Hukum Mendengarkan Khutbah setelah Shalat Idul Fitri

0
6499

BincangSyariah.Com – Mayoritas Ulama sepakat jika hukum khutbah salat Idulfitri adalah sunah. Pelaksanaannya adalah setelah shalat Idulfitri. Jika dilakukan sebelum salat Idulfitri, maka tidak dianggap dan mengulanginya setelah shalat. Kesunahan khutbah tersebut berdasarkan hadits Nabi, Ibnu Abbas berkata:

شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

Aku menghadiri salat Id bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Semua mereka melakukan salat sebelum khutbah” [Riwayat Bukhari 963, Muslim 884 dan Ahmad 1/331 dan 346]

Ibnu Umar juga berkata:

شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

Aku menghadiri salat Id bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Semua mereka melakukan salat sebelum khutbah” [Riwayat Bukhari 963, Muslim 884 dan Ahmad 1/331 dan 346]

Disunahkan memulai khutbah dengan takbir, khutbah pertama bertakbir sembilan kali dan khutbah kedua bertakbir sebanyak tujuh kali. Takbir tersebut bukan merupakan inti dari khutbah namun hanya mukaddimah saja. Khutbah dianjurkan berisi pembahasan mengenai zakat, hukum-hukum seputar hari raya dan lain sebagainya seperti masalah ketakwaan dan lain sebagainya.

Untuk menghadiri serta mendengarkan khutbah tersebut tidaklah wajib. Sebagaimana Rasulullah memberikan pilihan kepada jamaahnya ketika beliau hendak berkhutbah setelah salat Idulfitri. Abdullah bin Sa’ib berkata:

إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

Sesungguhnya kami akan berkhutbah, barangsiapa yang ingin tetap duduk untuk mendengarkan maka duduklah dan siapa yang hendak pergi maka pergilah”.

Al Imam Ibnu Qayyim –rahimahullah– berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan bagi yang menghadiri salat Idulfitri untuk duduk mendengarkan khutbah atau pergi” [Lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam].

Baca Juga :  Tata Cara Niat Puasa Syawal

Berdasarkan hadits tersebut Nabi –Shallallahu alaihi wasallam– memberikan rukhshah (keringanan) kepada kita umatnya untuk tidak menghadiri khutbah salat Idulfitri. Akan tetapi jika kita tidak memiliki suatu hajat/keperluan akan lebih baik kita mendengarkannya.

Khutbah salat Idulfitri ini berbeda dengan khutbah salat Jumat. Khutbah salat Jumat yang dilaksanakan sebelum salat, sehingga orang yang sudah tiba di tempat salat pasti ikut mendengarkan khutbah tersebut. Fenomena yang terjadi ketika khutbah salat Idulfitri dilaksanakan, banyak sebagian yang berdiri lalu meninggalkan tempat salatnya. Sehingga orang yang mendengarkan khutbah salat Id lebih sedikit dibandingkan jamaah salat Idulfitri.

Karena hukum asal mendengarkan khutbah Idulfitri memanglah tidak wajib, maka boleh mendengarkan atau meninggalkan begitu saja bagi seseorang yang ada keperluan lain. Tetapi tak ada ruginya turut duduk mendengarkan khatib pada Hari Raya Idulfitri. Karena banyak hikmah dan informasi yang didapat dari khutbah tersebut.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here