Hukum Mengubah Nilai Mahar Setelah Akad Nikah

0
1724

BincangSyariah.com – Mahar adalah sesuatu yang wajib diberikan kepada istri setelah resmi melakukan akad nikah. Semua nilai mahar yang diminta oleh istri wajib dipenuhi oleh suami, baik dibayar tunai maupun ditunda sesuai dengan kesepakatan antara suami dan istri atau walinya. Kadang karena nilai mahar terlalu besar saat akad nikah sehingga suami tidak sanggup membayar semuanya. Pada akhirnya, istri mengubah nilai mahar menjadi lebih sedikit. Bagaimana hukum mengubah nilai mahar tersebut setelah akad nikah, apakah boleh?

Mengubah nilai mahar setelah akad nikah hukumnya boleh asal dengan kerelaan dari istri, bukan karena terpaksa atau lainnya. Mahar menjadi hak milik istri seluruhnya. Dia boleh menggunakan mahar sesuai kemauannya, termasuk mengurangi nilai mahar atau membebaskan keseluruhan mahar dari tanggung jawab suami.

Namun jika istri dipaksa atau ada tekanan untuk mengurangi nilai mahar atau membebaskan semuanya, maka hal tersebut tidak diterima dan tetap menjadi tanggung jawab suami untuk membayar semuanya.

Dalil yang dijadikan hujjah oleh ulama atas kebolehan mengurangi nilai mahar adalah surah Annisa ayat 4, Allah berfirman;

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْساً فَكُلُوهُ هَنِيئاً مَرِيئاً

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”

Ayat ini berisi perintah bagi suami untuk memberikan mahar kepada istri yang telah dinikahinya. Juga berisi kebolehan bagi suami untuk makan mahar tersebut jika istri rela memberikannya.

Selain itu, menurut Imam Ar-Razi, istri tidak hanya diperbolehkan memberikan maharnya kepada suami untuk dimakan. Bahkan, istri diperbolehkan menghibahkan mahar tersebut kepada suaminya, baik sebagian atau seluruhnya, meskipun dia belum menerima maharnya. Beliau berkata;

Baca Juga :  Tafsir An-Nisa' [4]: 19: Sayangi Pasangan Hidup Kita

دلت هذه الآية على أمور : منها : ان المهر لها ولا حق للولي فيه ، ومنها جواز هبتها المهر للزوج ، وجواز أن يأخذه الزوج ، لأن قوله : { فَكُلُوهُ هَنِيئاً مَّرِيئاً } يدل على المعنيين ، ومنها جواز هبتها المهر قبل القبض

“Ayat ini (surah An-Nisa ayat 4) menunjukkan pada beberapa perkara. Di antaranya, mahar sepenuhnya hak milik istri dan walinya tidak memiliki hak sama sekali. Di antaranya juga, boleh bagi istri memberikan maharnya pada suami dan suami boleh mengambilnya. Hal karena firman Allah, ‘maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya’ menunjukkan dua pengertian, di antaranya boleh bagi istri menghibahkan maharnya meskipun belum diterima.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here