Hukum Meyakini Kesaktian Keris

0
972

BincangSyariah.Com – Beberapa waktu yang lalu beredar video sekelompok orang menghancurkan keris yang merupakan salah satu warisan budaya Nusantara. Terlihat puluhan keris dihancurkan dengan cara dipotong-potong. Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa aksi ini dilakukan karena keris dinilai sakti oleh sebagian perkumpulan sehingga menjerumuskan mereka kepada kesyirikan. Benarkah meyakini kesaktian keris termasuk perbuatan syirik kepada Allah Swt?

Dalam pandangan ilmu Tauhid, potensi daya atau kekuatan yang dimiliki  benda-benda seperti kemampuan api untuk menghanguskan, pisau untuk memotong, maupun semacam keris yang memiliki keampuhan tertentu merupakan secuil bukti yang menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Menghendaki. Justru dengan tidak mempercayai bahwa Allah mampu memberikan kekuatan tertentu kepada suatu benda  bisa mengingkari akan sifat qudrat dan iradat Allah. (Baca: Kiai Sholihin Cirebon, Santri Mbah Hasyim yang Bunuh Jenderal Mallaby dengan Dua Jari)

Oleh karena itu, yang seharusnya perlu ditelisik adalah bagaimana keyakinan seseorang terhadap daya kekuatan yang dimiliki oleh suatu benda. Syekh Ibrahim al-Bajuri (wafat tahun 1860 M) dalam kitab Tuhfatul Murid Syarh Jauharah at-Tauhid (halaman 58) memaparkan empat tipe orang saat meyakini daya &  kekuatan suatu benda, yang dalam tulisan ini kita jadikan keris sebagai contohnya.

Pertama, bila orang tersebut meyakini keris memiliki kekuatan & keampuhan tersendiri tanpa peran serta dari Allah, maka orang tersebut berstatus kafir menurut kesepakatan mayoritas ulama, sebagaimana dikatakan oleh Syekh al-Bajuri:

فَمَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ الأَسْبَابَ الْعَادِيَةَ كَالنَّارِ وَالسِّكِّينِ وَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ تُؤَثِّرُ فِيْ مُسَبَّبَاتِهَا كَالْحَرَقِ وَالقَطْعِ وَالشِّبْعِ وَالرَّيِّ بِطَبْعِهَا وَذَاتِهَا فَهُوَ كَافِرٌ بِالإِجْمَاعِ

Orang yang berkeyakinan bahwa segala sesuatu terkait dan tergantung pada sebab dan akibat seperti api menyebabkan membakar, pisau menyebabkan memotong, makanan menyebabkan kenyang, minuman menyebabkan segar dan lain sebagainya dengan sendirinya (tanpa ada peran sama sekali dari Allah), maka orang tersebut dihukumi  kafir dengan kesepakatan para ulama”

Kedua, bila ia meyakini bahwa kekuatan keris tersebut merupakan titipan dari Allah kepada keris tersebut, maka menurut pendapat yang ashah (paling shahih) orang tersebut dihukumi fasik.

Baca Juga :  Hukum Berjabat Tangan dengan Non-Muslim

أَوْ بِقُوَّةٍ خَلَقَهَا اللهُ فِيْهَا فَفِيْ كُفْرِهِ قَوْلَانِ وَالأَصَحُّ أَنَّهُ لَيْسَ بِكَافِرٍ بَلْ فَاسِقٌ مُبْتَدِعٌ

“Atau berkeyakinan terjadi sebab kekuatan (kelebihan) yang diberikan Allah didalamnya menurut pendapat yang paling shahih tidak sampai kufur tapi fasiq dan ahli bidah”

Ketiga, bila ia meyakini bahwa keris tersebut memiliki kekuatan yang pasti dan tetap atas izin dan ketetapan dari Allah, maka orang tersebut dihukumi sebagai orang bodoh saja.

وَمَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ الـمُؤَثِّرَ هُوَ اللهُ لَكِنْ جَعَلَ بَيْنَ الْأَسْبَابَ وَمُسَبَّبَاتِهَا تَلَازُمًا عَقْلِيًّا بِحَيْثُ ﻻَ يَصِحُّ تَخَلُّفُهَا فَهُوَ جَاهِلٌ

“Orang yang berkeyakinan bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh, namun Dia menjadikan hukum sebab-akibat yang pasti dan rasional antara suatu benda dan kemampuannya sehingga tidak mungkin kemampuan benda tersebut berubah, maka orang tersebut jahil alias bodoh”

Keempat, bila ia meyakini bahwa keris tersebut menurut ‘adat (secara umum sehingga tidak terkait hukum sebab-akibat) memiliki kekuatan atas izin dan ketetapan dari Allah, maka keyakinan ini hukumnya boleh dan orang tersebut masih tergolong mukmin.

وَمَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ الـمُؤَثِّرَ هُوَ اللهُ وَجَعَلَ بَيْنَ الْأَسْبَابِ وَالْمُسَبَّبَاتِ تَلَازُمًا عَادِيًا بِحَيْثُ يَصِحُّ تَخَلُّفُهَا فَهُوَ الْمُؤْمِنُ النَّاجِيْ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى

“Orang yang berkeyakinan bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh namun Dia menjadikan keterikatan yang berdasarkan kebiasaan umum antara suatu benda dan kemampuannya sehingga memungkinkan kemampuan tersebut berubah, maka orang tersebut tergolong orang mukmin yang selamat, insya Allah”

Walhasil, sebaiknya kita tidak gampang menghukumi syirik atau kafir terhadap seseorang yang memiliki benda pusaka seperti keris dan sebagainya. Sebab untuk menghukumi hal tersebut kita harus benar-benar tahu persis bagaimana keyakinan mereka sebenarnya terhadap keris tersebut. Apalagi di zaman sekarang banyak orang yang  menyimpan keris bukan untuk praktik perdukunan, namun sekadar koleksi dalam rangka melestarikan warisan budaya Indonesia, terlebih lagi keyakinan itu terdapat dalam hati, dan sulit mengukurnya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here