Hukum Menyucikan Alquran yang Terkena Najis

1
2173

BincangSyariah.Com – Alquran merupakan kitab suci yang harus dimuliakan. Ia tidak boleh dipegang kecuali dalam keadaan suci dan tidak boleh disobek dan dirusak. Namun bagaimana jika Alquran terkena najis dan akan rusak jika disucikan dengan air, apakah tetap harus disucikan atau dibiarkan saja?

Jika najis tersebut merupakan najis yang tidak dima’fu atau dimaafkan dan mengenai bagian huruf-huruf Alquran, maka wajib menyucikan najis tersebut meskipun akan menyebabkan sobek dan rusaknya Alquran. Adapun jika mengenai selain huruf-huruf Alquran, misalnya mengenai bagian pinggir dan cover Alquran, maka tidak wajib disucikan.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Nihayatul Muhtaj berikut;

وأفتى بعضهم في مصحف تنجس بغير معفو عنه بوجوب غسله وإن أدى إلى تلفه ولو كان ليتيم ويتعين فرضه على ما فيه فيما إذا مست النجاسة شيئا من القرآن ، بخلاف ما إذا كانت في نحو الجلد أو الحواشي .

“Sebagian ulama berfatwa bahwa mushaf yang terkena najis yang tidak dima’fu diwajibkan untuk dibasuh meskipun akan menyebabkan rusaknya mushaf dan milik anak yatim. Dan menjadi fardu ain jika najis tersebut mengenai bagian-bagian Alquran, berbeda jika mengenai kulit dan pinggirnya.”

Juga disebutkan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin sebagai berikut;

تجب إزالة النجاسة من المصحف، ويلحق به كل اسم معظم وعلم محترم، وإن أدّى لتلفه وكان لنحو يتيم، ومحله إن مست النجاسة شيئاً من حروفه لا نحو جلده وحواشيه

“Wajib menghilangkan najis dari mushaf, sama seperti dengan Alquran semua nama yang dimuliakan dan ilmu yang diagungkan, meskipun menyebabkan rusaknya Alquran dan milik anak yatim. Kondisinya (yang wajib dibasuh) jika najis mengenai bagian huruf-huruf Alquran, bukan kulit dan pinggirannya.”

Baca Juga :  Empat Syarat Boleh Rujuk Setelah Cerai

Dalam kitab al-Qalyubi juga disebutkan sebagai berikut;

وَيَجِبُ غَسْلُ مُصْحَفٍ تَنَجَّسَ وَإِنْ أَدَّى إلَى تَلَفِهِ

“Dan diwajibkan membasuh mushaf yang terkena najis walaupun sampai merusaknya.”

Begitu juga tidak wajib disucikan jika najis yang mengenai Alquran adalah najis yang dima’fu atau diperselisihkan oleh para ulama tentang kenajisannya. Misalnya, kotoran hewan yang dimakan. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin berikut;

نعم إن كانت النجاسة مما اختلف فيها كروث مأكول جاز تقليد القائل بطهارتها للضرورة

“Iya, jika najis tersebut masih diperselisihkan, seperti kotoran hewan yang dimakan, maka boleh mengikuti pendapat ulama yang mengatakan suci karena darurat.”

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here