Hukum Mendoakan Pemimpin Ketika Khutbah Jumat

0
312

BincangSyariah.Com – Di antara rukun khutbah Jumat adalah mendoakan keselamatan dan kebaikan untuk kaum Muslimin laki-laki dan perempuan pada khutbah kedua. Namun tak jarang tempat berdoa untuk kebaikan kaum Muslimin, saat ini digunakan oleh sebagian khatib untuk mendoakan para pemimpin. Sebenarnya, bagaimana hukum mendoakan para pemimpin ketika khutbah Jumat kedua, apakah boleh?

Ketika khutbah Jumat kedua, seorang khatib harus mendoakan kebaikan bagi seluruh kaum Muslimin secara umum, terutama untuk kebaikan akhirat. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Zainudin al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in berikut;

و خامسها دعاء أخروي للمؤمنين وإن لم يتعرض للمؤمنات

“Rukun kelima (khutbah Jumat) adalah berdoa yang bersifat ukhrawi kepada orang-orang Mukmin, meski tidak menyebutkan Mukminat.”

Adapun terkait mendoakan para pemimpin ketika khutbah Jumat, dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Syairazi dan ulama lainnya, hukum asal mendoakan pemimpin ketika khutbah Jumat adalah makruh. Yang disyariatkan adalah mendoakan seluruh kaum Muslimin secara umum, tanpa harus menyebutkan para pemimpin kaum Muslim dan pemimpin tertentu.

Sementara menurut kebanyakan ulama, jika mendoakan kebaikan dan kemaslahatan untuk para pemimpin, maka hukumnya boleh dan dianjurkan. Namun jika mendoakan kejelekan, atau mendoakan kebaikan tapi disertai dengan sanjungan dan pujian berlebihan kepada mereka, maka hukumnya tidak boleh.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Raudhatut Thalibin berikut;

ومنها : المجازفة في أوصاف السلاطين في الدعاء لهم . وأما أصل الدعاء للسلطان ، فقد ذكر صاحب ( المهذب ) وغيره : أنه مكروه . والاختيار : أنه لا بأس به إذا لم يكن فيه مجازفة في وصفه ، ولا نحو ذلك ، فإنه يستحب الدعاء بصلاح ولاة الأمر

Baca Juga :  Mengapa Islam Anjurkan Umatnya Memiliki Sifat Malu?

“Di antara perkara yang dimakruhkan ketika khutbah Jumat adalah berlebihan dalam menyifati para pemimpin saat mendoakan mereka. Adapun asal mendoakan para pemimpin, maka menurut pengarang kitab al-Muhzzab (Imam Syairazi) dan lainnya adalah makruh. Menurut pendapat yang terpilih, mendoakan mereka tidak masalah selama tidak berlebihan dalam menyifati mereka, dan lainnya. Sesungguhnya dianjurkan untuk mendoakan kebaikan para pemimpin.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here