Hukum Menggelengkan Kepala dan Menggerakkan Tubuh ketika Berzikir

3
600

BincangSyariah.Com – Sebagaimana yang sering kita saksikan, para pengikut tarekat melaksanakan zikir nafi itsbatlaailaha illallah” dengan cara duduk sambil menggelengkan kepala, ada pula yang melakukan zikir dengan cara berdiri sambil menggelengkan kepala dan menggerakkan tubuh. Bahkan dalam tarekat Maulawiyyah yang didirikan oleh Maulana Jalaluddin ar-Rumi, zikir dilakukan sambil terus menari. (Baca: Ngaji al-Hikam: Tanda-tanda Kesuksesan Menurut Sufi)

Dalam ajaran tarekat, menggelengkan kepala ketika berzikir tidak dilakukan secara asal, melainkan dengan cara tertentu. Dalam Salalim al-Fudhala, Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi menjelaskan adab dan tata cara berzikir, diantaranya sebagai berikut:

وَيَجُرُّ رَأْسَهُ بِمَدِّهَا مِنَ السُّرَّةِ إلي دِمَاغِ الرَّأْسِ وَيُمِيْلُ رَأْسَهُ اَلَى الْجِهَةِ الْيُمْنَى “بِلَا” وَيَرْجِعُ “بِإِلَهَ” اِلَى جِهَةِ صَدْرِهِ وَ”بِإِلَّا اللهِ” إِلَى جِهَةِ الْقَلْبِ وَهِيَ اَلْيَسَارُ وَيَضْرِبُ الْقَلْبَ بِقَوْلِهِ “اِلَّا اللهُ” ضَرْبًا قَوِيًّا, لِتَنْزِلَ الْجَلَالَةُ عَلَي القَلْبِ فَتَحْرِقَ سَائِرَ الْخَوَاطِرِ الرَّدِيْئَةِ. وَإِنَّمَا تُطْلَبُ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةُ لِتَمُرَّ الْكَلِمَةُ الْمُشَرَّفَةُ عَلَي اللَّطَائِفِ الْخَمْسِ وَهِيَ لَطِيْفَةُ الْقَلْبِ وَلَطِيْفَةُ الرُّوْحِ وَلَطِيْفَةُ السِّرِّ وَلَطِيْفَةُ الْخَفِيِّ وَلَطِيْفَةُ الْأَخْفَي.

Orang yang berzikir hendaknya menarik kepalanya, memanjang mulai dari pusar sampai ke otak, dan menggelengkan kepala ke arah kanan ketika membaca “laaa”, dan mengembalikan kepala ke arah dada ketika membaca lafad “ilaha”, kemudian mengarahkan kepala ke arah hati yang berada di sebelah kiri ketika lafad “illallah”. Dengan demikian, orang yang berzikir memukul hati dengan lafad “illallah dengan pukulan yang keras, agar lafad jalalah tersebut menetap di dalam hati dan membakar segala macam hasrat yang tidak terpuji. Cara zikir yang demikian dianjurkan agar kalimat yang mulia tersebut melewati lima lathaif, yaitu: lathifah qalbi, lathifah ruh, lathifah sirri, lathifah khafi, dan lathifah akhfa.”

Baca Juga :  Sahkah Jual-Beli Tanpa Akad?

Kemudian menurut terekat Maulawiyyah, Tarian Sufi yang terkenal dengan sebutan whirling dervishes dianggap sebagai bagian dari meditasi yang terkait erat dengan Tasawuf. Hal inilah yang membuat para penari Sufi mampu berputar dalam waktu yang lama tanpa merasa pusing.

Makna dari gerakan berputar dalam tarian tersebut adalah untuk menemukan tujuan hidup yan hakiki. Yaitu mencari Tuhan dan merasakanNya dalam gerakan berputar melawan arah jarum jam. Penari sufi harus melepaskan semua emosi, agar hanya merasakan kecintaan dan kerinduan mendalam pada Tuhan.

Dasar Gerakan Zikir

Gerakan zikir merupakan perbuatan yang diperbolehkan berdasarkan al-Qur’an, Hadis dan penjelasan para ulama, sebagaimana berikut:

  1. Al-Qur’an

Al-Qur’an memerintahkan kita untuk banyak berzikir baik dalam keadaan berdiri, duduk, dan ketika berbaring. Sehingga dapat dipahami bahwa berzikir sambil melakukan seluruh gerakan tersebut secara berturut-turut mulai dari berdiri, duduk kemudian berbaring juga diperbolehkan. Allah berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ …

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring...” (QS. Ali Imran [03] : 191)

  1. Hadis

Dalam beberapa hadis juga dijelaskan tetantang diperbolehkannya gerakan-gerakan yang mubah sebagaimana hadis berikut:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَتِ الْحَبَشَةُ يَزْفِنُونَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَيَرْقُصُونَ وَيَقُولُونَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- )مَا يَقُولُونَ(. قَالُوا يَقُولُونَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ

Dari Anas berkata, orang-orang Habasyah melompat dan menari di depan Rasulullah SAW. seraya mengucapkan: “Muhammad hamba yang saleh”, maka Rasulullah SAW. bersabda: “Apa yang mereka katakan?” Mereka menjawab: “Orang-orang Habasyah tersebut berkata: “Muhammad seorang hamba yang saleh”.” (HR. Ahmad).

Baca Juga :  Agar Perempuan Haid Dapat Keutamaan Lailatul Qadar

Dalam hadis di atas Rasulullah tidak mengingkari perbuatan orang Habasyah yang sedang bergembira melompat dan menari dengan tarian-tarian perang menggunakan pedang dan bayonet.

  1. Perkataan Sahabat

Al-Ghazali dalam Ihya’ menceritakan, suatu pagi, setelah salam shalat subuh, Ali bin Abu Thalib tampak berduka, sambil mebalikkan tangan, beliau berkata: “Sungguh aku telah melihat para sahabat Nabi Muhammad saw., dan pada hari ini aku tidak melihat satu pun yang menyerupai mereka. Pada pagi hari, rambut mereka tidak terurus, pucat, berdebu, dan (jidat) di antara mata mereka seperti lutut kambing. Setiap malam, mereka beribadah kepada Allah dengan bersujud dan berdiri, mereka membaca kitab Allah, dan mengayunkan tubuh di antara kaki dan dahi. Ketika pagi hari, mereka berzikir kepada Allah sambil menggoyangkan tubuh seperti pohon di musim angin, dan mata mereka berlinang air mata sampai membasahi pakaian.

Kisah di atas membuktikan, para sahabat juga menggerakkan tubuh ke-kanan dan ke-kiri ketika berzikir bagaikan pohon yang sedang tertiup angin. Sehingga dapat disimpulkan, menggerakkan tubuh ketika berzikir bukanlah perbuatan bid’ah.

  1. Perkataan Ulama

Dikutip dalam Risalah al-Qusyairiyyah, Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:

اَلْحَرَكَةُ اَلْبَرَكَةُ حَرَكَاتُ الظَّوَاهِرِ تُوْجِبُ بَرَكَاتِ السَّرَائِرِ

Bergerak itu barokah, gerakan lahir akan mengakibatkan keberkahan batin”.

Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa al-Haditsiyyah menjelaskan, tarian yang dilakukan oleh kaum sufi ketika wujdu (gembira) memiliki dasar dalam hadits, yaitu tarian Ja’far bin Abi Thalib di hadapan Rasulullah, ketika beliau berkata kepada Ja’far, “Engkau menyerupai fisik dan akhlakku”.

Tarian tersebut dilakukan Ja’far karena dia sangat senang mendengar perkataan Nabi tersebut, dan tarian tersebut tidak diingkari oleh Rasulullah.

Baca Juga :  Doa Nabi Musa dan Nabi Muhammad Saw Saat Dilanda Kesusahan

Selanjutnya Ibnu Hajar mengatakan “Dibenarkan berdiri dan menari dalam majelis zikir sebagaimana dikutip dari para pembesar ulama, di antaranya adalah Izzuddien Syaikhul Islam Ibnu Abdissalam”.

Manfaat Gerakan Zikir

Muhammad bin Abdul Karim al-Kasnazani al-Husaini dalam Mausu’ah al-Kasnazan fi Maa Isthalaha ‘Alaihi Ahlu Tashawwuf wal Irfan menjelaskan lima manfaat gerakan zikir sebagai berikut:

Pertama, menjadi sebab hadirnya hati.

Kedua, menghilangkan waswas dan bisikan buruk, sehingga hati hanya tertuju kepada Allah.

Ketiga, untuk membedakan sifat yang terpuji dan yang tercela dalam diri seorang murid. Syaikh Jamaluddin Abdullah al-Basthomi membuat perumpamaan hati dan nafsu bagaikan susu dan mentega, dimana sifat-sifat nafsu yang tercela membaur dengan sifat-sifat hati yang terpuji, sebagaimana mentega yang membaur dalam setiap partikel susu. Maka cara untuk membersihkan susu dari mentega adalah dengan memasukkan susu ke dalam guci atau geriba (wadah susu dari kulit), kemudian digantung dan terus digerakkan dengan kencang pada waktu yang cukup lama, sampai susu tersebut bersih.

Keempat, agar pengaruh zikir tersebut sampai ke dalam hati dan seluruh tubuh.

Kelima, untuk menambah semangat dalam berzikir.

3 KOMENTAR

  1. Bismillah.

    Doa dan dzikir adalah ibadah utama dalam Islam. Semakin penting suatu amalan, maka semakin mustahil para sahabat lupa menceritakan tata cara yang dilakukan Nabi dalam ibadah tersebut. Para sahabat saja tidak lupa menceritakan bahwa Nabi shallallah ‘alaihi wasallam menggerakkan jarinya ketika duduk tasyahhud. Lalu, apakah mereka lupa menjelaskan bagaimana Nabi shallallah ‘alaihi wasallam berdoa dan berdzikir?

  2. […] Masih menurut ar-Razi, orang yang berzikir dengan “Huu” hatinya akan diterangi dengan nur (cahaya) zikir, dan tidak terkontaminasi dengan dzulmah (kegelapan), karena ketika seseorang berzikir “Huu” yang diingat hanyalah huwiyyah atau hakikat Dzat Allah. Berbeda dengan nama-nama Allah yang lain, semisal “Yaa Rahmaan” maka dia akan mengingat belas kasih Allah dan kemudian mengharapkan kasih sayang tersebut untuk dirinya. (Baca: Hukum Menggelengkan Kepala dan Menggerakkan Tubuh ketika Berzikir) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here