Hukum Mengaminkan Doa Non-Muslim

0
1002

BincangSyariah.com – Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat plural yang tidak hanya didominasi pemeluk agama Islam saja, namun juga ada pemeluk agama lain yang hidup berdampingan dengan kita. Hal ini meniscayakan adanya interaksi sosial antar pemeluk agama yang berbeda, serta menumbuhkan rasa solidaritas dan semangat toleransi di antara mereka. Sungguh begitu, mereka tetap bisa hidup guyub berdampingan secara tentram, akrab, dan rukun. Salah satu interaksi yang sering ditemui adalah tatkala seorang kolega non-Muslim mendoakan kebaikan atas kita, lantas bolehkah kita mengaminkan doa tersebut? (Baca: Benarkah Hukum Memberi Salam pada Non-Muslim itu Haram?)

Dalam permasalahan ini, Imam Ibnu Abi Syaibah (wafat tahun 235 H) dalam kitabnya al-Mushannaf (16/361) meriwayatkan pendapat Imam Hassan bin Athiyyah yang memperbolehkan seorang non-Muslim mengaminkan doa pendeta. Selain itu, Imam Syihabuddin al-Adzra’i  (wafat tahun 783 H),  berpendapat bolehnya mengaminkan doa non-Muslim, bahkan hukumnya bisa menjadi sunah bila doanya mengandung kebaikan, seperti agar berdoa mendapat hidayah baginya, atau  kedamaian, kemakmuran, dan pertolongan bagi kita. Begitu pula doa yang dipanjatkan bisa dipahami serta tidak mengandung unsur-unsur maksiat. Hal ini sebagaimana tertulis dalam kitab Tuhfatul Muhtaj bisyarh Al-Minhaj (1/387) :

ثُمَّ رَأَيْتُ الأَذْرَعِيَّ قَالَ: إِطْلَاقُهُ بَعِيْدٌ، وَالوَجْهُ جَوَازُ التَّأْمِيْنِ بَلْ نَدْبُهُ إِذَا دَعَا نَفْسَهُ بِالهِدَايَةِ وَلَنَا بِالنَّصْرِ مَثَلًا، وَمَنْعُهُ إِذَا جُهِلَ مَا يَدْعُوْ بِهِ، لِأَنَّهُ قَدْ يَدُعُوْ بِإِثْمٍ أَيْ بَلْ هُوَ الظَّاهِرُ مِنْ حَالِهِ

 Kemudian aku melihat Imam al-Adzra’i mengatakan: Memutlakkan kebolehan mengaminkan doa non-Muslim merupakan pendapat yang jauh dari benar. Pendapatku adalah boleh mengucapkan amin bahkan sunah bila non-Muslim tersebut mendoakan hidayah bagi dirinya, atau pertolongan bagi kita misalnya. Hukumnya bisa jadi haram bila tidak diketahui apa yang ia doakan. Sebab bisa jadi ia mendoakan untuk suatu hal yang berdosa, sebagaimana yang tampak pada dirinya.

Selanjutnya, Syekh Sulaiman al-Jamal (wafat tahun 1204 H), pengarang kitab Hasyiyatul Jamal‘ala Syarh al-Minhaj, membantah pendapat ulama yang menghukumi haram mengaminkan doa non-Muslim dengan landasan doa mereka tidak mungkin terkabul. Landasan ini  masih perlu didebatkan, sebab ada kemungkinan orang non-Muslim tersebut meninggal dalam keadaan husnul khatimah. dan tak jarang doa non-Muslim dikabulkan, seperti saat berada dalam posisi terzalimi sebagaimana sabda Nabi SAW:

Baca Juga :  Hukum Mendoakan Kesembuhan untuk Non-Muslim yang Sakit

اتَّقُوْا دَعْوَةَ المَظْلُوْمِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُوْنَهَا حِجَابٌ

Takutlah kalian akan doanya orang yang terzalimi walaupuan ia bukan orang Islam. Sebab tidak ada pengahalang bagi doa tersebut (untuk dikabulkan) (H.R Ahmad dalam kitab Musnad).

Akhirul kalam, mengucapkan amin atas doa yang dipanjatkan oleh non-Muslim hukumnya boleh, asalkan doa tersebut untuk memohonkan pada hal-hal baik. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here