Hukum Menggunakan Rum saat Membuat Kue

3
347

BincangSyariah.Com – Dalam Wikipedia disebutkan bahwa Rum adalah minuman beralkohol hasil fermentasi dan distilasi dari molase (tetes tebu) atau air tebu yang merupakan produk samping industri gula. Meski mengandung alkohol, Rum banyak digunakan sebagai bahan tambahan untuk membuat kue atau makanan lainnya. Dalam Islam, bagaimana hukum menggunakan Rum saat membuat kue atau makanan lainnya?

Untuk mengetahui bagaimana hukum menggunakan Rum yang mengandung alkohol, maka terlebih dahulu harus mengetahui bahan dasar dari Rum dan kadar kandungan alkoholnya. Jika Rum terbuat dari bahan dasar yang suci, maka dihukumi suci. Namun, jika terbuat dari bahan dasar yang najis, maka dihukumi najis. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Rum terbuat dari bahan dasar air tebu dan air tebu adalah suci. Karena itu, Rum dihukumi suci.

Karena terbuat dari bahan dasar yang suci, apakah Rum bisa diminum atau digunakan sebagai bahan tambahan saat membuat kue?

Untuk menjawab masalah ini, perlu diketahui terlebih dahulu kadar kandungan alkoholnya. Jika kadar kandungan alkoholnya tinggi dan menurut medis bisa memabukkan jika diminum, maka Rum dihukumi sebagai khamr. Karena dihukumi khamr, maka tidak boleh diminum dan juga tidak boleh digunakan sebagai bahan tambahan untuk membuat kue atau makanan lainnya, baik banyak atau sedikit.

Namun jika kandungan alkoholnya sedikit dan menurut medis tidak memabukkan jika diminum, maka Rum tidak termasuk khamr. Karena itu, boleh diminum dan digunakan sebagai bahan tambahan untuk membuat kue atau makanan lainnya.

Hal ini karena suatu minuman, makanan atau benda dihukumi khamr jika memenuhi dua unsur. Pertama, bisa mendatangkan kesenangan berlebihan atau syiddatul muthribah, seperti narkoba. Kedua, bisa memabukkan. Jika dua unsur ini terpenuhi, maka minuman, makanan atau benda tersebut dihukumi sebagai khamr dan karena itu haram dikonsumsi, baik banyak maupun sedikit. Namun, jika dua unsur ini tidak ada, maka tidak dikategorikan sebagai khamr.

Baca Juga :  Bagaimana al-Qur’an Memandang Non-Muslim?

Imam Almawardi dalam kitab Alhawi Alkabir mengatakan sebagai berikut;

وهو أن الخمر مختص بمعنيين صفة بخله وهي الشدة المطربة وتأثير يحدث عنه وهو السكر يثبت بها اسم الخمر وتحريمه ويزول بارتفاعها اسم الخمر وتحريمه

“Sesungguhnya khamr memiliki dua pengertian khusus. (Pertama), karakter cukanya, yaitu mendatangkan kesenangan berlebihan. (Kedua), pengaruh yang ditimbulkan, yaitu memabukkan. Dengan adanya dua unsur ini, maka sebutan khamr dan keharamannya bisa melekat dan bila keduanya hilang, maka sebutan khamr dan keharamannya juga hilang.”

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Rum bisa diminum atau digunakan sebagai bahan tambahan saat membuat kue jika memenuhi dua syarat. Pertama, terbuat dari bahan dasar yang suci. Kedua, kadar alkoholnya sedikit dan menurut medis tidak memabukkan. Namun jika terbuat dari bahan najis atau kadar alkoholnya tinggi dan menurut medis memabukkan, maka ia dihukumi sebagai khamr. Karena itu, tidak boleh digunakan baik banyak maupun sedikit.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here