Hukum Menggelar Walimah di Jalanan Umum

0
2608

BincangSyariah.Com – Karena padatnya permukiman di kota-kota, banyak kita jumpai orang yang menggelar walimah di jalanan umum. Menutup akses jalan hingga banyak orang yang ingin berjalan harus memutar melewati jalan lain. Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya hukum menggelar hajatan atau walimah di jalanan umum?

Perlu diketahui, menurut pendapat mayoritas ulama hukum mengadakan walimah adalah sunah bagi yang mampu. Tapi zaman sekarang, di perkotaan khususnya, banyak yang mampu mengadakan walimah tapi terhalang kesediaan tempat pesta yang layak. Sehingga banyak di antaranya yang menggunakan fasilitas jalanan umum untuk dipakai hajatan walimah.

Terdapat sebuah hadis yang menyinggung permasalahan penggunaan jalan untuk kepentingan pribadi. Dalam sebuah riwayat hadis dalam Shahih Muslim dikatakan

عنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّهُ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

Dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi Saw beliau bersabda: “Hindarilah olehmu duduk-duduk di pinggir jalan!” Para sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah bagaimana kalau kami butuh untuk duduk-duduk di situ memperbincangkan hal yang memang perlu?.’ Rasulullah Saw menjawab: ‘Jika memang perlu kalian duduk-duduk di situ, berikanlah hak jalanan.’ Mereka bertanya; ‘Apa haknya ya Rasulullah? ‘ beliau menjawab: ‘Tundukkan pandangan, jangan mengganggu, menjawab salam (orang lewat), menganjurkan kebaikan, dan mencegah yang mungkar.’ (HR. Muslim)

Meskipun konteks kejadian dalam hadis hanya larangan untuk duduk-duduk di pinggir jalan untuk kepentingan pribadi, bukan menggunakan akses jalan untuk walimah, tapi penekanan dalam hadis ini sama-sama tentang larangan mengambil hak pejalan kaki. Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa salah satu tujuan larangan tersebut karena hal tersebut mempersempit akses jalan.

Baca Juga :  Mencintai Wanita yang Sudah Bersuami, Apa Pandangan Islam?

Jalanan umum merupakan fasilitas umum yang disediakan untuk semua orang. Sedangkan walimahan termasuk sebagai penggunaan jalan untuk kepentingan pribadi. Penggunaan jalan yang bersifat pribadi antara lain untuk pesta perkawinan, kematian, atau kegiatan lainnya. Jalan yang dapat digunakan untuk kepentingan pribadi ini adalah jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa.

Sementara itu, terdapat beberapa ulama, di antaranya Sulaiman bin Manshur al-Ujaili al-Azhari dalam kitab Hasyiyah Jamal Ala Syarhi Minhaj, yang membolehkan menggunakan jalanan umum untuk kepentingan pribadi jika memang hal tersebut telah dianggap lumrah menurut kebiasaan masyarakat setempat.

Wahbah Zuhaili dalam al-Fiqh wa Adillatuhu menjelaskan, boleh membuat acara di jalan umum dengan dua syarat: (1) Ada jaminan keselamatan, (2) Mendapatkan ijin dari hakim atau instansi yang berwenang.

Sementar menurut undang-undang di Indonesia, jika penggunaan jalan tersebut mengakibatkan penutupan jalan, harus ada izin penggunaan jalan yang diberikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Berdasarkan Pasal 17 Perkapolri Nomor 10 Tahun 2012, yang berisi tentang cara memperoleh izin penggunaan jalan.

Jadi, menggunakan fasilitas umum, seperti jalan umum, untuk kegiatan dan aktifitas tertentu diperbolehkan selama disisakan sebagian jalan yang bisa dilewati orang lain atau bisa juga dengan memberikan jalur alternative kepada orang yang akan melewati jalan tersebut. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here