Hukum Menyita Barang Orang yang Tak Mampu Bayar Utang

0
2020

BincangSyariah.Com – Ketika seseorang memiliki utang berupa uang atau lainnya kepada orang lain, maka dia wajib untuk segera melunasinya. Jika sudah mampu dan pembayaran sudah jatuh tempo, maka dia tidak boleh mengulur dan menunda pelunasan utang. Namun bagaimana jika tidak mampu, apakah barang miliknya boleh disita sebagai ganti dari utang yang tidak mampu dibayarnya?

Menyita barang orang lain sebagai ganti dari utang yang tidak mampu dibayarnya hukumnya adalah boleh. Tentu dalam proses menyita barang tersebut harus sesuai dengan ketentuan yang dibenarkan oleh syariat. Ada dua ketentuan yang harus diperhatikan ketika menyita barang orang lain karena tidak mampu membayar utang.

Pertama, menyita barang merupakan jalan dan alternatif terakhir. Dengan demikian, jika masih ada cara lain selain menyita barang, maka tidak diperkenankan menyita barang. Dalam Islam, setiap orang dianjurkan untuk mengambil haknya dengan cara yang baik. Disebutkan dalam hadis riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar dan Aisyah,  Nabi saw bersabda;

مَنْ طَلَبَ حَقًّا فَلْيَطْلُبْهُ فِي عَفَافٍ وَافٍ، أَوْ غَيْرِ وَافٍ

“Barangsiapa menuntut haknya, maka hendaknya dia menuntutnya dengan baik, baik pada orang yang ingin menunaikannya atau pada orang yang tidak ingin menunaikannya.”

Kedua, barang yang disita adalah barang sejenis atau senilai dengan utang pemilik barang tersebut, tidak boleh lebih. Jika barang yang disita bukan sejenis dengan utang pemilik barang, maka barang tersebut wajib dijual dan sisanya dikembalikan pada pemilik barang.

Misalnya, Ahmad mempunyai utang uang sebanyak 500 ribu pada Hasan. Karena Ahmad tidak mampu bayar, maka Hasan mengambil hp Ahmad yang harganya satu juta. Maka hp tersebut wajib dijual dan Hasan wajib mengambil 500 ribu dari hasil penjualan hp tersebut, sementara sisanya wajib dikembalikan pada Ahmad.

Baca Juga :  Bolehkah Menggantikan Lempar Jumrah untuk Orang yang Sakit?

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Hasyiyatul Jamal berikut;

وَإِنْ اسْتَحَقَّ عَيْنًا أَو دَيْنًا عَلَى غَيْرِ مُمْتَنِعٍ طَالَبَهُ أَوْ مُمْتَنِعٍ أَخَذَ جِنْسَ حَقِّهِ فَيَمْلِكُهُ ثُمَّ غَيْرَهُ  فَيَبِيعُهُ

“Jika seseorang berhak atas satu barang atau utang atas orang yang tidak menolak untuk membayar, maka dia harus memintanya, atau utang atas orang yang menolak untuk membayar, maka dia boleh mengambil barang yang sejenis dengan utangnya dan kemudian memilikinya, atau mengambil barang yang tidak sejenis, maka wajib menjualnya.”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here