Hukum Menjaga Rumah Ibadah non-Muslim

10
6089

BincangSyariah.Com – Umat muslim di Indonesia sebagai mayoritas sudah seharusnya dapat mengayomi dan berdampingan dengan agama lain. Atas nama kerukunan dan kedamaian, umat Muslim dan non-Muslim biasa berdampingan dan saling menjaga rumah ibadah mereka masing-masing. Tidak ada tendensi untuk “membenarkan” ajaran agama masing-masing. Namun, motivasinya adalah menjaga keharmonisan.

Toleransi sebenarnya adalah perilaku organik umat Muslim. Sampai saat ini, umat Muslim tidak perlu terpaksa melakukan sikap toleransi terhadap umat agama lain, begitu juga sebaliknya. Bahkan masing-masing bisa saling membantu berjalannya kegiatan agama masing-masing agar tetap lancar dan aman.

Untuk mewujudkan hal ini, underbow dibidang kepemudaan dan keamanan seperti Banser di bawah Nahdatul Ulama misalnya rutin membantu mengamankan pelaksanaan ibadah kaum Nasrani di berbagai gereja saat malam Natal. Kisah heroik almarhum Riyanto yang memeluk bom yang dicoba diledakkan pada saat misa di malam natal, selalu diulang setiap tahun sebagai bentuk pengingat bahwa menjaga nyawa manusia adalah di atas segala-galanya.

Yang patut kita tekankan dalam pertanyaan ini sebenarnya bukan apakah menjaga rumah ibadah agama lain ssebagai bentuk “pembenaran” asasi atas ajaran agama mereka. Tetapi, upaya ini adalah bentuk kesepakatan masyarakat untuk mewujudkan keamanan di lingkungannya, meski berbeda agama.

Menjaga keamanan tempat ibadah agama lain oleh umat Muslim bukan sesuatu yang dilarang. Merujuk kepada pernyataan Imam al-Syafi’i dalam al-Umm:

وَإِنْ كَانُوا فِي قَرْيَةٍ يَمْلِكُونَهَا مُنْفَرِدِينَ لَمْ يَمْنَعْهُمْ إحْدَاثَ كَنِيسَةٍ وَلاَ رَفْعَ بِنَاءٍ وَلاَ يَعْرِضُ لَهُمْ فِي خَنَازِيرِهِمْ وَخَمْرِهِمْ وَأَعْيَادِهِمْ وَجَمَاعَاتِهِمْ

Jika mereka umat (Nasrani) di kampung yang mereka meliki sendiri, tidak dilarang bagi mereka untuk mendirikan gereja atau meninggikan bangunan mereka lebih dari bangunan yang didirikan umat umat muslim. (Meski begitu) mereka tidak boleh mempertontonkan peliharaan babi, minuman keras (khamar), perayaan, atau perkumpulan yang mereka lakukan di hadapan umat muslim.”

Sepemahaman penulis, pernyataan al-Syafi’i di atas dapat disimpulkan dengan tiga asumsi. Pertama, jika sebuah tempat ibadah dimiliki oleh komunitas keagamaan itu sendiri, seperti Kristen misalnya, dan bukan dibangun diatas tanah orang lain, maka mereka sah mendirikan gereja itu. Kedua, kepemilikan sesuatu yang diharamkan oleh umat lain misalnya, seperti babi atau khamar yang diharamkan umat Islam, semestinya dijual di tempat yang khusus. Ketiga, kedua hal tadi harus dilindungi, termasuk melindungi mereka yang akan melaksanakan ibadahnya.

Dalam suatu riwayat –meskipun status riwayat ini daif, bukan maudhu’– dalam kitab al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibn Hisham, diceritakan bahwa Nabi Saw. pernah kedatangan rombongan orang-orang Nasrani Najran. Mereka menggunakan pakaian yang sangat bagus, sehingga sebagian sahabat Rasulullah Saw. sampai bergumam, “Baju mereka seindah baju yang dipakai Bani al-Harits Ibn al-Ka’b.” Lalu ketika waktu ibadah mereka tiba, mereka langsung beribadah di tempat itu juga. Rasulullah Saw. melihat hal itu hanya berkata kepada sahabatnya, “Biarkan dahulu mereka! Kalian salatlah menghadap ke timur!”

Apa yang bisa disimpulkan dari riwayat di atas tidak sama sekali menunjukkan Nabi Saw. mendukung ajaran mereka. Namun, yang terpenting adalah suasana tetap kondusif dan tidak ada tindakan-tindakan penyerangan. Soal boleh tidaknya umat Nasrani beribadah di tempat umat Muslim, ada perbedaan pendapat. Ulama syafiyyah umumnya tidak membolehkan. Sementara itu, Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, dalam Ahkam Ahl al-Dhimmah menyatakan kalau pendapat yang membolehkan, dasarnya adalah di atas tadi.

Membantu menciptakan suasana aman dengan ikut mengamankan tempat ibadah agama lain, bukan sesuatu yang dilarang. Meski, yang tetap berperan utama dalam menjakankan fungsi keamanan, tetaplah kepolisian, sebagai aparat yang ditugaskan negara. Sekali lagi, sebagai umat Muslim, menjaga rumah ibadah non-Muslim karena untuk menjaga keamanan itu diperbolehkan. Wallahu A’lam.

10 KOMENTAR

  1. Hei..Bodat,BERAPA BANYAK KALIAN DI SOGOK NASI PARNAP SAMA JOKO WIBODO?? MENJUAL AGAMA DEMI DOSA…DASAR CEBONG HANGUS

    BACA AL-QUR’AN BUKAN PENDAPAT IMAM Syafi’i…Percuma ada Al-Qur’an kalau pendapat IMAM yang kalian ambil,CEBONG BODAT…KELAPARAN ENTE??

    BACA INI YEE,BODATS

    QS:Al-Maidah:2
    QS:Maryam:88-95
    QS:Al-Maidah:51
    QS:An-Nisa:138-140

  2. Lah iya ini orang gac tau apa apa mala ngasih arahan bolehnya menjaga keamanan natal
    Cebong dungu..

    وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2)

    ikut mengamankan perayaan Natal, bagi umat dan ormas Islam, seolah memberikan pembenaran dan dukungan kepada perayaan tersebut. Di mana bagi umat Kristiani, perayaan Natal adalah hari raya untuk memperingati dan mensyukuri kelahiran Yesus ke dunia sebagai Tuhan dan juruselamat penebus dosa. Yang dalam Islam, itu merupakan perayaan kekufuran dan kezaliman terbesar terhadap Allah. Karenanya tolong-menolong di dalamnya adalah haram.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here