Hukum Menyantuni Anak Yatim Non-Muslim

0
2934

BincangSyariah.Com –Dalam Islam, kita dilarang keras berbuat aniaya terhadap anak yatim. Sebaliknya, kita diperintah untuk senantiasa berbuat baik kepada mereka, seperti memberi makanan, menyantuni atau menjadi orang tua asuh bagi mereka. Namun bagaimana jika anak yatim tersebut adalah non-Muslim, apakah kita tetap dianjurkan untuk menyantuninya? Bagaimana hukum menyantuni anak yatim non-Muslim dalam Islam?

Menyantuni anak yatim non-Muslim dalam Islam diperbolehkan. Kita tidak dilarang untuk berbuat kepada non-Muslim, baik beragama Kristen, Katolik, Budha, atau lainnya. Dalam surah Almumtahanah ayat 8, Allah berfirman;

لَا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Ayat ini berisi penegasan dari Allah bahwa kita tidak dilarang untuk berbuat baik kepada non-Muslim dan berbuat adil kepada mereka selama mereka tidak terang-terangan memusuhi kita. Bahkan secara khusus Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berbuat baik dengan cara memberi makanan kepada orang-orang miskin, anak yatim dan tawanan perang. Meskipun orang-orang miskin, anak yatim dan tawanan perang tersebut adalah non-Muslim, namun kita tetap diperintah untuk memberi makanan kepada mereka.

Dalam surah Alinsan ayat 8, Allah berfirman sebagai berikut;

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”

Dalam kitab Almajmu, Imam Nawawi menjadikan ayat ini sebagai dalil kebolehan bersedekah kepada non-Muslim, termasuk anak yatim non-Muslim. Beliau berkata;

Baca Juga :  Etika Berdebat dalam Islam

يستحب أن يخص بصدقته الصلحاء وأهل الخير وأهل المروءات  والحاجات ، فلو تصدق على فاسق أو على كافر من يهودي أو نصراني أو مجوسي جاز  ، وكان فيه أجر في الجملة قال صاحب البيان : قال الصيمري : وكذلك الحربي ،  ودليل المسألة قول الله تعالى :ويطعمون الطعام على حبه مسكينا ويتيما وأسيرا ومعلوم أن الأسير حربي

“Disunahkan untuk memberikan sedekah kepada orang-orang saleh, orang baik, orang yang menjaga kehormatan dan orang yang membutuhkan. Namun, apabila bersedekah kepada orang fasiq atau orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani ataupun Majusi, maka hukumnya boleh dan secara keseluruhan mendapat pahala. Pengarang kitab Albayan berkata, ‘Asshaimiri berkata, ‘Begitu juga non-Muslim yang memusuhi kaum Muslim (boleh diberi sedekah).’ Dalil dalam masalah ini adalah firman Allah, ‘Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.’ Dan sudah diketahui bersama bahwa orang yang ditawan adalah non-Muslim yang memusuhi kaum Muslim.’”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here