Hukum Merayakan Peristiwa Isra Mi’raj dalam Islam

3
1636

BincangSyariah.Com – Dalam praktiknya, tidak sedikit masyarakat Muslim Indonesia merayakan (memperingati) peristiwa Isra Mi’raj setiap tanggal 27 Rajab, seperti mengadakan pengajian umum, tahlil, istigasah, dan beberapa acara lain.

Hal ini tentu tidak terlepas dari keberadaan Isra Mi’raj itu sendiri. Sebab, selain sebagai salah satu mukjizat Nabi Muhammad saw., Isra Mi’raj juga merupakan peristiwa agung yang memberikan energi luar bisa kepada kehidupan umat Islam. Mengingat Allah mewajibkan salat lima kali sehari-semalam (Zuhur, Asar, Magrib, Isya, dan Subuh) kepada umat Islam pada malam Isra Mi’raj.

Kelima salat wajib tersebut sejatinya merupakan karunia dan nikmat yang agung dari Allah kepada umat Islam (mengenai kemuliaan dan keagungan salat untuk kehidupan manusia bisa dilihat dalam tulisan penulis tentang salat). Sehingga wajar apabila sebagian masyarakat Muslim Indonesia mengadakan perayaan dalam rangka menyambut peristiwa Isra Mi’raj (selanjutnya disebut perayaan Isra Mi’raj) setiap tahun satu kali.

Oleh karena itu, menarik mendiskusikan perayaan Isra Mi’raj ini dalam kerangka berpikir keislaman. Mengingat ada sebagian kelompok Muslim yang menilai perayaan Isra Mi’raj sebagai bid‘ah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah saw. Sehingga ia tidak boleh (haram) dilakukan.

Sependek pengetahuan penulis memang belum ditemukan secara pasti kapan dan di mana perayaan Isra Mi’raj pertama kali dilaksanakan. Namun, ada indikasi bahwa praktik perayaan Isra Mi’raj dilakukan setelah masa Nabi Muhammad saw. dan para sahabat. Dengan demikian, perayaan Isra Mi’raj merupakan hasil ijtihad ulama tertentu, yang barangkali dalam rangka meramaikan syiar-syiar keislaman sebagai rasa syukur kepada Allah.

Meskipun perayaan Isra Mi’raj tidak pernah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad saw. atau para sahabat, tetapi bukan berarti ia tidak boleh (haram) dilakukan. Menurut penulis, perayaan Isra Mi’raj boleh dilaksanakan dan bahkan termasuk salah satu ibadah kepada Allah. Kebolehan melaksanakan perayaan Isra Mi’raj ini berdasarkan kepada dalil al-Qur’an, yaitu: Wa amma bini‘mati rabbika fa haddits: dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur) (adh-Dhuha (93): 11).

Menurut Imam al-Maragi, kata fa haddits bermakna memanjatkan syukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat. Oleh karena itu, ayat ini menandakan bahwa Allah menghendaki manusia untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah diberikan. Rasa syukur ini diwujudkan dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut sesuai dengan tempatnya dan menunaikan hak-haknya (Tafsir al-Maragi, 1946, XXX: 184-185).

Baca Juga :  Makna Shalat adalah Mi’raj Orang Beriman

Ayat lain adalah: qul bi fadhlillah wa bi rahmatihi fa bidzalika fa al-yafrahu: katakanlah (Muhammad): dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira (Yunus (10): 58). Menurut Imam al-Maragi, kata fadhlillah bermakna pertolongan Allah kepada manusia berupa nasihat dan petunjuk untuk membersihkan jiwa mereka. Sedangkan kata rahmatihi bermakna buah yang memancar dari fadhlillah tersebut yang menyebabkan seseorang lebih utama daripada orang lain  (Tafsir al-Maragi, 1946, XI: 122).

Hal senada juga disebutkan oleh Wahbah az-Zuhaili. Namun demikian, beliau tampaknya lebih cenderung kepada pendapat Hasan, Dhahhak, Mujahid, dan Qatadah bahwa kata fadhlillah adalah iman dan kata rahmatihi adalah al-Qur’an. Oleh karena itu, kebahagiaan yang sejati bagi seorang Muslim adalah iman (Islam) dan al-Qur’an. Dua hal ini adalah lebih baik daripada harta-benda dan jenis-jenis keduniaan lainnya. Sehingga keduanya harus lebih diprioritaskan daripada urusan keduniaan. Sebab, persoalan akhirat jauh lebih baik dan kekal (at-Tafsir al-Munir, 2009, VI: 213 & 215).

Dalam hal ini, penulis meyakini bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu nikmat yang sangat besar dari Allah sampai diabadikan dalam al-Qur’an. Ia tidak hanya khusus kepada Rasulullah saw. semata (sebagai mukjizat dan pertemuan agung antara hamba dan Tuan), tetapi juga berkaitan erat dengan kepentingan seluruh manusia. Sebab, dalam peristiwa agung inilah Allah menganugerahkan salat kepada umat manusia yang harus dilakukan lima kali sehari-semalam. Padahal salat sendiri merupakan nikmat agung untuk membimbing dan mendidik jiwa manusia agar mendapatkan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Oleh karena itu, tidak heran kalau sebagian Muslim Indonesia merayakan peristiwa Isra Mi’raj setahun sekali sebagai rasa syukur kepada Allah. Selain itu, memanjatkan rasa syukur yang paling penting atas peristiwa Isra Mi’raj adalah melaksanakan salat lima kali sehari-semalam secara sungguh-sungguh. Dengan kata lain, sebagian Muslim Indonesia tersebut secara tidak langsung mengamalkan kedua ayat tersebut, baik melaksanakan salat wajib (sebagai rasa syukur harian) maupun merayakan peristiwa Isra Mi’raj (sebagai rasa syukur tahunan).

Baca Juga :  Marah dalam Islam

Apalagi salat bukan urusan dunia murni. Ia adalah petunjuk untuk kebahagiaan manusia dunia dan akhirat. Sehingga sangat wajar dan merupakan suatu keharusan bagi Muslim agar menyambutnya dengan riang gembira. Menyambut anugerah salat dengan riang gembira tidak hanya dicukupkan dengan perayaan peristiwa Isra Mi’raj tahunan semata, tetapi juga harus melaksanakan salat secara benar dan sungguh-sungguh. Sehingga cahayanya benar-benar memancar dan menerangi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Dengan demikian, penulis lebih setuju kepada pendapat bahwa kata fadhlillah dan rahmatihi tidak hanya terbatas kepada Islam dan al-Qur’an semata, tetapi meliputi semua anugerah dan rahmat Allah yang memang ditujukan untuk kebahagiaan hidup umat manusia di dunia dan akhirat, seperti salat, puasa, haji, zakat, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, kita menyambut dan melakukan beberapa hal (kewajiban) tersebut secara riang-gembira. Bukan sebaliknya, yaitu tertekan karena adanya beberapa kewajiban yang sejatinya merupakan anugerah dan rahmat agung tersebut.

Dari sini dapat ditegaskan bahwa perayaan Isra Mi’raj bukan merupakan bid‘ah sayyi’ah yang tidak boleh (haram) dilakukan, tetapi merupakan bid‘ah hasanah yang harus senantiasa dipelihara. Sebab, ia merupakan sebuah kebaikan yang sejalan dengan tuntunan al-Qur’an, yaitu adh-Dhuha (93): 11 dan Yunus (10): 58. Oleh karena itu, kebiasaan perayaan Isra Mi’raj yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Muslim Indonesia bukan ‘urf fasid (tradisi buruk) yang bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi termasuk‘urf shahih (tradisi baik) karena tidak bertentangan dengan ajaran al-Qur’an.

Hal ini juga berlaku kepada beberapa perayaan peristiwa lain yang sudah mentradisi di bumi Nusantara, seperti peringatan nuzulul qur’an, maulid nabi, dan lain sebagainya. Mengingat beberapa ulama memaknai kalimat bismillah ar-rahman ar-rahim adalah “dengan menyebut nama Allah yang telah memberikan nikmat-nikmat besar dan nikmat-nikmat kecil”. Makna semacam ini pernah penulis dapatkan ketika belajar di Madrasah Diniyah Nurul Jadid, Bakong, Batukerbuy, Pasean, Pamekasan.

Baca Juga :  Lima Pelajaran Berharga dalam Peristiwa Isra’ dan Mi’raj 

Kiai Mustari menjelaskan bahwa nikmat-nikmat besar tersebut ada lima, yaitu: (1) adanya alam semesta (yaitu asal tiada menjadi ada), (2) adanya malaikat Jibril, (3) adanya Nabi Muhammad saw., (4) adanya agama Islam, dan (5) adanya al-Qur’an. Sementara jumlah nikmat-nikmat yang kecil adalah tidak terhitung, sebagaimana disebutkan dalam surat Ibrâhîm (14): 34 (Mustari, Safinah Madurah, 2009: 1).

Pendek kata, merayakan nuzulul qur’an dan maulid nabi adalah termasuk mensyukuri dan bergembira atas nikmat besar yang telah diberikan Allah. Sementara bersyukur dan bergembira atas karunia, nikmat, dan rahmat Allah adalah ajaran yang sangat ditekankan dalam al-Qur’an (adh-Dhuha (93): 11 dan Yunus (10): 58). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

3 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum warahmatullahi wabbarakatuh… maaf mau tanya,Al Qur’an di turunkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam,dan yang paling tahu penafsiran nya adalah beliau,kemudian di jelaskan kepada para sahabat… adakah diantara sahabat yang menafsirkan surat adh -duha (11) dan surat Yunus (58) di pakai untuk memperingati isra mi’raj… apakah para sahabat tidak mengerti cara mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah Subhana wa taala… tolong dijelaskan…
    Assalamualaikum warahmatullahi wabbarakatuh.

    • Wa alaikum salam warrahmah wal barokah. Sependek pengetahuan saya, tafsir al-Qur’an tidak hanya dicukupkan kepada Rasulullah saw. dan para sahabat. Sebab, al-Qur’an adalah kitab pedoman sepanjang zaman. Oleh karena itu, setiap Muslim yang memiliki pengetahuan dan kemampuan boleh menafsirkan al-Qur’an sesuai zamannya. Karena memang al-Qur’an diturunkan menggunakan bahasa Arab agar bisa dipahami oleh umat manusia. Penafsiran al-Qur’an dari masa Nabi sampai sekarang masih belum berhenti. Hal ini bisa dilihat dari berbagai tafsir yang berbeda antara satu dengan lainnya. Kalau tafsir al-Qur’an hanya dicukupkam kepada Rasulullah saw. dan para sahabat, maka kandungan universalitas al-Qur’an akan terbatasi. Sehingga ia bisa tidak shalih li kulli zaman wa makan. Kemudian, saya kira dalam tulisan itu sudah jelas tentang tafsir dua ayat tersebut menurut para mufasir, seperti Imam Maragi dan Syekh Wahbah. Di situ juga disebutkan ragam pendapat/tafsir mengenai kata “nikmat, fadlillah, dan rahmatihi”. Sehingga meskipun pada masa Rasul belum muncul tafsir tentang perayaan Isra’ Mi’raj, maka melihat elaborasi kata “nikmat, fadlillah, dan rahmatihi” sangat memungkinkan mencakup perayaan isra’ mi’raj dalam masa sekarang. Sebab, isra’ mi’raj merupakan nikmat, keutamaan, dan rahmat dari Allah untuk Rasul dan umatnya. Jadi, saya kira tidak ada salahnya merayakan peristiwa isra’ mi’raj sebagai rasa syukur dan bergembira atas nikmat tersebut. Apalagi kita bisa mengambil hikmah yang terkandung dalam peristiwa isra mi’raj tersebut. Ala kulli hal, wa allah a’lam bisshowab. Hehe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here