Hukum Menjual Keperluan Natal dalam Islam

1
1094


BincangSyariah.Com – Bagi sebagian muslim, perayaan natal merupakan momen untuk mencari tambahan rizeki dan tambahan keuntungan ekonomi dengan menjual keperluan natal, seperti menjual topi santa, kue natal, dan lain sebagainya. Sebenarnya, bagaimana hukum menjual keperluan natal dalam Islam?

Menjual keperluan natal seperti menjual kue natal, topi santa dan lainnya, hukumnya diperbolehkan. Boleh bagi orang muslim menyediakan dan menjual keperluan natal untuk mencari keuntungan ekonomi, baik dijual di toko, di pasar, dan lainnya. Bahkan menurut Imam Malik, tidak masalah menjual keperluan natal di gereja.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Tajul Iklil li Mukhtashar Khalil berikut;

وروى ابن القاسم أن مالكا سئل عن أعياد الكنائس فيجتمع المسلمون يحملون إليها الثياب والأمتعة وغير ذلك يبيعون يبتغون الفضل فيها، قال: لا بأس.

Ibn Al-Qasim meriwayatkan, bahwa Imam Malik pernah ditanya tentang berbagai hari raya di gereja, kemudian orang-orang Islam membawa pakaian, bermacam-macam barang dan dagangan lainnya ke gereja untuk berjualan dan mengais keuntungan di sana. Imam Malik berkata, ‘Itu tidak apa-apa.’

Begitu juga boleh bagi orang muslim membeli keperluan natal untuk memperindah perayaan natal tersebut. Menurut Imam Ahmad, selama tidak mengikuti perayaan natal di gereja, membeli keperluan natal untuk menyempurnakan perayaan natal hukumnya boleh.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Adab as-Syar’iyah berikut;

إنما يمنعون أن يدخلوا عليهم بيعهم وكنائسهم ، فأما ما يباع في الأسواق من المأكل فلا ، وإن قصد إلى توفير ذلك وتحسينه لأجلهم

Kaum muslimin hanya dilarang memasuki sinagog dan gereja (pada saat hari raya non-muslim). Adapun sesuatu yang dijual di pasar, seperti makanan, maka tidak dilarang. Meskipun dimaksudkan untuk menyempurnakan dan memperindah perayaan tersebut untuk mereka.

Baca Juga :  Hukum Membeli Pernak-Pernik Hari Raya Non-Muslim

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here