Hukum Mengambil Harta yang Terbawa Tsunami dan Banjir

0
278

BincangSyariah.Com – Ketika tsunami dan banjir melanda suatu daerah, maka banyak harta benda milik warga yang terbawa arus tsunami dan banjir tersebut. Pada umumnya, harta benda yang terbawa arus ini sudah tidak ditemukan pemiliknya. Apa status dari harta yang terbawa tsunami dan banjir tersebut dalam Islam? Dan bagaimana hukum mengambilnya?

Dalam Islam, harta yang terbawa oleh tsunami, banjir, atau angin disebut dengan malun dho-i’ atau harta terlantar. Ada dua hukum terkait harta terlantar ini di dalam Islam.

Pertama, jika harta tersebut tidak mungkin diketahui siapa pemiliknya, atau ada dugaan kuat bahwa pemiliknya tidak menghiraukan lagi, maka harta tersebut dialokasikan untuk kepentingan umum atau diambil oleh siapapun yang menemukannya. Bahkan menurut Imam Hasan al-Bashri, jika harta tersebut tidak diketahui siapa pemiliknya, maka boleh langsung diambil oleh penemunya.

Kedua, jika pemilik harta tersebut bisa diketahui, maka harta itu wajib disimpan sampai pemilik harta itu mengambilnya. Harta tersebut tidak boleh diambil untuk dimiliki oleh penemu dan tidak boleh dialokasikan untuk kepentingan umum. Ia wajib dikembalikan kepada pemiliknya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Iqna’ berikut;

أما ما ألقاه الريح في دارك أو حجرك فليس لقطة بل مال ضائع وكذا ما حمله السيل الى أرضك فإن أعرض عنه مالكه كان ملكا لك لا لقطة وإن لم يعرض فهو لمالكه

“Adapun barang yang dibawa angin ke dalam rumahmu atau kamarmu, maka tidak disebut barang temuan tapi disebut barang atau harta terlantar. Begitu juga barang yang dibawa oleh banjir ke daerahmu, jika diabaikan oleh pemiliknya, maka barang itu menjadi milikmu, bukan barang temuan. Jika belum diabaikan, maka ia tetap milik pemiliknya.”

Dalam kitab Yaqutun Nafis juga disebutkan sebagai berikut;

Baca Juga :  Kata Nabi, Ini Godaan Terbesar bagi Umat Islam

وذكر العلماء في المال الذي يحمله السيل ثم يلقيه بأرض إنسان قالوا إنه مال ضائع لكن الغريب أن الحسن البصري يقول من وجده ولم يعرف مستحقه يملكه

“Ulama menyebutkan terkait harta yang dibawa oleh banjir kemudian jatuh ke daerah masyarakat. Ulama berkata, ‘Itu disebut harta terlantar.’ Akan tetapi yang aneh Imam Hasan al-Bashri berkata, ‘Siapa yang menemukan harta tersebut dan tidak mengetahui pemiliknya, maka ia boleh memilikinya.”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here