Hukum Menikah dengan Wanita Tak Berhijab

0
1343

BincangSyariah.Com – Menikah adalah hal yang mubah dan dianjurkan oleh agama Islam. Bahkan, Nabi Saw. sampai pernah bersabda bahwa dalam posisinya sebagai Nabi dan harus menjadi teladan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, itu tidak menghalangi beliau untuk menikah. Dalam riwayat lain, Nabi Saw. bahkan pernah bersabda,

النِّكَاحُ من سُنَّتِي فمَنْ لمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَليسَ مِنِّي ، و تَزَوَّجُوا ؛ فإني مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ ، و مَنْ كان ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ ، و مَنْ لمْ يَجِدْ فَعليهِ بِالصِّيامِ، فإنَّ الصَّوْمَ لهُ وِجَاءٌ

Pernikahan itu adalah bagian dari sunnahku. Maka siapa yang tidak mengerjakan sunnahku, ia bukan termasuk bagian dariku. Dan menikahlah, karena sesungguhnya saya berbangga dengan memperbanyak umat. Maka siapa yang memiliki kecukupan, menikahlah. Dan jika tidak memilikinya, berpuasalah, karena sesungguhnya puasa itu menjadi pelindung (H.R. Ibn Majah).

Banyak dari umat muslim, dari hadis diatas, dan sekian ayat Al-Quran dan hadis terkait pernikahan, membuat mereka termotivasi untuk mewujudkan pernikahan. Ada yang terwujud dengan sudah bertemu calon pasangan yang dirasa sudah mantap untuk sama-sama melangkah ke pelaminan karena dirasa apa yang diidealkan sudah tercapai, misalnya, sudah sama-sama seagama, restu orangtua masing-masing, dan kecukupan finansial serta kesiapan mental masing-masing. Namun ternyata calon istri tidak berhijab, meskipun ia tidak lalai melaksanakan kewajiban ibadah dalam agama dan berakhlak yang baik. Kalau kondisi seperti ini, apa hukumnya menikah dengan wanita tak berhijab?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa aspek yang perlu dijelaskan. Seseorang yang melaksanakan akad nikah dengan perempuan yang belum berhijab, akadnya tetap sah selama terpenuhi syarat-syarat akad nikah yaitu adanya mempelai pria, wali dari perempuan, dan dua orang saksi.

Baca Juga :  Siapakah Orang yang Paling Sabar?

Aspek berikutnya, pada prinsipnya, berhijab adalah bagian dari ajaran agama Islam tentang menutup aurat. Dan, perintah untuk menutup aurat adalah bagian dari ajaran agama Islam yang menjadi satu dari pertimbangan seseorang dalam menikah. Lebih jauh, faktor menjalankan ajaran agama disabdakan oleh Nabi Saw. sebagai faktor yang harus diproriataskan selain tiga faktor lain yaitu keturunan, paras, dan harta benda atau kekayaan.

Maka, meski tidak terkait sah tidaknya pernikahan, namun penting bagi calon suami atau suami (jika akhirnya menikah) untuk menjelaskan dan mendidik dengan baik tentang persoalan aurat dalam Islam. Dan sebelum menikah, suami dan istri seyogyanya harus bersepakat untuk mengedepankan nilai-nilai yang menjadi pegangan keluarga, dalam hal ini adalah ajaran Islam, diantaranya adalah persoalan hijab tersebut. Jika ini tidak disepakati, maka bukankah tujuan dari pernikahan yaitu ketenangan (as-sakinah) menjadi tidak tercapai?

Jika calon istri sudah menunjukkan komitmen untuk menjadi muslimah yang baik, termasuk menaati jika diminta untuk menutup aurat dengan baik, maka pernikahan tersebut masih dalam ruang lingkup menjalankan kesunahan. Terkait dengan kesunahan menjelaskan ajaran agama, dimulai dari pasangan hidup sendiri, disabdakan oleh Nabi Saw. seperti diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah Ra.

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئاً، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئاً.

Siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia mendapatkan pahala setara dengan sejumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dari pahala orang tersebut. Dan siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa setara dengan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa yang telah mereka perbuat sebelumnya. (H.R. Muslim).

Wallahu al-Musta’aan. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here