Hukum Menimbun Barang Dagangan

1
7756

BincangSyariah.Com – Dalam kondisi tertentu, kadang seseorang membeli barang sebanyak-banyaknya untuk ditimbun dan dijual kembali di waktu harga mahal. Misalnya, membeli bensin dan padi untuk ditimbun dan kemudian dijual pada waktu harga naik dan mahal. Dalam Islam, bagaimana hukum menimbun barang untuk dijual di waktu mahal?

Di dalam kitab-kitab fiqih, menimbun barang dengan tujuan dijual di waktu mahal agar bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak disebut dengan ihtikar. Semua ulama sepakat bahwa hukum ihtikar adalah haram, meskipun akad jual-belinya tetap dinilai sah.

Di dalam kitab Fathul Mu’in, Syaikh Zainudin al-Malibari mendefinisikan ihtikar sebagai berikut;

الِاحْتِكَارُ هو إمساك ما اشتراه في وقت الغلاء – لا الرخص – ليبيعه بأكثر عند اشتداد حاجة أهل محله أو غيرهم إليه

“Ihtikar adalah menahan (menimbun) barang yang dibelinya di waktu harga mahal, bukan di waktu harga murah, dengan tujuan untuk dijual lebih tinggi ketika penduduk setempat atau lainnya sangat membutuhkan.”

Salah satu alasan praktek ihtikar diharamkan karena akan membuat kesulitan kepada masyarakat umum, baik dari sisi barang maupun harga. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh Syaikh Zakaria al-Anshari dalam kitab Asnal Mathalib berikut;

فَيَحْرُمُ الِاحْتِكَارُ  لِلتَّضْيِيقِ عَلَى النَّاسِ

“Maka ihtikar (menimbun barang) hukumnya adalah haram karena ada unsur menyulitkan masyarakat.”

Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa jika seseorang sengaja menimbun barang, maka Allah akan melaknatnya dengan penyakit kusta dan kerugian. Hadis dimaksud diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Nabi Saw bersabda;

مَنْ اِحْتَكَرَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ طَعَامَهُمْ ضَرَبَهُ اللَّهُ بِالْجُذَامِ وَالْإِفْلَاسِ

“Barangsiapa melakukan ihtikar atau menimbun makanan kaum Muslimin, maka Allah akan memberinya dengan penyakit kusta dan kerugian.”

Baca Juga :  Barang Terkena Najis, Apakah Boleh Diperjualbelikan?

Karena itu, kita dilarang menimbun barang dengan tujuan dijual di waktu mahal, baik berupa makanan pokok, kebutuhan pokok seperti bensin dan lainnya. Bahkan sengaja menimbun barang selama 40 hari termasuk perbuatan tercela dalam Islam. Nabi Saw bersbda;

من احتكر طعاما أربعين يوما ثم تصدق به لم يكن له كفارة

“Barangsiapa menimbun makanan selama 40 hari dan kemudian disedekahkan, maka hal tersebut tidak cukup menjadi penebus atas dosanya.”

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here