Hukum Mengambil Upah Mengajar Al-Qur’an, Bolehkah?

0
58

BincangSyariah.Com – Salah satu ibadah  yang sangat dianjurkan dalam Islam adalah membaca Al-Qur’an. Kitab yang Allah turunkan kepada nabi Muhammad SAW. dalam rangka sebagai pedoman untuk manusia dalam menjalani kehidupan. Tak hanya itu, membaca al-Qur’an juga merupakan ibadah yang paling utama daripada ibadah yang lain. Namun bolehkah mengambil upah mengajar Al-Qur’an? (Baca: Larangan Membaca Al-Quran dalam Keadaan Mengantuk)

Terkait keutamaan membaca Al-Qur’an, imam al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadis:

اَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

“Ibadah paling utama umatku adalah membaca al-Qur’an.” (Ahmad bin Husain al-Baihaqi, Syuab al-Iman, jus 2 hal 354)

Namun, sudah lumrah kita ketahui bersama bahwasanya di era sekarang tak sedikit para pengajar Al-Qu’ran yang disewa untuk membimbing putra-putri masyarakat di perkotaan, misalnya di perumahan-perumahan. Demikian juga di desa, para ustadz yang mengajar al-Qur’an di surau-surau pun mendapat insentif dari pemerintah. Nah, hal ini menimbulkan pertanyaan. Bagaimana hukum menerima upah (bayaran) hasil dari mengajar al-Qur’an atau ilmu-ilmu agama yang lain? Nah, untuk menjawab persoalan diatas, kita simak pendapat para ulama berikut ini:

Secara garis besar, para ulama terbagi dua kubu di dalam menanggapi masalah tersebut:

Pertama, mazhab Hanafiyah berpendapat bahwa tidak boleh mengambil upah mengajar Al-Qur’an. Mereka juga mengatakan bahwa orang yang memberikan ataupun yang mengambil upah tersebut sama-sama berdosa. Argumen yang disampaikan oleh kalangan Hanafiyah yakni bahwasanya akad ijarah (menyewa jasa) untuk membaca Al-Qur’an merupakan perkara yang batal dan hukum asal dari akad ijarah atas mengajar Al-Qur’an adalah tidak diperbolehkan.

Kedua, imam Malik dan Syafi’i berpendapat bahwasanya boleh mengambil upah atas jasa membaca dan mengajari al-Qur’an. Pendapat ini diriwayatkan dari imam Ahmad dan juga disampaikan oleh Abu Qalabah, Abu Tsur dan Ibnu al-Mundzir.

Baca Juga :  Inilah Potret Orang Paling Kaya Menurut Sahabat Ali

Hal ini didasarkan bahwa Rasulullah pernah menikahkan seorang laki-laki dengan mahar kecakapan (hafalan) al-Qur-an, sehingga dari sini diketahui bahwa Rasulullah menempatkan al-Qur’an di posisinya mahar, dengan landasan ini lalu diperbolehkan mengambil upah (bayaran) atas al-Qur’an atas nama akad ijarah.

(Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, jus 1 hal 91)

Dalil riwayat lain juga disebutkan hadis dalam kitab Sahih Bukhari :

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ

“Sesungguhnya yang paling berhak bagi kalian untuk diambil upahnya adalah (membaca) al-Qur’an.”

Mengomentari hadis di atas, al-Hafidz al-Mubarakfuri mengatakan bahwa hadis diatas digunakan oleh jumhur ulama untuk membolehkan mengambil upah mengajar Al-Qur’an .

(Muhammad Abdur Rahman Mubarakpuri, Tuhfat  al-Ahwadzi  bi Syarhi Jami’ at-Turmudzi, jus 6 hal 192)

Tak ketinggalan, ulama tafsir juga ikut menyuarakan pendapatnya perihal hukum mengambil upah mengajar Al-Qur’an atau ilmu-ilmu agama yang lain.

Syekh Muhammad Ali  as-Shabuni dalam kitabnya Rawai’  al-Bayan Tafsir Āyat al-Ahkam min al-Qur’ān menyitir sebuah surah al-Baqarah ayat 159-160 sebagai berikut :

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَآ أَنزَلْنَا مِنَ ٱلْبَيِّنَٰتِ وَٱلْهُدَىٰ مِنۢ بَعْدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِى ٱلْكِتَٰبِ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ يَلْعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ

         إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ وَأَصْلَحُوا۟ وَبَيَّنُوا۟ فَأُو۟لَٰٓئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

Artinya :

Sungguh orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (al-Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat, kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan (nya), mereka itulah yang aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha PenerimaTobat, Maha Penyayang.

Melalui ayat di atas, para ulama tafsir juga terbagi menjadi dua kelompok:

Baca Juga :  Bagaimana Status Anak yang Lahir di Luar Nikah?

Pertama, ulama klasik (mutaqaddimin) berpendapat bahwa tidak diperbolehkan mengambil upah mengajar Al-Qur’an atau ilmu-ilmu agama yang lain. Hal ini dikarenakan ayat tersebut memerintahkan untuk menampakkan, menyebarluaskan ilmu dan tidak menyembunyikannya. Alasan lainnya yakni manusia tidak perkenankan untuk mengambil upah terhadap suatu pekerjaan (amal) yang memang wajib ia lakukan, sebagaimana tidak berhak mengambil upah atas shalat yang wajib karena hal tersebut merupakan bentuk ibadah. Oleh karena itu diharamkan mengambil upah mengajarkan Al-Qur’an.

Kedua, boleh mengambil upah (bayaran) dari mengajar al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama yang lain menurut ulama kontemporer (mutaakhirin). Mereka berargumen bahwa seandainya mengambil upah tidak diperbolehkan, maka akan banyak orang yang tidak lagi peduli dengan mengajar al-Qur’an maupun ilmu agama yang  lain, mereka lebih sibuk dengan urusan yang sifatnya duniawi, sehingga hal ini mengakibatkan mereka berpaling dari belajar dan mengajar al-Qur’an maupun ilmu-ilmu agama yang lain.

Terakhir, Syekh Muhammad Ali as-Shabuni dalam Rawa’iul Bayan menutup ulasannya dengan perkataan “mengapa tidak kita ikuti saja pendapat ulama kontemporer (mutaakhirin) yang mengatakan boleh mengambil upah, mengingat ilmu agama (syariat) terancam akan lenyap jika tidak ada lagi yang mau belajar maupun mengajar al-Qur’an dan ilmu agama yang lain! Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here