Hukum Menimbun Masker saat Mewabahnya Virus

0
1365

BincangSyariah.Com – Kasus infeksi virus corona secara global terus mengalami peningkatan dari hari ke hari. Terbaru, Presiden Joko Widodo telah mengumumkan bahwa dua orang di Indonesia telah terjangkit virus corona. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) bahkan telah menetapkan kasus virus corona sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Seperti telah diketahui bahwa pasca adanya pernyataan resmi tersebut, permintaan pasar terhadap kebutuhan masker meningkat drastis. Sayangnya di tengah ketakutan masyarakat atas mewabahnya virus ini ada segelintir orang yang justru menganggap keadaan darurat ini sebagai peluang untuk meraup keuntungan materi dengan menimbun masker dan kemudian menjualnya dengan harga yang sangat mahal. Beberapa sumber menyebutkan bahwa harga masker saat ini meningkat sepuluh kali lipat dari biasanya. Mulanya berkisar di harga Rp30.000 per kotaknya, saat ini mencapai Rp300.000 per kotak.

Banyak sekali hadis Rasulullah saw. yang secara tekstual jelas-jelas menunjukkan haramnya penimbunan. Di antaranya adalah hadis riwayat Imam Ahmad dari Ma’qil bin Yasar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

مَن دَخَلَ في شيء مِن أسعارِ المسلمين لِيُغْلِيَهُ علَيهِم، فَإِنَّ حَقًّا على الله أَن يُقْعِدَهُ بِعظم مِن النَّارِ يومَ القِيَامَةِ.

“Siapa yang masuk ke dalam (memonopoli) harga (barang-barang) kaum muslimin untuk menaikkan harganya, maka sudah menjadi ketetapan Allah Swt untuk mendudukkanya pada tulang yang terbuat dari api kelak di hari kiamat.” (HR Ahmad).

Dan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah r.a. di bawah ini:

مَنِ احتَكَرَ حُكْرةً يريدُ أن يُغْليَ بِها علَى المسلِمينَ، فهو خاطئٌ.

“Siapa yang menimbun bahan kebutuhan manusia dan hendak memahalkan harganya untuk kaum muslimin, maka dia berdosa.” (HR Ahmad).

Baca Juga :  Lebih Utama Berzikir dengan Jari atau Alat Tasbih?

Ibn Majah bahkan meriwayatkan sebuah hadis dari Umar bin Khattab yang menerangkan ‘ancaman’ terhadap pelaku penimbunan. Rasulullah saw. bersabda:

من احتكر على المسلمين طعامهم، ضربه الله بالجذام والإفلاس.

“Siapa yang menimbun makanan (dan menyulitkan) atas kaum muslimin, maka Allah akan menyiksanya dengan kebangkrutan dan penyakit kusta.” (HR Ibn Majah)

Dari beberapa hadis di atas, para ulama menyatakan bahwa penimbunan barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh manusia, seperti makanan, adalah perbuatan yang diharamkan. Lebih jelas lagi Abu Ishaq asy-Syirazi dalam Muhadzzab-nya menerangkan batasan menimbun yang diharamkan:

وهو أن يبتاع في وقت الغلاء ويمسكه ليزداد في ثمنه.

“Menimbun (yang diharamkan) adalah membeli di saat harga mahal/langka dan disimpannya agar terus bertambah mahal harganya.”

Mayoritas ulama mazhab Syafi’i sepakat bahwa hukum menimbun makanan pokok adalah haram. Adapun menimbun barang selainnya, maka tidak haram. Hukumnya memang dibedakan sebab tingkat kebutuhan manusia akan makanan jelas di atas barang-barang lainnya. Beberapa hadis Nabi tentang ini juga mengarah pada penimbunan makanan.

Namun, sebagian ulama lainnya (baik dari mazhab Syafi’i sendiri atau di luarnya) berpendapat keharaman menimbun tidak terkhusus pada makanan. Misalnya Al-Qadli Husain yang mengatakan, menimbun pakaian pun tidak diperbolehkan jika kebutuhan orang-orang akan pakaian sangat mendesak/darurat. Pernyataan Al-Qadli Husain ini diamini oleh As-Subki yang juga bermazhab Syafi’i (lihat Muhammad Najib al-Muthi’i, Takmilah al-Majmū’).

Badruddin asy-Syaukani menerangkan bahwa penyebutan “makanan” dalam beberapa riwayat hadis bukan untuk membatasi makna penimbunan pada hadis lain yang tidak menyertakan kata “makanan”. Sebab menurut beliau jika alasan di balik keharaman menimbun adalah mendatangkan kesulitan/kemudaratan bagi manusia, maka hal ini tidak hanya terjadi terkhusus pasa makanan. Begini kata beliau dalam Nail al-Authar:

والحاصل أن العلة إذا كانت هي الإضرار بالمسلمين لم يحرم الاحتكار إلا على وجه يضر بهم، ويستوي في ذلك القوت وغيره؛ لأنهم يتضررون بالجميع

Baca Juga :  Hukum Mengonsumsi Telur Penyu

“Kesimpulannya: jika alasannya adalah mendatangkan kemudaratan bagi umat Islam, maka menimbun tidaklah diharamkan kecuali dengan cara yang memang merugikan/memudaratkan pada mereka. Dalam hal ini sama halnya antara makanan pokok dan yang lainnya. Karena umat bisa saja mendapatkan kemudaratan dari apa saja.”

Pendapat yang terakhir ini dinilai lebih relevan dengan perkembangan zaman, sebab dewasa ini kebutuhan primer manusia akan sesuatu tidak lagi melulu soal makanan. Dan, penimbunan benda apapun yang, jika dilakukan, bisa menimbulkan kemudaratan bagi banyak orang adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Dengan demikian, penimbunan masker yang terjadi belakangan ini telah menyimpang dari aturan syariat.

Selain melanggar syariat, secara hukum negara, penimbunan masker merupakan pelanggaran atas ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan (UU 7/2014) yang berbunyi:

“Pelaku Usaha dilarang menyimpan Barang kebutuhan pokok dan/atau Barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan Barang, gejolak harga, dan/atau hambatan lalu lintas Perdagangan Barang.”

Sementara Allah Swt. berfirman dalam QS An Nisa ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-Nya, dan ulil amri (pemerintah) di antara kamu sekalian.”

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, menimbun masker adalah perbuatan yang diharamkan. Haram karena melanggar larangan Rasulullah saw. dan haram karena melanggar aturan pemerintah. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here