Hukum Menggunakan Minyak Lintah untuk Pembesaran Penis

0
27

BincangSyariah.Com – Seringkali kita temui berbagai iklan yang menawarkan obat-obatan yang mereka klaim sebagai obat herbal yang bisa digunakan untuk membesarkan alat kelamin. Biasanya yang ditawarkan ialah berupa minyak lintah yang dihasilkan dari minyak ekstrak lintah, sejenis hewan yang mirip cacing yang biasanya menyedot darah. Beberapa pria yang tidak percaya diri dengan ukuran alat kelaminnya, seringkali tergiur untuk menggunakan minyak lintah tersebut.

Dalam syariat islam, terdapat ketentuan tidak diperbolehkannya merubah bentuk tubuh ciptaan Allah (taghyir al-khilqoh), sebagaimana disebutkan dalam kitab Nail al-Authar, hal. 343:

أن التحريم المذكور إنما هو فيما إذا كان لقصد التحسين لا لداء وعلة فإنه ليس بمحرم

Artinya: “Bahwasanya keharaman (merubah bentuk tubuh ciptaan Allah) berlaku jika diniatkan untuk tujuan kecantikan. Jika tujuannya ialah pengobatan atau cacat, maka hukumnya tidak haram”.

Dalam lanjutan keterangan di kitab tersebut, salah satu contoh taghyir al-khilqoh ialah mengikir gigi yang terlalu panjang atau mencabut gigi tambahan yang tiba-tiba muncul. Dalam hal ini, seorang lelaki yang ingin memperbesar penisnya biasanya memiliki kekhawatiran akan masuk dalam kategori melakukan tindakan merubah bentuk tubuh ciptaan Allah sebagaimana dijelaskan diatas.

Meskipun demikian, nyatanya dalam keterangan kitab diatas dijelaskan bahwasanya tidak semua upaya perubahan bentuk tubuh masuk dalam kategori sebagai taghyir al-khilqoh yang diharamkan oleh Allah. Terkait persoalan pembesaran penis ini, dijelaskan dalam kitab Qurrah al-‘Ayn, hal. 72 bahwasanya hukum membesarkan penis dengan pengobatan adalah mubah jika diniatkan untuk kebaikan:

والتقوى له بأدوية مباحة مع رعاية القوانين الطبية مع قصد صالح كعفة ونسل لأنه وسيلة لمحبوب فيكون محبوبا … إهـ نهاية

Artinya: “Fatwa dalam kitab Nihayah menyebutkan bahwasanya boleh memperbesar penis dengan tetap menjaga ketentuan medis dan bertujuan untuk kebaikan seperti ‘iffah (agar istri terpuaskan dan tidak terpikir untuk selingkuh), dan agar mendapatkan keturunan. Karena kedua alas an itu merupakan kebaikan, dan media menuju kebaikan dikategorikan sebagai kebaikan pula.

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa penggunaan obat-obatan untuk tujuan pembesaran penis hukumnya diperbolehkan selama diniatkan untuk kebaikan seperti agar memuaskan istri dan agar memperoleh keturunan. Tinggal sekarang persoalannya adalah pada minyak lintahnya itu sendiri.

Penggunaan minyak lintah sebagai obat alternatif pembesaran penis nyatanya masih menjadi placebo. Dikutip dari situs klikdokter.com, dijelaskan bahwa penggunaan minyak lintah sebagai alat pembesaran penis belum bisa diuji secara klinis dan karena kebanyakan minyak lintah yang dipasarkan ialah minyak lintah yang belum lolos uji BPOM, maka segala resiko dan efek samping masih sangat besar kemungkinannya untuk terjadi. Efek samping yang dimaksud ialah seperti alergi yang bisa ditunjukkan dengan gejala berupa iritasi, gatal, rasa perih atau panas, dan penis jadi kemerahan. Selain itu, efek penggunaan minyak lintah juga bisa menyebabkan infeksi bakteri dan virus pada penis.

Sehingga, jika kita kaitkan antara pernyataan tim medis dalam situs klikdokter dan penjelasan dalam kitab Qurrah al-‘Ayn, hal. 72, bahwa harus ada penjagaan terhadap ketentuan (prosedur) medis, maka sebaiknya bagi pria yang bermasalah dengan ukuran penis mereka, kami sarankan untuk menghubungi dokter dan tidak secara gegabah menggunakan obat minyak lintah yang belum teruji secara klinis. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here