Hukum Menggunakan Petasan Pada Perayaan

0
2860

BincangSyariah.Com – Petasan atau mercon sudah lama dikenal sebagai bagian dari budaya kebiasaan masyarakat Indonesia. Keberadaan petasan berdasarkan data sejarah, dapat ditelusuri berasal dari temuan masyarakat Tiongkok di abad ke-9 Masehi. Meski ada perdebatan waktu persisnya, keberadaan petasan yang berasal dari Tiongkok kini telah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Bubuk mesiu yang menjadi bahan yang membuat petasan dapat meledak adalah diantara bahan yang juga digunakan untuk persenjataan api, bahkan sampai hari ini. Jadi, petasan dan seluruh unsur di dalamnya, sebenarnya sangat dekat dengan peradaban manusia. Mulai dari konteks sebagai hiburan sampai hal krusial seperti senjata.

Sebagai bagian bentuk hiburan, masyarakat kini menggunakan petasan untuk memeriahkan berbagai acara. Mulai dari pernikahan, acara kampung, sampai yang hits tadi malam, petasan. Demi mengejar kemeriahan, banyak perseorangan bahkan institusi seperti pemerintah menyediakan sejumlah uang dalam jumlah besar untuk membeli petasan ini. Biasanya, mereka tembakkan ke langit. Tapi pertanyaannya, bermanfaatkah hal demikian? Bagaimana agama memandang hal ini?

Kebanyakan, para ulama yang memilih pendapat tidak boleh membakar petasan memandangnya sebagai bentuk pemborosan (tabdzir) dan berbahaya serta memberikan efek bahaya (dharar) khususnya bagi penggunanya. Ulama yang berpandangan demikian adalah K.H. Sahal Mahfudz, Syaikh ‘Utsaimin dari Saudi Arabia, hingga Dewan Fatwa Yordania (Dar al-Ifta al-Urduniyyah). Semuanya pada dasarnya mengamalkan surah al-Isra’ [17]: 27 tentang orang yang menghambur-hamburkan harta itu adalah saudara dari setan,

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا – الإسراء/27

Sesungguhnya orang-orang yang menghambur-hamburkan (tanpa manfaat yang jelas) itu adalah saudaranya setan. Dan setan itu ingkar terhadap Tuhan-Nya.

Dari ayat ini, secara zahir disimpulkan bahwa orang-orang yang menghamburkan harta – seperti membeli petasan misalnya dalam jumlah besar, padahal itu tidak lebih dari membakar uang – pada hakikatnya sedang meniru perilaku setan.

Baca Juga :  Apakah Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban termasuk Bid’ah?

Lebih lanjut, mengutip situs al-Islam, al-Su’al wa al-Jawab, penjelasan tentang keharaman menggunakan alat-alat yang mengarah pada pemborosan seperti petasan, ada isyaratnya dalam karya ulama terdahulu. Misalnya, dalam kitab Syarh Muntaha al-Iradat dari Mazhab Hanbali berikut ini,

جعل من شروط الرشد وهو حسن التصرف في المال : “أن يحفظ كل ما في يده عن صرفه فيما لا فائدة فيه ، كحرق نفطٍ يشتريه للتفرج عليه ، ونحوه” انتهى .

Diantara syarat “punya akal sehat” (dalam kepemilikan harta) adalah membelanjakan harta dengan efektif dan jelas. Maknanya, menjaga harta yang dimiliki dari penggunaan yang tidak memiliki faidah. Seperti, membakar minyak untuk menarik perhatian.  

Masih banyak argumen lain yang menjelaskan bahwa penggunakan petasan tersebut dihukumi haram, misalnya membuat kebisingan sehingga mengganggu orang lain.

Hukum berbahaya atau tidak memang tergantung bagaimana penggunanya mempersiapkan. Kalau persoalan mubazir atau tidak, ada banyak hal lagi yang masuk kepada cakupan dalil ini selama tujuannya tidak jelas. Tapi, ada banyak hal yang terjadi di dunia ini sebenarnya masuk kategori “mubazir” tapi dianggap baik-baik saja.

Tapi, penulis lebih cenderung memilih pendapat bahwa karena petasan dianggap sebagai sebuah “syiar” terjadi pergantian periode waktu seperti tahun baru, sementara sebenarnya ada banyak alternatif lain yang memiliki nilai manfaat yang jelas, baik, dan maslahah untuk menandai pergantian tahun. Misalnya, dengan mengadakan kumpul keluarga dan teman-teman, membaca doa agar menjadi insan yang lebih baik di masa mendatang, dan masih banyak lagi modelnya.

Ini belum ditambah jika ada faktor lain, seperti konteks Indonesia yang sedang dirundung bencana beberapa kali. Yang terdekat adalah peristiwa tsunami tak terduga di Tanjung Lesung dengan memakan korban lebih dari 400 orang. Bukankah kita harusnya tenggang rasa atau empati dengan menahan diri untuk menghabiskan dana untuk manfaat yang tidak terlalu besar, bahkan kecil sekali.

Baca Juga :  Merayakan Tahun Baru, Haramkah?

Demikian, semoga kita lebih baik lagi di tahun ini dan yang akan datang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here