah kita dijumpai seorang tokoh dari kalangan umat Muslim yang ceramah di gereja atau tempat ibadah agama lain. Begitu juga sebaliknya, tokoh agama lain berceramah di dalam masjid dan dihadiri oleh kaum Muslim. Dalam Islam, bagaimana hukum non-Muslim masuk masjid dan berceramah di dalamnya?

Disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, bahwa para ulama berbeda pendapat terkait kebolehan non-Muslim masuk ke dalam masjid.

Pertama, ulama Syafiiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa selain Masjidil Haram, non-Muslim diperbolehkan masuk masjid selama disetujui dan mendapat izin dari kaum Muslimin setempat. Adapun jika masuk ke dalam Masjidil Haram, maka hukumnya haram dan harus dicegah.

Kedua, ulama Hanafiyah membolehkan non-Muslim masuk masjid, baik Masjidil Haram atau masjid lainnya. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw. menerima utusan bani tsaqif di dalam masjid padahal mereka pada saat itu masih belum masuk Islam. Ini menunjukkan bahwa non-Muslim boleh masuk masjid tanpa kecuali, baik di Masjidil Haram atau lainnya.

Ketiga, ulama Malikiyah mengatakan bahwa non-Muslim hukumnya makruh masuk masjid, baik Masjidil Haram atau masjid lainnya, baik mendapat persetujuan dari kaum Muslim atau tidak kecuali karena darurat. Misalnya, seperti memperbaiki bangunan masjid yang tidak bisa dilakukan oleh kaum Muslim.

Penjelasan terkait hukum non-Muslim masuk masjid ini juga telah disebutkan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Beliau berkata sebagai berikut;

وقال المالكية; يمنع دخول الكافر المسجد وإن أذن له مسلم إلا لضرورة عمل، ومنها قلة أجرته عن المسلم في عمل ما، وإتقانه العمل على الظاهر. وأجاز أبو حنيفة لكافر دخول كل مسجد. ويجوز عند الشافعية للكافر دخول المسجد غير المسجد الحرام وحرم مكة، وله أن يبيت فيه، ولو كان جنباً في الأصح، ولكن بإذن المسلمين.

Baca Juga :  Mengenal Tafsir "al-Durr al-Mantsur" karya Imam Al-Suyuthi

“Ulama Malikiyah berkata, ‘Non-Muslim harus dicegah masuk masjid meskipun mendapat izin dari orang Muslim kecuali karena darurat pekerjaan, di antaranya karena ongkos kerjanya dibanding orang Muslim dan lebih profesional dalam bekerja. Abu Hanifah menyatakan bahwa non-Muslim boleh masuk semua masjid. Ulama Syafiiyah juga membolehkan non-Muslim masuk masjid kecuali memasuki Masjidil Haram dan tanah haram Mekah. Boleh bagi non-Muslim menginap di dalam masjid meskipun dalam keadaan junub menurut pendapat yang paling sahih selama mendapat persetujuan dari kaum Muslim.”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here