Hukum Menyembelih Hewan Hingga Kepalanya Putus

2
15277

BincangSyariah.Com – Pada dasarnya, sembelihan dinilai sah secara syar’i jika saluran pernafasan dan saluran pencernaan sudah putus. Selain dua saluran ini, disunahkan juga memutus wadajain atau dua urat leher. Lantas bagaimana hokum menyembelih hewan hingga kepalanya putus?

Terdapat perbedaan di antara para ulama terkait hukum menyembelih hewan hingga kepalanya putus. Kebanyakan ulama mengatakan makruh, sementara sebagian lain mengatakan haram. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Hasyiyah Albujairimi berikut;

وَالزِّيَادَةُ عَلَى الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَالْوَدَجَيْنِ قِيلَ بِحُرْمَتِهَا لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ فِي التَّعْذِيبِ وَالرَّاجِحُ الْجَوَازُ مَعَ الْكَرَاهَةِ

“(Menyembelih) hingga melebihi saluran pernafasan, saluran pencernaan dan dua urat leher, dikatakan oleh sebagian ulama bahwa hukumnya haram karena menambah menyakiti hewan. Namun pendapat yang rajih (unggul) adalah boleh namun makruh.”

Melalui keterangan ini dapat diketahui bahwa penyembelihan hingga memutus kepala hewan dihukumi sah dan boleh dimakan. Namun demikian, praktek penyembelihan seperti itu dihukumi makruh oleh kebanyakan ulama dan sebagian yang lain mengatakan haram. Penyembelihan harus dilakukan dengan baik dan sebisa mungkin tidak menyiksa hewan. Karena itu, menyembelih hewan hingga kepalanya putus dihukumi makruh karena dianggap menyiksa hewan.

Selain itu, terdapat beberapa perkara yang dimakruhkan selain memutus kepala hewan. Di antaranya adalah mematahkan leher hewan setelah disembelih, mengerak-gerakkan dan memotong sebagian anggota tubuhnya sebelum hewan benar-benar mati, dan memindahkan tempat hewan ke tempat yang lain.

Disebutkan dalam kitab Hasyiyah Albujairimi berikut;

و يكره له ابانة راسها حالا، و زيادة القطع و كسر العنق و قطع عضو عنها و تحريكها و نقلها حتى تخرج روحها

“Dimakruhkan bagi penyembelih memisahkan kepala hewan seketika, menambah pemotongan, mematahkan leher, memotong anggota tubuhnya, menggerak-gerakan serta memindahkan sampai hingga ruhnya keluar.”

Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Anas bin Malik membolehkan makan hasil sembelihan ayam yang disembelih hingga kepalanya putus. Dia berkata;

أنَّ جَزَّارَا لِأَنَس ذَبَحَ دَجَاجَةً فاضطَرَبَتْ فذبحهَا مِنْ قَفَاهَا فأطَارَ رَأسها فأرادُوا طرحَها فأمَرهُمْ أنس بأكلها

“Bahwa para jagal yang dimiliki Anas bin Malik suatu ketika dia menyembelih seekor ayam, tetapi ayam tersebut meronta-ronta, maka dia menyembelih dari tengkuknya sampai terbang kepalanya. Mereka ingin membuang ayam tersebut, tetapi justru Anas bin Malik menyuruh untuk memakannya.”

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Ketika musim kurban, banyak hewan kurban yang dikekang di halaman masjid. Bahkan banyak juga hewan kurban yang disembelih di halaman masjid. Ini disebabkan karena didasarkan pada sebuah ketentuan bahwa menyembelih hewan kurban lebih utama dilakukan di halaman masjid atau halaman mushalla. Benarkah demikian? (Baca: Hukum Menyembelih Hewan Hingga Kepalanya Putus) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here