Hukum Mencuri Energi Listrik

1
2781

BincangSyariah.Com – Listrik saat ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Listrik ibarat nyawa, tanpa listrik kehidupan manusia akan punah. Orang-orang menjadi depresi ketika baterai handphone mereka habis, aktivitas-aktivitas pendidikan, perkantoran, rumah tangga, dan lain sebagainya akan mandeg, belum lagi kerugian negara jika dalam beberapa jam saja listrik padam. Artinya dampak dari tidak adanya listrik bukan saja menyasar perekonomian, tapi juga pendidikan, sosial, bahkan juga psikologis, seperti anak-anak remaja yang depresi ketika mereka off bermain PUBG, atau menjadi uring-uringan ketika mereka gagal menyaksikan pertandingan klub bola idolanya.

Sebagaimana sumber energi lainnya, listrik juga memiliki daya tampung dan kapasitas terbatas, ia dimiliki dan dikuasai oleh pihak tertentu. Oleh sebab itu pencurian energi listrik sangat berkaitan dengan perampasan hak orang lain atau instansi terkait seperti PLN. Pencurian listrik sendiri adalah penggunaan atau pemanfaatan energi listrik yang bukan menjadi haknya secara sembunyi, baik dengan cara menambah watt, mempengaruhi batas daya, mempengaruhi pengukuran energi, maupun perbuatan lain yang illegal. Definisi pencurian energi listrik ini sesuai dengan fatwa MUI tahun 2016 menyoal pencurian listrik.

Hukum mencuri energi listrik oleh sebab itu adalah haram sama seperti jenis pencurian lainnya. Di dalam  kitab Mughni al-Muhtaj disebutkan bahwa syarat bagi orang yang mencuri dan layak untuk mendapatkan hukuman adalah jika pelaku pelaku tersebut adalah mukallaf; dan atas kesadarannya sendiri serta mengetahui keharaman pencurian. Dengan demikian, tidak dikenakan hukuman bagi anak kecil, orang gila, demikian pula orang yang dipaksa, karena hilangnya tanggung jawab hukum bagi mereka. Begitu juga kafir harbi. Demikian pula orang asing yang memerintahkan pencurian sedang dia meyakini kebolehannya atau tidak tahu keharamannya karena barunya masuk Islam atau karena jauhnya dari ulama atau karena ada uzur. Namun, orang yang mabuk (melakukan pencurian) juga dipotong tangan karena ada hubungan hukum dengan sebabnya. Keterangan di atas sesuai dengan pernyataan al-Khatib al-Syirbini berikut:

Baca Juga :  Adab Memenuhi Undangan Menurut Ulama

فِي شُرُوطِ السَّارِقِ وَفِيمَا تَثْبُتُ بِهِ السَّرِقَةُ وَمَا يُقْطَعُ بِهَا ، وَشُرُوطُ السَّارِقِ تَكْلِيفٌ ، وَاخْتِيَارٌ ، وَالْتِزَامٌ ، وَعِلْمُ تَحْرِيمِ السَّرِقَةِ كَمَا أَشَارَ إلَيْهِ الْفَارِقِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ ، وَحِينَئِذٍ ( لَا يُقْطَعُ صَبِيٌّ وَمَجْنُونٌ وَمُكْرَهٌ ) بِفَتْحِ الرَّاءِ ، لِرَفْعِ الْقَلَمِ عَنْهُمْ وَحَرْبِيٌّ لِعَدَمِ الْتِزَامِهِ ، وَأَعْجَمِيٌّ أَمَرَ بِسَرِقَةٍ وَهُوَ يَعْتَقِدُ إبَاحَتَهَا أَوْ جَهِلَ التَّحْرِيمَ لِقُرْبِ عَهْدِهِ بِالْإِسْلَامِ أَوْ بُعْدِهِ عَنْ الْعُلَمَاءِ لِعُذْرِهِ ، وَقُطِعَ السَّكْرَانُ مِنْ قَبِيلِ رَبْطِ الْحُكْمِ بِسَبَبِهِ

Keharaman mencuri juga disebutkan dalam banyak sumber Alquran maupun hadis, beberapa di antaranya adalah firman Allah surah al-Maidah ayat 38, al-Baqarah ayat 188, al-Nisa’ ayat 29. Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِيمَا رَوَى عَنِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ « يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا…

Hai para hamba-Ku! Sungguh Aku telah haramkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu sebagai hal yang diharamkan di antaramu; maka, janganlah kamu saling menzalimi… (H.R. Muslim).

Mencuri adalah bentuk kezaliman oleh sebab itu Allah melalui hadis di atas dengan sangat gamblang mengatakan bahwa setiap kezaliman adalah suatu hal yang haram. Untuk membedakan pencurian dengan bentuk kejahatan lainnya, maka yang dimaksud dengan pencurian adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Zakaria al-Anshari bahwa:

وَهِيَ لُغَةً أَخْذُ الْمَالِ خُفْيَةً وَشَرْعًا أَخْذُهُ خُفْيَةً من حِرْزِ مِثْلِهِ بِشُرُوطٍ

Mencuri secara bahasa adalah mengambil harta dengan sembunyi-sembunyi atau dalam isytilah syariat (mencuri) adalah mengambil harta dari penjagaan orang lain dengan cara sembunyi-sembunyi dengan syarat-syarat tertentu.

Dari seluruh argumentasi di atas jelas sekali bahwa hukum mencuri, termasuk juga mencuri energi listrik hukumnya adalah haram. Fatwa terkait keharaman pencurian listrik ini telah dikeluarkan oleh MUI pada tahun 2016, yakni Fatwa No. 17 Tahun 2016 tentang Pencurian Energi Listrik. Adapun dalam Islam hukum potong tangan memiliki syarat-syarat tertentu untuk diterapkan kepada pelaku pencurian. Wallahu a’lam bi al-shawab.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Saat ini, listrik sudah menjadi konsumsi umum yang berlaku di masyarakat. Keberadaannya dinilai penting seiring hajat manusia di tengah cepatnya laju perkembangan jaman. Karena faktor pentingnya listrik itu, maka relasi antara konsumen dan produsen listrik berlaku yang namanya relasi yang bersifat saling mengikat (‘aqdun lazim) antara satu sama lain. (Baca: Hukum Mencuri Energi Listrik) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here