Hukum Mengumpat dengan Cebong atau Kampret

0
869

BincangSyariah.Com – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “umpat” diartikan dengan perkataan yang keji (kotor dan sebagainya) yang diucapkan karena marah (jengkel, kecewa, dan sebagainya). Mengumpat sendiri berarti mengeluarkan umpatan.

Dalam bahasa Arab, kata ini bisa diwakili dengan beberapa kata. Di antaranya ada asy-syatm dan as-sabb. As-syatm adalah menisbatkan orang lain pada sesuatu yang mengarah pada kekurangan dan penghinaan. Sedangkan as-sabb dalam beberapa kamus bahasa Arab diartikan dengan as-syatm. Artinya, makna yang dimaksud dari dua kata tersebut memang sama.

Kendati umpat dan as-sabbu/asy-syatm memiliki pengertian berbeda, namun kita bisa memahami bahwa keduanya memiliki kesamaan dalam praktiknya. Ketika ada orang yang berkata pada temannya, “Hei, Cebong” atau “Hei, Kampret”, maka bisa kita katakan dia telah mengeluarkan umpatan dan juga melakukan as-sabb.

Tidak sulit untuk mencari dalil tentang hukum as-sabb atau mengumpat. Banyak sekali hadis yang secara tegas menyatakan haramnya mengumpat. Di antaranya adalah hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim:

سِبابُ المسلمِ فِسقٌ

“Mengumpati orang Islam adalah perbuatan fasik.”

Mengumpat tentu memiliki banyak variasi. Setiap bahasa atau daerah memiliki cara berbeda dalam mengeluarkan umpatan. Namun, ada satu cara mengumpat yang sama dan terlaku di banyak tempat, yakni mengumpat dengan nama hewan, seperti umpatan “Anjing”, “Monyet”, “Babi”, dan penghuni kebun binatang lainnya.

Umpatan-umpatan semacam ini menurut Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Ażkar tidak diperbolehkan karena mengandung dua hal:, satu, kebohongan, sebab yang diajak bicara adalah manusia. Dan kedua, menyakiti hati sesama manusia.

Sebagian ulama memperbolehkan melawan makian orang lain yang ditujukan kepada kita. Tentunya untuk melakukannya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagaimana dikutip Syekh Nawawi Banten dalam Syarh Sullam At-Taufiq:

قال شيخُ الإسلامِ إذا سبَّ شخصٌ شخصاً آخرَ فللآخرِ أنْ يسُبَّه بقدْرِ ما سبَّه في العددِ ولا يجوزُ سبُّ أبيه ولا أمِّه وإنّما يسبُّه بما ليسَ كِذْباً ولا قذفاً

Baca Juga :  Hukum Merayakan Malam Tahun Baru Masehi

“Syaikhul Islam (Zakariya Al-Anshari) berkata: ‘Ketika seseorang memaki orang lain, maka bagi orang lain tersebut boleh membalas makiannya dengan kadar dan jumlah yang sama. Tidak diperbolehkan memaki bapak atau ibu dari orang yang memakinya. Dan, dia hanya boleh memaki dengan kata-kata yang bukan kebohongan atau tuduhan zina.’”

Jika demikian, mengumpat dengan nama hewan tidak dibenarkan—meski dalam rangka melawan, sebab mengandung kebohongan. Ulama mencontohkan umpatan yang diperbolehkan (dalam keadaan yang memperbolehkan mengumpat, semisal untuk melawan umpatan orang lain) adalah seperti ucapan “Hai, orang yang zalim”. Ini diperbolehkan karena bersih dari kebohongan.

Sebab, zalim artinya adalah melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama. Kenyataannya setiap orang pernah melanggarnya; melakukan dosa. Dan kalaupun ada orang yang melakukan dosa tanpa merugikan orang lain, maka setidaknya dia telah menzalimi dirinya sendiri.

Walakin, meski yang demikian ini hukumnya diperbolehkan, tidak ada ayat Alquran, hadis atau kalam ulama yang memerintahkan membalas makian dengan makian. Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here