Hukum Mengadakan Pesta Pernikahan di Masjid

2
659

BincangSyariah.Com – Setiap laki-laki dan perempuan yang sudah siap secara mental dan materi sangat disunahkan untuk segera melakukan akad nikah. Hal ini selain untuk mencegah kemungkinan terjerumus pada perbuatan zina, nikah juga termasuk bagian dari ibadah dan sunah Nabi Saw.

Karena nikah adalah ibadah, maka para ulama menganjurkan untuk dilangsungkan di dalam masjid. Masjid adalah sebaik-baik tempat untuk melangsungkan akad nikah dibanding lainnya. Ibnu Hammam dalam kitab Fathul Qodir berkata;

ويستحب مباشرة عقد النكاح في المسجد؛ لأنه عبادة، وكونه في يوم الجمعة

“Disunahkan melangsungkan akad nikah di dalam masjid, karena hal itu adalah ibadah, dan diselenggarakan di hari Jumat.”

Syaikh Zinuddin Al-Malibari juga menganjurkan akad nikah dilakukan di masjid. Beliau berkata;

وأن يكون العقد في المسجد ويوم الجمعة وأول النهار وفي شوال وأن يدخل فيه أيضا

“Dianjurkan akad nikah di dalam masjid, di hari Jumat, di waktu pagi, di bulan Syawal dan berbulan madu juga di bulan Syawal.”

Lantas, bagaimana dengan hukum mengadakan pesta pernikahan di dalam masjid, apakah dibolehkan atau dilarang?

Mengadakan pesta pernikahan sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan Nabi Saw. pernah menyuruh salah seorang sahabatnya untuk melakukan walimah atau pesta pernikahan meski hanya dengan seekor kambing. Disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik, Nabi Saw. bersabda;

أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

“Lakukan pesta pernikahan meski hanya dengan seekor kambing.”

Pesta pernikahan ini boleh dilakukan di mana saja, termasuk di dalam masjid. Bahkan kebanyakan ulama menganjurkan pesta pernikahan untuk dilakukan di dalam masjid dengan diiringi tabuhan rebana. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Sayidah Aisyah, dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda;

Baca Juga :  Hukum Menikahi Pacar Orang lain

أَعْلِنُوا النِّكَاحَ، وَاجْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ، وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفُوفِ

“Umumkanlah pernikahan dan langsungkan di dalam masjid, kemudian tabuhkanlah rebana.”

Bahkan Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya Fathul Bari ‘ala Syarhi Shahihil Bukhari tidak hanya membolehkan tabuhan rebana saja saat pesta pernikahan, namun juga hiburan sejenis, seperti melantunkan syair, dan lainnya. Beliau berkata;

فكان النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يرخص لهم في أوقات الأفراح، كالأعياد والنكاح وقدوم الغياب في الضرب للجواري بالدفوف، والتغني مع ذلك بهذه الأشعار، وما كان في معناها

“Maka Nabi Saw. membolehkan kepada sahabat di waktu-waktu hari perayaan, seperti hari raya, pernikahan, kedatangan tamu, untuk memukul rebana bagi biduan serta menyanyikan lagu-lagu ini, atau yang sejenis dengannya.”

Dengan demikian, mengadakan pesta pernikahan di dalam masjid diperbolehkan, bahkan sebagian ulama menganjurkan meski disertai tabuhan rebana dan hiburan sejenis.

2 KOMENTAR

  1. Batas boleh mengadakan pesta nikah di dalam masjid adalah jika pesta tersebut tidak mencederai kehormatan masjid. Jika mencederai kehormatan masjid, maka tidak boleh bahkan bisa haram.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here