Hukum Muadzin Menjawab Adzannya Sendiri

0
13

BincangSyariah.Com – Bagaimana jika ada muadzin menjawab adzannya sendiri, apakah dia dianjurkan untuk menjawab kalimat-kalimat adzannya sendiri saat mengumandangkan adzan?

Ketika kita mendengar adzan berkumandang, maka kita dianjurkan untuk menjawabnya sesuai kalimat adzan yang diucapkan oleh muadzin.

Menurut ulama Syafiiyah dan Hanabilah, anjuran menjawab adzan tidak hanya berlaku bagi orang yang mendengarkan adzan, namun juga berlaku bagi muadzin itu sendiri.

Karena itu, disunnahkan bagi muadzin untuk menjawab kalimat-kalimat adzan yang diucapkannya sendiri dengan suara pelan. Bagaimana hukum muadzin yang menjawab adzannya sendiri?

Misalnya, jika muadzin mengucapkan kalimat ‘allahu akbar, allahu akbar’, maka setelah itu dia disunnahkan untuk menjawabnya dengan suara pelan. Dan begitu seterusnya dengan kalimat-kalimat adzan yang lain.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

يَرَى الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ أَنَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمُؤَذِّنِ بَعْدَ الأْذَانِ سُنَّةٌ، وَعِنْدَهُمْ يُسَنُّ لِلْمُؤَذِّنِ مُتَابَعَةُ قَوْلِهِ سِرًّا مِثْلَهُ كَالْمُسْتَمِعِ لِيَجْمَعَ بَيْنَ أَدَاءِ الأْذَانِ وَالْمُتَابَعَةِ، وَرُوِيَ عَنِ الإْمَامِ أَحْمَدَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَذَّنَ فَقَال كَلِمَةً مِنَ الأْذَانِ قَال مِثْلَهَا سِرًّا؛ لِيَكُونَ مَا يُظْهِرُهُ أَذَانًا وَدُعَاءً إِلَى الصَّلاَةِ، وَمَا يُسِرُّهُ ذِكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى فَيَكُونُ بِمَنْزِلَةِ مَنْ سَمِعَ الأْذَانَ بِذَلِكَ يُمْكِنُ أَنْ يَشْمَل الْمُؤَذِّنَ الأْمْرُ الْوَارِدُ فِي قَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ulama Syafiiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa membaca shalawat atas Nabi Saw bagi muadzin setelah adzan hukumnya adalah sunnah. Menurut mereka, disunnahkan juga bagi muadzin mengikuti (menjawab) kalimat adzan sendiri dengan suara pelan, sama seperti orang yang mendengarkan adzan. Ini agar dia bisa mendapatkan dua kebaikan, yaitu mengumandangkan adzan dan menjawab adzan.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa jika beliau adzan dan mengucapkan kalimat adzan, maka beliau menjawabnya dengan suara pelan. Ini agar kalimat adzan yang diucapkan dengan suara keras menjadi adzan dan panggilan shalat, sementara yang diucapkan dengan suara pelan menjadi zikir kepada Allah sehingga dia sama kedudukannya dengan orang yang mendengarkan adzan.

Dengan begitu, maka perintah Nabi Saw (untuk menjawab adzan) juga berlaku bagi muadzin. Hukum muadzin menjawab adzannya sendiri adalah sunnah.

(Baca: Hukum Niat Sebelum Mengumandangkan Adzan)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here