Hukum Menjual dan Membeli Kotoran Hewan

0
2693

BincangSyariah.Com – Saat ini kotoran hewan banyak digunakan untuk dijadikan pupuk tanaman, misalnya kotoran sapi, kambing, domba dan lainnya. Karena itu, kotoran hewan di sebagian daerah diperjualbelikan. Di sebagian daerah yang lain, ada yang ditukar dengan benda yang lain, seperti ditukar dengan beras 3 kg. Sebenarnya, bagaimana hukum menjual dan membeli kotoran hewan?

Di dalam kitab-kitab fiqih mazhab Syafii disebutkan bahwa benda yang zatnya najis tidak boleh diperjualbelikan. Hal ini karena salah satu syarat sah jual beli adalah benda yang diperjualbelikan harus suci. Jika bendanya najis, maka tidak sah diperjualbelikan. Di antara benda yang tidak boleh diperjualbelikan adalah kotoran hewan, karena zatnya najis.

Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Imam Abu Ishaq al-Syairazi dalam kitab al-Muhazzab berikut;

فأما النجس في نفسه فلا يجوز بيعه وذلك مثل الكلب والخنزير والخمر والسرجين وما أشبه ذلك من النجاسات

“Adapun benda yang zatnya najis, maka tidak boleh dijual. Hal itu seperti anjing, babi, khamar, kotoran hewan dan benda najis lainnya.”

Dalam kitab al-Majmu’, Imam Nawawi juga telah menjelaskan atas larangan menjual kotoran hewan. Beliau berkata;

فرع : بيع سرجين البهائم المأكولة وغيرها وذرق الحمام باطل وثمنه حرام هذا مذهبنا

“(Cabang); menjual kotoran hewan yang bisa dimakan dan lainnya serta kotoran burung adalah batil dan hasil penjualannya adalah haram. Ini adalah mazhab kami (ulama Syafiiyah).”

Juga disebutkan dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri berikut;

ولا يصح بيع عين نجسة اى سواء كان امكن تطهيرها بالاستحالة كالخمر وجلد الميتة ام لا كالسرجين او كلب و لومعلما

“Tidak sah menjual benda-benda najis meskipun memungkinkan untuk mensucikan benda-benda tersebut dengan berubah wujud seperti khamar dan kulit bangkai, atau tidak bisa suci sama sekali, seperti kotoran hewan dan anjing meskipun sudah jinak.”

Meski memperjualbelikan kotoran hewan tidak boleh, tapi ia boleh dimiliki melalui naqlul yad atau memindahkan kepemilikan dengan ditukar dengan uang. Contoh bentuk sighat dari naqlul yad ini adalah sebagai berikut.

Baca Juga :  Fikih Ekonomi (6): Hak Milik dalam Islam

Pak Ahmad: “Pak Amin, punya kotoran hewan?”

Pak Amin: “Iya, punya.”

Pak Ahmad: “Aku butuh satu sak, berapa?”

Pak Amin: “Baik, aku gugurkan hakku atas kotoran hewan satu sak dengan diganti uang Rp 20.000,-”

Pak Ahmad: “Baik, saya terima.”

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri berikut;

و يجوز نقل اليد عن النجس بالدراهم كما في النزول عن الوظائف و طريقه ان يقول المستحق له اسقطت حقي من هذا بكذا فيقول الاخر قبلت

“Boleh memindahkan tangan (kepemilikan) dari benda najis dengan diganti dirham sebagaimana meletakkan jabatan. Caranya, orang yang mempunyai benda najis berkata, ‘Saya meletakkan atau menggugurkan hakku atas benda ini dengan ganti uang sekian.’ Kemudian yang lain berkata, ‘Saya terima.’”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here