Hukum Mengakikahi Anak Lahir di Luar Nikah

0
28

BincangSyariah.Com – Sudah maklum bahwa setelah anak baru dilahirkan, maka dia dianjurkan untuk diakikahi. Jika anak tersebut berjenis kelamin laki-laki, maka dianjurkan dua kambing. Jika berjenis kelamin perempuan, maka dianjurkan hanya satu kambing saja. Lantas bagaimana jika anak tersebut hasil dari perzinahan atau di luar nikah, apakah tetap dianjurkan untuk mengakikahi anak lahir di luar nikah? (Baca: Doa Ketika Menyembelih Hewan Akikah)

Mengakikahi anak lahir di luar nikah hukumnya dianjurkan dalam Islam. Setiap anak yang baru dilahirkan, entah sah dari hasil pernikahan atau hasil zina, semuanya dianjurkan untuk diakikahi. Hal ini karena di antara tujuan akikah adalah memberitahu nama dan mencukur rambut anak yang baru dilahirkan, dan ini berlaku juga untuk anak hasil zina.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Tirmidzi, dari Samurah bin Jundub, bahwa Nabi Saw bersabda;

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّى

Semua anak bayi tergadaikan dengan akikahnya. Karena itu, pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), dicukur rambutnya dan diberi nama.

Meski dianjurkan untuk diakikahi, hanya saja menurut ulama Syafiiyah, akikah tersebut tidak dianjurkan untuk ditampakkan pada masyarakat banyak agar aibnya tidak diketahui oleh orang banyak. Juga anjuran tersebut berlaku pada ibu anak tersebut. Hal ini karena yang memiliki tanggung jawab menafkahi anak lahir di luar nikah adalah ibunya sehingga ibunya juga yang dianjurkan untuk mengakikahinya.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

و الْعَقِيقَةُ عَنْ وَلَدِ الزِّنَى: نَصَّ الشَّافِعِيَّةُ عَلَى أَنَّهُ يُسَنُّ لِمَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَةُ فَرْعِهِ أَنْ يَعُقَّ عَنْهُ، وَمِمَّنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَةُ فَرْعِهِ الأْمُّ فِي وَلَدِ الزِّنَى فَهُوَ فِي نَفَقَتِهَا، فَيُنْدَبُ لَهَا الْعَقُّ عَنْهُ، وَلاَ يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ إِظْهَارُهُ الْمُفْضِي لِظُهُورِ الْعَارِ

Baca Juga :  Dalil Ketidakbolehan Melumuri Kepala Bayi dengan Darah Kambing Akikah

Mengakikahi anak hasil zina. Ulama Syafiiyah menegaskan bahwa dianjurkan bagi orang yang memiliki tanggung jawab menafkahi anaknya agar mengakikahi anaknya tersebut. Dan yang memiliki tanggung jawab menafkahi anak hasil zina adalah ibunya. Karena itu, dianjurkan baginya untuk mengakikahi anaknya. Dan hal itu tidak perlu ditampakkan agar aibnya tidak diketahui.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here