Hukum Mengganti Mandi Junub dengan Mandi Bola

12
3216

BincangSyariah.Com-  Belakangan muncul persoalan, bagaimana hukumnya mandi junub  dengan menggunakan tisu basah? Atau mandi junub dengan mandi bola? Atau hukum mengganti mandi junub dengan mandi bola. Nah, bagaimana hukum Islam memandang persoalan ini?. Berikut penjelasannya.

Menurut fiqih Islam, bagi orang yang bagi orang yang junub (hadas besar), wajib hukumnya mandi. Kewajiban mandi wajib bagi yang junub itu berlaku bagi laki-laki atau pun perempuan. Ada pun penyebab wajib mandi antara lain; berhubungan intim, mimpi basah, keluar mani, perempuan melahirkan, atau setelah haid bagi perempuan. Pendek kata, jika belum mandi junub, maka ibadah (seperti shalat, membaca Al-Qur’an) yang dikerjakannya tidak sah.

Dalam al-Qur’an  Q.S al-Maidah ayat 6, Allah menjelaskan:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

Artiya; Dan jika kamu junub maka mandilah

Dan juga firman Allah dalam an-Nisa ayat 43:

وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Artinya: (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.

Ada pun mandi wajib yaitu dengan menggunakan air. Air adalah salah satu alternatif dalam bersuci. Sebagaimana termaktub dalam kitab  Nihayatuz Zain Fi Irsyadi Al-Mubtadiin, karya, Abu Abdil Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi, halaman 28.

Imam Nawawi Al-Jawi mengatakan:

الغسل و حقيقته شرعا سيلان الماء على الجميع البدن بنية ولو مندوبة

Artinya; Menurut syariat mandi itu adalah mengalirkan air ke seluruh badan dengan niat mandi, meskipun itu mandi sunat.

Imam Mawardi dalam kitab Al-Hawi al Kabir , mengatakan terdapat dua tempat ayat Al-Quran yang menjelaskan air sebagai alat untuk bersuci. Pertama, firman Allah dalam Q.S al-Furqan ayat 48 ;

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طهورا

Artinya: kami turunkan dari langit air yang suci

Kedua, ada juga firman Allah dalam Al-Qur’an Q.S al-Anfal ayat 11;

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ به

Artinya: Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu

Sejatinya mandi junub memakai air. Namun, ketika tidak ada air, maka boleh menggantinya dengan tayamum. Selanjutnya, tayamum juga boleh dilakukan oleh orang yang junub, apabila ada uzur dalam pemakaian air, misalnya karena sakit atau ada cuaca dingin—bila memakai air akan berakibat fatal—, maka boleh hukumnya tayamum.

Penjelasan ini terdapat dalam Al-Qur’an Q.S al-Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu.

Imam Ibn Taimiyah dalam kitab al Majmu’ al Fatawa mengatakan bahwa ayat ini menjadi alasan boleh bersuci dengan tayamum. Tayamum bisa bersuci dari hadis besar dan hadas kecil. Ada pun yang dimaksud dengan hadas kecil adalah wudu’ , sedangkan hadas besar adalah mandi junub.

Imam Ibn Taimiyah dalam kitab al Majmu’ al Fatawa, jilid 21, halaman 396, mengatakan;

وهو سبحانه و تعالى امرنا بِالطَّهَارَتَيْنِ الصُّغْرَى وَالْكُبْرَى, وَبِالتَّيَمُّمِ عَنْ كُلٍّ مِنْهُمَا

Artinya; Allah SWT menyuruh bersuci dari hadas kecil dan besar dengan tayamum. Ada pun hadas kecil yakni wudu’ dan hadas besar adalah junub.

Dalam kitab yang sama pada halaman 451, Ibn Ibn Taimiyah berkata;

مَنْ أَصَابَتْهُ جَنَابَةٌ مِنْ احْتِلامٍ أَوْ جِمَاعٍ حَلالٍ أَوْ حَرَامٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَغْتَسِلَ وَيُصَلِّيَ فَإِنْ تَعَذَّرَ عَلَيْهِ الاغْتِسَالُ لِعَدَمِ الْمَاءِ أَوْ لِتَضَرُّرِهِ بِاسْتِعْمَالِهِ مِثْلُ أَنْ يَكُونَ مَرِيضًا يَزِيدُ الاغْتِسَالُ فِي مَرَضِهِ أَوْ يَكُونَ الْهَوَاءُ بَارِدًا وَإِنْ اغْتَسَلَ خَافَ أَنْ يَمْرَضَ بِصُدَاعِ أَوْ زُكَامٍ أَوْ نَزْلَةٍ فَإِنَّهُ يَتَيَمَّمُ وَيُصَلِّي . سَوَاءٌ كَانَ رَجُلا أَوْ امْرَأَةً وَلَيْسَ لَهُ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلاةَ عَنْ وَقْتِهَا

Artinya: Barang siapa yang junub (wajib mandi) sebab mimpi basah atau  bersetubuh yang halal atau haram, maka wajib atasnya mandi dan shalat.

Ia juga boleh tayamum sebagai ganti dari mandi junub. Dengan syarat  ada uzur (halangan) untuk mandi—sebab tidak ada air—, atau karena darurat memakai air. Misalnya jika ia menggunakan air maka bertambah penyakitnya, atau karena hawa yang dingin (baca; takut bertambah sakitnya) dengan sakit kepala flu, atau radang selaput lendir hidung, maka ia boleh tayamum dan shalat.

Ada juga hadis Nabi Muhammad membolehkan tayamum sebagai ganti mandi wajib;

عن عمار بن ياسر رضي الله عنهما قال: بعثني النبي صلى الله عليه وسلم في حاجة فأجنبت فلم أجد الماء فتمرغت في الصعيد كما تمرغ الدابة ثم أتيت النبي صلى الله عليه وسلم فذكرت ذلك له فقال: “إنما يكفيك أن تقول بيديك هكذا” ثم ضرب بيديه الأرض ضربة واحدة ثم مسح الشمال على اليمين وظاهر كفيه ووجهه

Artinya: Dari Amar bin Yasar ra berkata: Suatu ketika Nabi saw. mengutusku untuk suatu keperluan, waktu itu aku junub dan tidak ada air, maka aku berguling-guling di tanah seperti keledai  yang berguling-guling di tanah. Kemudian aku mendatangi Nabi dan menceritakan hal itu kepadanya.

Lalu Nabi Berkata, Sesungguhnya cukup bagimu mengatakan dengan tanganmu seperti ini, lalu beliau menepuk kedua tangannya ke tanah satu kali tepukan kemudian tangan kirinya mengusap tangan kanan dan tangan bagian depannya serta wajahnya.

Selanjutnya, jika tidak ada air dan debu (faqdu at thuharaini), maka seseorang bisa langsung shalat untuk menghormati waktu. Pendapat ini terdapat dalam kitab Kasyifatus Saja,karya Syek Nawawi Al-Bantani. Imam Nawawi berkata;

قال النووي: أما إذا لم يجد الجنب ماء ولا ترابا فإنه يصلي لحرمة الوقت على حسب حاله

Artinya: Imam Nawawi berkata: ketika seseorang yang junub tidak mendapatkan air atau debu, ia tetap shalat untuk menghormati waktu shalat sesuai kemampuannya.

Nah terkait, mengganti mandi wajib dengan mandi bola, statusnya tak ada dasarnya dalam Islam. Sebab bola tak bisa digunakan untuk alat bersuci. Imam Nawawi  dalam kitab Nihayatu az Zain, halaman 12 mengatakan :

و مقاصد الطهارة اربعة ; الوضوء والغسل والتيمم وازالة النجاسة . ووسائلها اربعة ; المياه, والتراب , و الدابغ ,و حجر الاستنجاء

Artinya: maksud bersuci ada empat macam, yaitu; wuduk, mandi, tayamum, dan menghilangkan najis. Adapun alat yang digunakan untuk bersuci itu ada empat juga, yaitu; air, debu, penyamak, dan batu untuk istinjak.

Dan ada pun jika mengganti mandi junub dengan mandi bola itu di dalam kolam yang berisi air dan bola, maka hukumnya boleh. Pasalnya, pada saat mandi junub itu ada air–bukan semat-mata bola saja. Ini boleh.

Demikian penjelasan hukum mengganti mandi junub dengan mandi bola. Semoga bermanfaat.

(Baca:Dalil Tayamum Sebagai Pengganti Bersuci dari Wudhu dan Mandi Wajib)

Celengan Pemuda Tersesat
Celengan Pemuda Tersesat
100%

12 KOMENTAR

  1. Disebutkan pada artikel tersebut hadas besar membuat ibadah solat dan puasa tidak diterima. Apabila sampai waktunya solat subuh masih dalam keadaan belum mandi junub, hukum puasanya bagaimana?

  2. Kok yg ngomen pada goblok sih. Ini tuh ngejawab seputar pertanyaan jg bukan semata2 nulis doang. Penjelasanya jg detail intinya gak boleh. Nganggap sepele padahal disuruh jelasin gak tau jg.

  3. Yg ngomen goblok pada paham gak sih. Ini bukan cuma sekedar nulis ya ini jg berdasar dari beberapa org yg menanyakan. Keliatan sepele buat orang yang ngerasa pintar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here