Hukum Mengonsumsi Kopi Luwak, Halal Atau Haram?

0
95

BincangSyariah.Com – Kopi luwak berasal dari biji kopi yang dimakan oleh hewan luwak, dan kemudian dikeluarkan kembali bersama kotorannya. Kemudian diolah menjadi serbuk kopi yang dikonsumsi masyarakat dan dikenal sebagai kopi luwak. Bagaimana hukum mengonsumsi kopi luwak, halal atau haram?

Menurut para ulama, jika seekor hewan makan biji-bijian dan kemudian biji-bijian tersebut keluar dalam keadaan utuh dan tidak hancur, maka biji-bijian tersebut hanya dihukumi mutanajjis atau terkena najis, bukan najis. Artinya, biji-bijian tersebut boleh dimakan dengan catatan bagian luarnya harus dicuci terlebih.

Begitu juga dengan hukum kopi luwak. Karena kopi yang dimakan oleh hewan Luwak keluar dalam keadaan masih utuh dan tidak hancur, maka ia boleh dan halal dimakan dengan catatan bagian luarnya harus dicuci terlebih dahulu sebelum diolah menjadi serbuk kopi.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab berikut;

ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﺖ ﺍﻟﺒﻬﻤﻴﺔ ﺣﺒﺎ ﻭﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﺑﻄﻨﻬﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﻼﺑﺘﻬﺎ ﺑﺎﻗﻴﺔ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻧﺒﺖ ﻓﻌﻴﻨﻪ ﻃﺎﻫﺮﺓ ﻟﻜﻦ ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻞ ﻇﺎﻫﺮﻩ ﻟﻤﻼﻗﺎﺓ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻻﻧﻪ ﻭﺍﻥ ﺻﺎﺭ ﻏﺬﺍﺀ ﻟﻬﺎ ﻓﻤﺎ ﺗﻐﻴﺮ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻔﺴﺎﺩ ﻓﺼﺎﺭ ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﻧﻮﺍﺓ ﻭﺧﺮﺟﺖ ﻓﺄﻥ ﺑﺎﻃﻨﻬﺎ ﻃﺎﻫﺮ ﻭﻳﻄﻬﺮ ﻗﺸﺮﻫﺎ ﺑﺎﻟﻐﺴﻞ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﻼﺑﺘﻬﺎ ﻗﺪ ﺯﺍﻟﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻟﻢ ﻳﻨﺒﺖ ﻓﻬﻮ ﻧﺠﺲ ﺫﻛﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻔﺼﻴﻞ ﻫﻜﺬﺍ ﺍﻟﻘﺎﺿﻰ ﺣﺴﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺘﻮﻟﻰ ﻭﺍﻟﺒﻐﻮﻯ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ

Ulama Syafiiyah berkata; Ketika binatang menelan sebuah biji, lalu keluar dari perutnya dalam keadaan utuh, maka harus dilihat dari kerasnya biji itu. Kalau kerasnya biji itu tetap dalam arti ketika biji itu ditanam lantas tumbuh, maka hukum biji itu suci. Tetapi wajib dicuci permukaan biji itu karena bersentuhan dengan najis. Karena, meskipun biji itu merupakan makanan binatang itu, tetapi biji tersebut tidak menjadi rusak. Ini sama halnya dengan biji yang ditelan binatang, lalu keluar dari duburnya, maka bagian dalam bijinya adalah suci dan suci kulit bijinya dengan dibasuh. Tetapi jika kekerasan biji itu hilang artinya ketika biji ditanam tidak tumbuh, maka hukum biji itu najis. Demikian disebutkan secara rinci. Begitulah dikatakan oleh Al-Qadhi Husain, Al-Mutawalli, Al-Baghawi, dan ulama lain.

Dalam kitab Fathul Mu’in, Syaikh Zainuddin Al-Malibari berkata sebagai berikut;

Baca Juga :  Hukum Makan Daging Kuda, Haramkah Memakannya?

ﻭﻟﻮ ﺭﺍﺛﺖ ﺃﻭ ﻗﺎﺀﺕ ﺑﻬﻴﻤﺔ ﺣﺒﺎ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺻﻠﺒﺎ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻧﺒﺖ، ﻓﻤﺘﻨﺠﺲ ﻳﻐﺴﻞ ﻭﻳﺆﻛﻞ، ﻭﺇﻻ ﻓﻨﺠﺲ

Seandainya seekor binatang mengeluarkan kotoran atau memuntahkan biji-bijian, jika biji itu masih keras sekira kalau ditanam masih tumbuh, maka hukumnya adalah mutanajjis yang dapat dibasuh dan kemudian dimakan. Tetapi jika tidak keras lagi, maka najis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here