Hukum Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Alat Mencari Duniawi

0
502

BincangSyariah.Com – Al-Qur’an menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dalam ajaran Islam. Termasuk keistimewaan terbesar Al-Qur’an adalah menjadi satu-satunya kitab suci yang dihafalkan oleh banyak manusia di dunia ini. Tak satupun kitab suci yang dihafalkan bagian surat, kalimat, huruf dan bahkan harakatnya seperti Al-Qur’an. Al-Qur’an diingat didalam hati dan pikiran para penghafalnya. Dan aktivitas menghafal Al-Qur’an ini merupakan upaya mendekatkan diri melalui kalam-Nya, yang mana ini merupakan marhalah yang mulia di sisi-Nya. Sabda Nabi:

قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَىلّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلّمَ: أَشْرَفٌ أٌمّتِي حَمْلَةٌ الْقُرْأنِ وَ أَصْحَابِ اَلَليْلِ

Rasulullah bersabda:” yang paling mulia diantara ummatku adalah orang yang hafal Al-Qur’an dan ahli sholat malam”.(HR. Bukhari)

Aktivitas yang mulia itu kini mulai banyak digemari oleh pemuda pemudi zaman sekarang. Namun sedikit ada penyimpangan yang cukup meresahkan bagi umat Islam. Dimana pembacaan Al-Qur’an yang dibaca oleh para penghafal yang awalnya murni ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada Tuhannya, kini bisa juga menjadi salah satu tujuan  untuk mengumpulkan  pundi-pundi rupiah.

Dengan kata lain Al-Qur’an dijadikan alat untuk mencari dunia. Misalnya pemasangan tarif yang tinggi  untuk  undangan setiap khatmil Qur’an dalam sebuah acara, atau rela memalsukan identitas diri demi mengikuti perlombaan yang berhadiah fantastis.

Rasulullah pernah berpesan untuk  mengatur niat dalam membaca Al-Qur’an agar tidak  mencari imbalan dari Al-Qur’an. Sabda Nabi:

إِقْرَؤُوْا القُرْأنَ مِنْ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَ قَوْمٌ يُقِيْمُوْنِهُ إِقَامضةٌ قَدْحٌ يَتَعَجّلُوْنَهُ وَلَا يَتَأجّلُوْنَ

Bacalah Al-Qur’an sebelum dating sekelompok orang yang ebacakan Al-Qur’an seperti orang yang sedang mengadakan undian, mereka mengharapkan hasil yang cepat (imbalan duniawi)  dan mengharapkan imbalan yang lambat (pahala akhirat) ”. (HR. Abu Daud)

Baca Juga :  Kapan Waktu Diharamkan Jual Beli di Hari Jumat Dimulai?

Keterangan tersebut bisa dijadikan tolak ukur untuk kembali menjaga niat yang mulia saat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Terlebih jika hanya untuk mencari dunia atau materi. Alangkah  indahnya jika amal saleh dari Al-Qur’an itu dijadikan sarana untuk amal saleh yang murni karena Allah, bukan mengharap kenikmatan dunia atau popularitas lainnya. Banyak jalan rezeki yang sudah Allah sediakan untuk hamaba-Nya, dan bukan sebuah jalan dari pemanfaatn Al-Qur’an. para Dalam hadis lainnya, Nabi bersabda:

تَعَلّمُوْا القُرْأنَ وَاسْأَلُوْا اللهَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَتَعَلّمَهُ قَوْمٌ يَسْأَلُوْنَ بِه الدُّنْيَا فَإنّ الْقُرْأنَ يَتَعَلّمَهُ ثَلاَتَةُ نَفْرٍ رَجُلٌ يُبَاهِي وَ رَجُلٌ يَسْتَأْكُلُ بِهِ وَ رَجُلٌ يَقْرَؤُهُ للِّهِ

Pelajarilah Al-Qur’an dan mohonlah kepada Allah SWT dengan Al-Qur’an itu sebelum dipelajari oleh orang-orang yang hendak mencari dunia. Sebab Al-Qur’an itu akan dipelajari oleh tiga jenis orang yaitu: orang yang mempelajari Al-Qur’an untuk mencari kebahagiaan (popularitas), orang yang mempelajari Al-Qur’an untuk mencari makan dan orang mempelajari Al-Qur’an unruk mencari ridla Allah SWT ”. (HR. Abu Hakim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here