Hukum Menjadi Broker Saham dalam Islam

3
1782

BincangSyariah.Com – Memilih broker/pialang sekuritas saham, merupakan langkah awal ketika seseorang memutuskan untuk terjun dalam dunia jual beli saham. Broker sendiri merupakan perusahaan yang terdaftar dan memiliki lisensi dalam mewujudkan kegiatan jual beli saham / sekuritas di “pasar turunan (al-suq al-hukmy)”, yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI). Disebut pasar turunan, sebab di dalam bursa tersebut, tidak ada barang yang berwujud fisik yang dijual-belikan. Seluruh barang dan jasa sudah dirupakan sebagai sebuah surat berharga.

Alhasil, jual beli dalam pasar turunan, sama artinya dengan jual beli surat-surat berharga yang menyatakan pengakuan atau kepemilikan dan dijamin undang-undang / peraturan yang berlaku. Itu pula sebabnya, surat berisi pengakuan atas hak dan kepemilikan ini, dikenal dengan istilah sekuritas, yang makna aslinya adalah penjagaan, yang dalam istilah syariatnya masuk rumpun akad dlaman/kafalah.

Jual beli dalam pasar turunan itu dikenal dengan istilah trading, yaitu turunan dari jual beli (bai’u al-hukmy). Sistem trading saham dalam “pasar turunan” (atau biasa disebut juga sebagai “pasar derivatif” ini) ini memiliki beberapa mekanisme serah terima (qabdlu) dan khiyar (opsi pembatalan atau melanjutkan akad) terhadap harga dan barang turunan. Beberapa mekanisme turunan tersebut antara lain: spot, forward, future, option, binary dan swap. (Baca: Hukum Membeli Saham Bank Konvensional)

Keenam mekanisme ini cenderung bersifat spekulatif (maisir), kecuali untuk spot, yaitu perdagangan satu titik, di mana saat itu juga terjadi serah terima barang. Barang yang dimaksud, sudah pasti juga barang turunan yang menyatakan penguasaan / hak milik. Trading dengan cara spot ini, ditetapkan sebagai boleh, sebab langsung terjadi serah terima harga dan barang turunan saat itu juga. Sementara kelima sistem lainnya, masih diperselisihkan. Namun MUI, lewat keputusan Nomor 96/DSN-MUI/IV/2015 tentang Lindung Nilai Syariah (Hedging), menyatakan kelimanya haram karena illat maisir (spekulatif), namun diperbolehkan bila dipergunakan oleh negara melalui aplikasi akad jual beli salam (pesan) untuk kepentingan perlindungan pangan dan lindung nilai (hedging). Insyaallah, kapan-kapan akan kita bahas lebih lanjut mengenai mekanisme ini.

Baca Juga :  Terapi Ulama untuk Menghindar dari Berlebihan dalam Berbicara

Nah, tugasnya broker dan kaitannya dengan jual beli saham, adalah memberikan informasi kepada para pemilik modal atau saham mengenai saham yang potensial untuk dibeli atau dilego dalam pasar turunan ini.  Selanjutnya ia berperan memfasilitasi pemilik modal (investor) bagi terjadinya trading tersebut dengan besar imbalan tertentu.

Melihat perannya sebagai fasilitator trading ini, maka dalam fikih, profesi broker ini dikenal sebagai profesi makelar (samsarah).

والسمسار هو:الذي يدخل بين البائع والمشتري متوسطاً لإمضاء البيع،وهو المسمَّى الدَّلال،لأنه يدلُّ المشتري على السلع،ويدلُّ البائع على الأثمان

Simsar merupakan profesi yang masuk dalam ruang antara penjual dan pembeli dan bertugas memfasilitasi terjadinya proses jual beli. Profesi ini juga dikenal sebagai al-dalal (analis pasar), karena ia memainkan peran sebagai 2 fungsi, yaitu menunjukkan kepada pembeli akan adanya suatu komuditas, dan menunjukkan penjual akan adanya harga.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, Juz 15, halaman 10).

Hukum asal dari setiap profesi pada hakikatnya jawaz (boleh), kecuali ditemui adanya illat keharaman melakukannya. Profesi broker/pialang/samsarah ini disebutkan oleh Imam Bukhari hakikatnya adalah jawaz (boleh), sebagaimana pernyataan beliau:

باب أجرة السمسرة ولم يرَ ابن سيرين وعطاء وإبراهيم والحسن بأجر السمسار بأساً.وقال ابن عباس:لا بأس أن يقول بعْ هذا الثوبَ فما زاد على كذا وكذا فهو لك.وقال ابن سيرين:إذا قال له بعه بكذا فما كان من ربحٍ فهو لك أو بيني وبينك فلا بأس به.وقال النبي صلى الله عليه وسلم:(المسلمون عند شروطهم

“Bab upah makelar. Ibnu Sirin, Atha’, Ibrahim dan al-Hasan tidak melihat adanya bahaya pada upayanya jasa makelar ini. Ibnu ‘Abbas juga mengatakan: “Tidak apa-apa seseorang mengatakan, jualkan baju ini. Jika ada harga lebih dari sekian-sekian, maka kelebihan itu milikmu.” Ibnu Sirin malah mengatakan: “Bila seseorang mengatakan kepada selainnya “jualkan baju ini dengan harga sekian. Jika ada kelebihan keuntungan, maka keuntungan itu sepenuhnya milikmu. Atau, jika ada kelebihan keuntungan, maka keuntungan itu kita bagi berdua”. Perkataan seperti ini adalah tidak apa-apa. Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang muslim senantiasa di sisi syarat yang telah dibuatnya.”. (Shahih Bukhari, Juz 5, halaman 357-358).

Baca Juga :  Bagaimana Suasana Alam Kubur? Ini Penjelasan Rasulullah

Menyimak dari komentar Al-Muhaddits Imam Bukhari terhadap profesi pialang di atas, maka dapat ditarik 2 hal pokok hukum yang berlaku atas kebolehan profesi broker ini, antara lain:

Pertama, komisi yang diterima oleh broker adalah bisa ditetapkan melalui 3 hal, yaitu: a) melalui akad prestasi (jualah), b) melalui akad ijarah (upah), dan c) dibiarkan mencari untung sendiri (wakalah). Untuk upah versi mencari untung sendiri ini, dalam Madzhab Maliki dikenal sebagai syirkah wujuh (kemitraan berbasis reputasi). Upah broker ini bergantung kepada kesepakatan dengan pihak yang menyuruh. Jika yang menyuruh adalah penjual, maka ia mendapat komisi dari penjual. Jika ia disuruh oleh pembeli, maka ia mendapat komisi dari penjual dan pembeli.

Bagaimana jika disuruh keduanya? Ulama dari kalangan Hanafiyah, Syafiiyah dan Hanabilah tidak menjelaskan secara terang dalam masalah ini. Satu-satunya yang menjelaskan  secara terang (dhahir) bahwa broker bisa mendapat upah dari kedua pihak adalah ulama dari kalangan Malikiyah. Meski demikian, ada catatan yang diberikan oleh ulama kalangan Malikiyah ini, yaitu upah dari kedua pihak itu bisa diterima hanya jika,  yaitu: 1) bila tidak ada “syarat” sebelumnya yang disepakati antara broker dan kedua pihak yang difasilitasinya, dan 2) tidak ada ‘urf (tradisi) yang menunjukkan bahwa pihak makelar harus menerima dari salah satu pihak yang difasilitasinya saja.

فإذا لم يكن شرطٌ ولا عرفٌ،فالظاهر أن يقال:إن الأجرة على من وسَّطه منهما،فلو وسَّطه البائع في البيع كانت الأجرة عليه،ولو وسَّطه المشتري لزمته الأجرة،فإن وسَّطاه كانت بينهما

“Ketika tidak ada syarat dan urf, maka pendapat yang terang kesahihannya adalah jika ditetapkan bahwa sesungguhnya ujrah makelar wajib atas orang yang difasilitasinya dari kedua pihak. Jika yang difasilitasi adalah penjual, maka ujrah makelar wajib atas penjual tersebut. Jika pihak yang difasilitasi adalah pembeli, maka ujrah makelar, berlaku mengikat atas pembeli itu. Dan jika yang difasilitasi adalah kedua belah pihak, maka ujrah itu juga berlaku atas keduanya.” (Al-Wisathah al-Tijariyah, halaman 382).

Baca Juga :  Puasa sebagai Pelatihan Ruhaniah

Kedua, obyek kerja broker harus halal. Maksud halal ini, menyangkut 2 hal, yaitu: 1) halal dari segi cara menjualbelikannya, dan 2) halal dari segi perusahaan penerbit sahamnya.

Maksud dari halal dari segi menjualbelikannya adalah bahwa dalam jual beli itu tidak boleh berlaku illat larangan jual beli, yaitu riba, spekulatif (maisir), menipu, curang, fiktif, dan sejenisnya. Bebas dari illat-illat keharaman tersebut, menjadikan profesi broker adalah diperbolehkan.

Sementara itu, maksud dari halal dari segi perusahaan penerbit saham, adalah jika saham itu merupakan milik perusahaan pemroduksi minuman keras, maka jelas bahwa saham tersebut adalah haram. Haramnya saham sebab secara jelas menyatakan kepemilikan atas sesuatu yang diharamkan secara nash. Namun, lain bila saham itu milik perusahaan tekstil dan sejenisnya, maka sudah pasti boleh sebab profesi pembuat kain atau tekstil adalah profesi yang tidak dilarang syara’.

Alhasil, hukum yang berlaku atas profesi broker saham adalah bergantung pada 1) mekanisme jual beli saham (trading) dan 2) profesi perusahaan penerbit saham. Kesahihan dua hal di atas, otomatis menyatakan sahihnya profesi broker / pialang / makelar saham. Ketidaksahihan keduanya, menyebabkan batilnya profesi broker. Wallahu a’lam bi al-shawab

3 KOMENTAR

  1. Assalamu’alaikum
    Saya ingin bertanya, bagaimana hukum investasi dalam dunia treding, yang mana member memberikan modal pada owner (treder handal) anggap 500$, kemudian si owner itu sendiri mengatakan kalau modalnya 500$ maka profit wajib harian adalah 30-50$.
    Barulah owner itu mentredingkan modal si member tadi.
    Terima kasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here