Hukum Menggambar Kartun dalam Islam

1
67

BincangSyariah.Com – Salah satu tantangan terbesar dakwah Nabi SAW ialah menghilangkan kebiasaan masyarakat jahiliyyah yang senang sekali menyembah berhala. Berhala itu berupa patung yang sesungguhnya mereka buat sendiri, kemudian mereka yakini bahwa berhala tersebut akan memberikan manfaat dan bahaya bagi mereka, dan ujungnya kemudian mereka sembah. Tindakan menyembah berhala ini tentu saja merupakan sebuah kesalahan fatal dalam akidah, yakni menyekutukan Allah SWT.

Atas pertimbangan kekharaman menyembah berhala tersebut, kemudian Rasulullah menyerukan ancaman bagi siapa saja yang membuat rupa rupa bentuk yang bernyawa. Beliau bersabda:

إنَّ الَّذينَ يصنَعونَ هذِه الصُّوَرَ يعذَّبونَ يومَ القيامةِ ، يقالُ لَهم : أحيوا ما خلقتُمْ

“Orang yang membuat shuwar (rupa makhluk bernyawa), akan diadzab di hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka: ‘hidupkanlah apa yang kalian buat ini.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, Rasulullah juga pernah bersabda,

إنَّ أشدَّ النَّاسِ عذابًا عندَ اللَّهِ يومَ القيامةِ المصوِّرونَ

“Orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat, di sisi Allah, adalah al-mushawwirun” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menarik dalam hal ini untuk mengkaji apa yang dimaksud dengan shuwar dan siapa saja yang dimaksud sebagai mushowwir. Sebagian opini menyatakan bahwa shuwar meliputi gambar, lukisan, patung, dan bentuk-bentuk rupa lainnya termasuk komik ataupun animasi. Sehingga yang berpendapat demikian menyimpulkan kalau hukum menggambar kartun haram hukumnya.

Ada juga opini yang menyatakan bahwa shuwar yang dimaksud adalah patung makhluk bernyawa saja. Urgensi dari persoalan ini adalah tentang konsekuensi hukum bagi orang-orang yang bekerja sebagai pembuat karakter komik atau biasa kita sebut komikus, pelukis, pematung dan pemahat, serta pembuat animasi baik 2D maupun 3D.

Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani dalam Majmu’ Fatawa wa ar-Rasail (h. 213) menyebutkan tentang lima kategori shuwar yang diharamkan, yakni:

Baca Juga :  Menurut Imam Abu Hanifah, Semua Komoditas Agraria Mesti Dizakati

فعلم أن المجمع على تحريمه من تصوير الأكوان ما اجتمع فيه خمسة قيود عند أولي العرفان أولها ؛ كون الصورة للإنسان أو للحيوان ثانيها ؛ كونها كاملة لم يعمل فيها ما يمنع الحياة من النقصان كقطع رأس أو نصف أو بطن أو صدر أو خرق بطن أو تفريق أجزاء لجسمان ثالثها ؛ كونها في محل يعظم لا في محل يسام بالوطء والامتهان رابعها ؛ وجود ظل لها في العيان خامسها ؛ أن لا تكون لصغار البنان من النسوان فإن انتفى قيد من هذه الخمسة . . كانت مما فيه اختلاف العلماء الأعيان . فتركها حينئذ أورع وأحوط للأديان “

“Maka dapat dipahami bahwa shuwar yang disepakati keharamannya adalah shuwar yang terkumpul di dalamnya lima hal. Pertama, shuwar berupa manusia atau hewan. Kedua, shuwar dalam bentuk yang sempurna, tidak terdapat sesuatu yang mencegah hidupnya shuwar tersebut, seperti kepala yang terbelah, separuh badan, perut, dada, terbelahnya perut, terpisahnya bagian tubuh. Ketiga, shuwar berada di tempat yang dimuliakan, bukan berada di tempat yang biasa diinjak dan direndahkan. Keempat, terdapat bayangan dari shuwar tersebut dalam pandangan mata. Kelima, shuwar bukan untuk anak-anak kecil dari golongan wanita. Jika salah satu dari lima hal di atas tidak terpenuhi, maka shuwar demikian merupakan shuwar yang masih diperdebatkan di antara ulama. Meninggalkan (menyimpan shuwar demikian) merupakan perbuatan yang lebih wira’i dan merupakan langkah hati-hati dalam beragama.”

Dari penjelasan Syekh Alawi diatas, kita bisa mengetahui bahwa yang dimaksud dengan shuwar  ialah bentuk rupa yang memiliki bayangan, sehingga yang lebih mendekati maknanya ialah patung atau bentuk 3 dimensi. Sementara untuk bentuk 2 dimensi yang datar, maka bukanlah bagian daripada shuwar.

Terdapat pula riwayat dari Ibunda Aisyah RA yang menyatakan:

Baca Juga :  Mengenal Akad Istishna, Akad Pemesanan Pengerjaan Barang

قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم من سفر وقد سترت سهوة لي بقرام فيه تماثيل، فلما رآه رسول الله صلى الله عليه وسلم تلون وجهه، وقال: “يا عائشة، أشد الناس عذاباً عند الله يوم القيامة الذين يضاهئون بخلق الله”، فقطعناه فجعلنا منه وسادة أو وسادتين

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pulang dari safar. Ketika itu aku menutup jendela rumah dengan gorden yang bershuwar (makhluk bernyawa). Ketika melihatnya, wajah Rasulullah berubah. Beliau bersabda: “wahai Aisyah orang yang paling keras adzabnya di hari kiamat adalah yang menandingin ciptaan Allah“. Lalu aku memotong-motongnya dan menjadikannya satu atau dua bantal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keterangan ibunda Aisyah diatas pada rupa yang memiliki bayangan seperti digunakan untuk gorden, maka itu termasuk sebagai sesuatu yang diharamkan, sementara apabila dipotong-potong dijadikan sebagai bantal yang merupakan bentuk datar 2 dimensi, maka itu diperbolehkan.

Dengan keberadaan dalil-dalil yang demikian, maka para ulama berselisih paham seputar persoalan shuwar ini. Ada yang menyatakan bahwa shuwar secara umum hukumnya adalah haram, dan ada yang menyatakan bahwa hanya berlaku pada bentuk rupa yang memiliki bayangan dan berupa bentuk hewan ataupun manusia.

Salah satu pendapat yang menarik, ialah pendapat dari Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi. Dalam himpunan fatwa beliau, beliau menjelaskan:

س: ما القول فيمن يزينون الحائط برسوم بعض الحيوانات؟ هل هذه ينطبق عليها ما ينطبق على التماثيل البارزة المجسدة من تحريم؟

ج): يقول فضيلة الشيخ الشعراوى: لا شيء في ذلك، ولكن ما حرم هو ما يفعله البعض لتقديس وتعظيم هذه الحيوانات، أما أن ترسم لكي يستعمل في الزينة فلا مانع من ذلك

“Pertanyaan: ‘Bagaimana pendapat anda tentang orang yang menghiasi tembok dengan gambar/lukisan sebagian hewan? Apakah berlaku pada permasalahan ini suatu hukum yang berlaku pada patung yang berbentuk jasad yakni hukum haram?’”

“Syekh as-Sya’rawi menjawab: ‘Hal di atas tidak perlu dipermasalahkan, hal yang diharamkan adalah perbuatan yang dilakukan sebagian orang berupa mengultuskan dan mengagungkan gambar hewan tersebut. Sedangkan melukis hewan dengan tujuan untuk digunakan menghias (tembok) maka tidak ada larangan untuk melakukannya.” (Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, Mausu’ah Fatawa as-Sya’rawi, h. 591)

Baca Juga :  Bolehkah Tidak Menghadiri Walimah karena Tidak Punya Uang?

Mengacu pada pendapat Syekh asy-Sya’rawi diatas,  dapat disimpulkan bahwa keharaman menyimpan gambar yang disepakati oleh para ulama hanya berlaku pada gambar atau lukisan makhluk hidup yang memiliki bentuk (jism) atau memiliki bayangan dan diagungkan oleh pemiliknya, seperti patung misalnya. Dengan demikian, hukumnya boleh bekerja sebagai komikus atau animator selama kartun atau animasi yang ia buat itu tidak bertujuan untuk diagungkan atau dikultuskan. Selama kartunnya dibuat untuk tujuan hiburan belaka, apalagi kalau itu ditujukan untuk anak-anak, dan lebih-lebih apabila digunakan sebagai media dakwah dan pembelajaran, maka hukumnya boleh, bahkan baik.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

1 KOMENTAR

  1. […] Nah ini yang menjadi dasar para ulama melarang melukis orang soleh atau melarang melukis Nabi. Kata Rasulullah,  Ulaiki syirarul khalqin ‘inda Allah. “Wahai Ummu Habibah mereka orang-orang Nasrani itu ketika ada orang soleh meninggal kemudian kuburannya dijadikan tempat peribadatan lalu kemudian dipajang di situ lukisan-lukisannya.” Itu yang disebut Nabi sebagai ulaiki syirarul khalqi ‘inda Allah, karena perilakunya tadi itu menyembah, menjadikan lukisan-lukisan tadi itu sebagai media atau sebagai tempat peribadatan. Makanya kalau di tempat peribadatan jangan dikasih foto, apalagi foto-foto yang tiga dimensi. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here