Hukum Meyakini Larangan Menikah di Bulan Muharam

2
1642

BincangSyariah.Com – Anda yang orang Jawa, pastinya tidak asing dengan kepercayaan yang beredar tentang keramatnya bulan Muharam atau orang Jawa biasa menyebutnya bulan Suro. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya ritual-ritual khusus yang dilakukan di bulan Suro, seperti memandikan keris dan benda-benda pusaka lainnya, Larung Sesaji: sedekah alam yang mereka tujukan untuk menolak musibah, dan berbagai ritual adat lainnya.

Dalam keyakinan masyarakat Jawa, bulan Suro adalah bulan renungan, bulan untuk introspeksi, mengingat kembali status manusia sebagai hamba. Maka, tidak baik untuk melakukan perayaan suka cita di bulan ini, seperti melangsungkan pernikahan, sunatan, dan sebagainya. Beredar keyakinan pada masyarakat Jawa bahwa melangsungkan pernikahan di bulan Suro sama saja mengundang bencana.

Ada yang mengaitkan kepercayaan ini dengan mitos dewa-dewa. Hal ini sering menjadi dilema bagi masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam, antara melestarikan warisan nenek moyang atau mempertahankan akidah. Tapi, benarkah dengan melestarikan warisan nenek moyang berarti menggadaikan akidah Islam kita? Pandangan Islam mengenai budaya secara umum sudah pernah penulis samapaikan, silakan kunjungi Islam Agama yang Akomodatif dengan Budaya 

Dalam literatur Islam, terdapat sebuah konsep mengenai sebab-akibat. Sebab dibagi menjadi tiga: sebab yang bersifat syar‘i, sebab yang bersifat ‘adiy, dan sebab yag bersifat ‘aqliy. Kita fokuskan pembahasan kita pada sebab yang bersifat ‘adiy. Sabab ‘adiy adalah sesuatu yang secara adat/kebiasaan, bisa menimbulkan akibat tertentu. Seperti api bisa menimbulkan benda yang disentuhnya terbakar. Terbakarnya suatu benda pada hakikatnya bukan karena sentuhan api melainkan karena Allah yang membakar benda tersebut bersamaan dengan sentuhan api.

Ada suatu kasus di mana api tidak bisa membakar apa yang disentuhnya, yaitu ketika Nabi Ibrahim AS dibakar kaumnya, beliau tidak terbakar karena Allah tidak menghendaki. Ini menunjukkan bahwa api tidak mempunyai kekuatan untuk membakar. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada jaminan bahwa suatu benda akan terbakar ketika tersentuh api, namun Allah biasanya menakdirkan suatu benda terbakar ketika benda tersebut tersentuh api. Inilah pengertian sabab ‘adiy.

Kepercayaan masyarakat mengenai nasib buruk jika melangsungkan pernikahan di bulan Suro bisa diklasifikasikan dalam kategori ini. Permasalahan seperti ini pernah dibahas oleh Ibn Ziyad dalam fatwanya yang dibukukan dalam Ghayah Talkhis al-Murad:

مسألة إذا سأل رجل آخر هل ليلة كذا أو يوم كذا يصلح للعقد أو النقلة فلا يحتاج إلى جواب لأن الشارع نهى عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجرا بليغا فلا عبرة بمن يفعله وذكر ابن الفركاح عن الشافعى أنه إن كان المنجم يقول ويعتقد أنه لا يؤثر إلا الله ولكن أجرى الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا والمؤثر هو الله عز وجل فهذا عندى لا بأس فيه

Baca Juga :  Ingin Melamar Pasangan, Perhatikan Dua Hal Ini

Jika ada seseorang menanyakan “Apakah malam ini/itu atau hari ini/itu bagus untuk melangsungkan akad, atau pindah rumah?” maka tidak perlu diberi jawaban. Karena Allah sangat melarang keyakinan seperti itu, tidak perlu menghiraukan orang yang mempercayainya. Syaikh Ibn al-Farkah menuturkan dari Imam Al-Syafi’i bahwa beliau berpendapat jika seorang ahli nujum berkata dan berkeyakinan bahwa tidak ada yang bisa membuat takdir selain Allah namun biasanya Allah mentakdirkan hal ini/itu terjadi jika seperti ini/itu, maka menurut saya hal ini tidak dilarang

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa keperecayaan masyarakat Jawa mengenai nasib naas yang akan menimpa pasangan yang melangsungkan pernikahan di bulan Suro (jika memang benar demikian itu terjadi) tidak boleh diyakini sebagai sebab-akibat yang pasti, namun tidak mengapa jika dipercayai sebagai sebab yang bersifat ‘adiy, dalam arti ‘Biasanya Allah tidak memberi nasib baik pada pasangan yang melangsungkan pernikahan di bulan Suro’. Karena mungkin dia menyaksikan sendiri banyak pasangan suami-istri yang bernasib kurang baik dikarenakan melangsungkan pernikahan di bulan Suro, akan tetapi dia tetap yakin bahwa semua takdir datangnya dari Allah. Wallahu a’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here