Hukum Menjarah dalam Islam

0
1746

BincangSyariah.Com – Belakangan setelah musibah yang menimpa di kota Palu dan Donggala, muncul berita penjarahan sebuah mini market. Penjarahan ini dilakukan karena alasan kebutuhan mendesak akan makanan. Masyarakat kesulitan mendapatkan makanan pasca terjadinya gempa yang kemudian disusul dengan tsunami. Lantas pertanyaannya adalah, bagaimana hukum menjarah dalam Islam?

Penjarahan adalah pengambilan harta milik orang lain dengan cara paksa dan diketahui pemilik barang, hal ini juga dikatakan oleh imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari. Berbeda dengan mencuri yaitu mengambil barang milik orang lain dari tempat yang semestinya dan tanpa diketahui pemilik barang. Istilah lain yang hampir mirip dengan ini adalah ghashab dan qathut thariq.

Terkait hukum melakukan penjarahan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu haram dan boleh. Haram dilakukan jika pemilik barang tidak rida dan pelakunya mendapatkan sanksi pidana. Sedangkan harta yang dikuasai negara atau milik umum boleh dilakukan jika kepala negara membolehkan.

Jika tidak, maka mengambil barang tersebut adalah haram.
Peringatan untuk tidak melakukan penjarahan disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah dalam kitab Shahih Bukhari, Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ثُمَّ يَقُولُ كَانَ أَبُو بَكْرٍ يُلْحِقُ مَعَهُنَّ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ أَبْصَارَهُمْ فِيهَا حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Artinya: Dari Abu Hurairah, lalu dia berkata; “Abu Bakar menambahkan dalam hadits tersebut dengan redaksi; “Dan tidaklah seseorang merampas harta orang lain yang karenanya orang-orang memandangnya sebagai orang yang terpandang, ketika dia merampas harta tersebut dalam keadaan mukmin.” (H.R. al-Bukhari, 5150).

Dari penjelasan di atas jelas bahwa menjarah tidak boleh dilakukan. Lantas bagaimana jika dalam kondisi terpaksa?

Ulama mengatakan dalam keadaan terpaksa maka akan muncul hukum boleh, namun bukan berati halal. Boleh dan halal memiliki dua makna yang berbeda.
Ahmad al-Kafi dalam buku al-Hajah al-Syariyyah: Hududuha wa Qawaiduha (Kebutuhan yang Syari: Batasan dan Kaidah-kaidahnya) menjelaskan bahwa munculnya hukum boleh adalah karena alasan darurat. Sedangkan karena alasan hajat/kebutuhan semata maka perbuatan tersebut tidak diperbolehkan.

Untuk kasus yang terjadi di atas, penulis tidak mengetahui secara detail maksud dan tujuan dari penjarahan. Jika penjarahan dilakukan karena darurat, tidak ada makanan, maka hal tersebut diperbolehkan. Namun, jika tidak, maka hukumnya haram. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here