Hukum Menjadi Saksi Perceraian dalam Islam

0
9

BincangSyariah.Com – Bagaimana sebenarnya hukum menjadi saksi perceraian dalam Islam?

Menjadi saksi perceraian terkadang menjadi hal yang paradoks. Namun, himpitan situasi terkadang memaksa seseorang menjadi saksi perceraian dalam Islam.

Menurut ulama Syafiiyah, adanya saksi perceraian dalam Islam adalah ketika suami menceraikan istrinya hukumnya adalah mustahab atau dianjurkan.

Meski adanya saksi bukan syarat jatuhnya talak, namun hendaknya suami mempersaksikan perceraiannya, minimal kepada dua orang laki-laki yang adil sebagai saksi perceraian dalam Islam.

Hukum menjadi saksi perceraian dalam Islam sebagaimana telah dikatakan oleh Imam Al-Syaukani dalam Kitab Al-Sail Al-Jarar berikut;

وقد ورد الاجماع على عدم وجوب الاشهاد في الطلاق واتفقوا على الاستحباب.

“Ulama telah sepakat bahwa tidak wajib mempersaksikan kepada orang lain saat menjatuhkan talak. Hanya saja mereka menganjurkan mempersaksikan talak kepada orang lain.”

Dalil yang dijadikan dasar kesunnahan mempersaksikan perceraian adalah ayat berikut;

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ

“Maka apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.”

Adapun menjadi saksi dalam talak atau percerain bagi orang yang memenuhi syarat, hukumnya adalah sunnah. Dalam kitab Al-Umm, Imam Syafii mengatakan bahwa syarat-syarat menjadi saksi dalam perceraian adalah sebagai berikut;

Pertama, mukallaf atau sudah baligh dan berakal. Oleh karena itu, anak kecil tidak bisa menjadi saksi karena belum baligh, dan juga orang gila tidak bisa menjadi saksi karena tidak berakal.

Kedua, beragama Islam.

Ketiga, harus adil. Adapun yang dimaksud adil di sini adalah tidak melakukan dosa-dosa besar, tidak membiasakan dosa kecil, dan tidak melakukan sesuatu yang dapat mengurangi muru‘ah (kehormatan diri).

Ini sebagaimana disebutkan dalam Kitab Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Al-Syafi’i berikut;

والمقصود بالعدالة: عدم ارتكاب الكبائر من الذنوب، وعدم الإصرار على الصغائر، وعدم فعل ما يخلّ بالمروءة: كالبول في الطرقات

“Adapun maksud adil itu sendiri adalah tidak melakukan dosa-dosa besar, tidak membiasakan dosa kecil, dan tidak melakukan sesuatu yang dapat mengurangi muru‘ah (kehormatan diri), seperti kencing di pinggir jalan.”

Jika seseorang telah memenuhi syarat-syarat di atas, maka dia disunnahkan untuk menjadi saksi dalam perceraian. Demikian tulisan tentang hukum menjadi saksi perceraian dalam Islam. Semoga bermanfaat.

Baca: Terkait Rachel Vennya, Mari Kita Belajar Memahami Perceraian dalam Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here