Hukum Menjual Barang Pemberian, Apakah Boleh?

0
639

BincangSyariah.Com – Ketika kita diberi sesuatu atau barang tertentu oleh seseorang, terkadang kita menjualnya. Misalnya, kita diberi jam tangan atau lainnya, terkadang kita menjualnya karena kebetulan sedang butuh duit atau lainnya. Sebenarnya, bagaimana hukum menjual barang pemberian dari orang lain, apakah boleh? (Baca: Bacalah Doa Ini saat Kehilangan Barang Berharga)

Pada dasarnya, ketika seseorang memberikan barang tertentu kepada kita, maka kita wajib menggunakan barang tersebut sesuai keinginan dan tujuan yang diucapkan oleh pemberi. Misalnya, seseorang memberikan jam tangan kepada kita dan dia berpesan agar jam tangan tersebut hanya untuk dipakai saja, maka kita tidak boleh menjualnya atau memberikan kepada orang lain. Kita hanya berhak menggunakan jam tangan sesuai keinginan yang diucapkan pemberi, yaitu untuk dipakai saja, bukan yang lain.

Ini juga berlaku pada pemberian barang yang lain. Misalnya, seseorang memberikan makanan kepada kita agar kita makan, maka kita hanya boleh memakannya, bukan yang lain. Kita tidak boleh menjualnya atau memberikannya kepada orang lain, kecuali ada petunjuk bahwa pemberi ridha bila kita menjualnya atau memberikannya kepada orang lain.

Begitu juga kita boleh menjualnya jika pemberi mengucapkan tujuannya hanya basa-basi saja atau tidak mengucapkan tujuan sama sekali. Misalnya, seseorang memberi roti kepada kita sambil mengucapkan ‘ini roti untuk makan’, namun dia mengucapkan hal itu hanya untuk basa-basi, atau tidak mengucapkan tujuan apapun, maka kita boleh menjual roti tersebut atau memberikannya kepada orang lain.

Hal ini sebagaimana disebutkan kitab Hasyiatal Qalyubi wa ‘Umairah berikut;

مَتَى حَلَّ لَهُ الْأَخْذُ وَأَعْطَاهُ لِأَجْلِ صِفَةٍ مُعَيَّنَةٍ لَمْ يَجُزْ لَهُ صَرْفُ مَا أَخَذَهُ فِي غَيْرِهَا فَلَوْ أَعْطَاهُ دِرْهَمًا لِيَأْخُذَ بِهِ رَغِيفًا لَمْ يَجُزْ لَهُ صَرْفُهُ فِي إدَامٍ مَثَلًا أَوْ أَعْطَاهُ رَغِيفًا لِيَأْكُلَهُ لَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ وَلَا التَّصَدُّقُ بِهِ وَهَكَذَا إلَّا إنْ ظَهَرَتْ قَرِينَةٌ بِأَنْ ذَكَرَ الصِّفَةَ لِنَحْوِ تَجَمُّلٍ كَقَوْلِهِ لِتَشْرَبَ بِهِ قَهْوَةً مَثَلًا فَيَجُوزُ صَرْفُهُ فِيمَا شَاءَ

Baca Juga :  Ini Beda Sedekah, Hadiah, dan Hibah

Ketika seseorang halal mengambil pemberian, dan pemberi memberikan agar dibelanjakan pada sesuatu tertentu, maka tidak boleh baginya menggunakan pemberian tersebut untuk sesuatu yang lain. Misalnya, pemberi memberikan uang agar digunakan untuk membeli roti, maka dia tidak boleh menggunakannya untuk membeli lauk pauk. Atau pemberi memberikan roti untuk dimakan, maka dia tidak boleh menjualnya atau mensedekahkan pada orang lain. Kecuali ada bukti lain bahwa pemberi mengucapkan hal itu hanya sekedar tajammul atau basa-basi, seperti ucapan ‘ini uang untuk beli kopi’, maka penerima boleh menggunakan pemberian tersebut untuk membeli apa saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here