Hukum Mencontek dan Memberikan Contekan Saat Ujian dalam Islam

7
6459

BincangSyariah.Com – Di saat ujian berlangsung para siswa dilarang mencontek dengan berbagai cara, baik dengan melihat buku miliknya sendiri, melihat jawaban kawan atau bertanya kepada kawan sebangku atau siapapun.

Perbuatan mencontek jawaban dengan berbagai cara merupakan perbuatan yang dilarang agama dengan dua pertimbangan berikut:

Pertama, merupakan perbuatan khianat. Dalam kitab Washoya (vol.39) dijelaskan :

يابني لاتخن نفسك ولا تكن أحدا من الناس. إن من خيانتك لنفسك ان يسئلك الأستاذ ليمتحنك فتنظر في الكتاب اختلاسا ثم تجيبه، كأنك عالم بما سئلت عنه. ومن خيانتك لنفسك ان تجلس مجلس الامتحان فإذا عجزت عن الجواب اختلست مسودة أخيك لتكتب منها. أوسئلته همسا ليجيبك.

Hai anakku, “Janganlah kamu berkhiyanat kepada dirimu sendiri dan orang lain.” Termasuk khiyanat kepada diri sendiri di antaranya ketika kamu diuji oleh gurumu, kemudian kamu melihat buku tanpa izin (mencontek) agar kamu terlihat mengetahui tentang jawaban dari pertanyan gurumu. Termasuk khianat juga adalah di saat ujian berlangsung kemudian di saat kamu tidak mampu menjawab maka mencontek jawaban kawanmu dan menulisnya atau kamu bertanya kepada kawanmu guna menjawab pertanyaan tersebut.”

Ibnu Abas meriwayatkan sebuah hadis:

مَنْ اطَّلَعَ فِيْ كِتَابِ أَخِيْهِ بِغَيْرِ إِذْنِهِ فَكَأَنَّمَا اطَّلَعَ فِي النَّارِ

“Barang siapa melihat buku kawanya tanpa izin, maka bagaikan melihat api.”

Hadis tersebut dipahami oleh para ulama sebagaiman dalam Faidul Qadir (juz.6 vol.93):

قال ابن الأثير: وهذا الحديث محمول على الكتاب الذي فيه سر وأمانة يكره صاحبه أن يطلع عليه وقيل عام في كل كتاب

“Hadis ini dimaksudkan untuk semua buku yang bersifat rahasia dan amanah, sebagian ulama berpendapat dimaksudkan untuk semua buku.”

Kedua, merupakan pembohongan. Mencontek dapat juga dikategorikan sebagai pembohongan, sebab pada kenyataanya seorang siswa tidak dapat menjawab pertanyaan kemudian dia mencontek jawaban guna menjawabnya. Sebagaiamana definisi berbohong:

( الرابع ) ( الكذب ) هو من قبائح الذنوب وفواحش العيوب ( وهو ) عند الجمهور ( الإخبار عن الشيء على غير ما هو عليه ) في الواقع

“Keempat, kadzib (berbohong) termasuk dosa yang kotor dan aib yang parah adalah memberikan kabar ( perbuatan ) yang tidak sesuai kenyataan.”

Dalam Bariqoh Mahmudiyah fi-Syarhi Thoriqoh Muhammadiyah wa-Syariah Nabawiyah ( juz 4 vol.370 ) ditampilkan:

قال البيهقي الكذب مراتب أعلاه في القبح والتحريم الكذب على الله ثم رسوله ثم كذب المرء على عينه فلسانه

Imam al-Baihaqi berkata “Berbohong memiliki tingkatan dosa dan keharaman yaitu petama berbohong kepada Allah Swt., kemudian rasul-Nya, kemudian orang lain, kemudian matanya, kemudian lisanya, kemudian anggota badanya.”

Alloh mengancam para pembohong dalam ayat berikut :

وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“ Dan bagi mereka siksa yang menyakitkan sebab mereka berbohong “ ( Q.S.al-Baqoroh, ayat 10 ).

Demikian mencontek dalam ujian adalah perbuatan tercela dan termasuk kemaksiatan (perbuatan dosa. Dengan demikian memberikan contekan atau bocoran jawaban termasuk membantu dalam kemaksiatan. Dalam Is’ad al-Rofiq ( juz.2, vol.127 ) dijelaskan :

(و) منها (الإعانة على المعصية)

“ Termasuk kemaksiatan (perbuatan dosa) adalah membantu dalam kemaksiatan “.

Satu kutipan penting dalam kitab Fatawa al-Azhar ( juz.10, vol.139 ) dijelaskan :

من المقرر أن الغش فى أى شىء حرام، والحديث واضح فى ذلك “مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا”رواه مسلم وهو حكم عام لكل شىء فيه ما يخالف الحقيقة فالذى يغش ارتكب معصية والذى يساعده على الغش شريك له فى الإثم . ولا يصح أن تكون صعوبة الامتحان مبررة للغش فقد جعل الامتحان لتمييز المجتهد من غيره

Termasuk ketetapan bahwa sesungguhnya kecurangan (mencontek) dalam setiap hal adalah perbuatan haram. Hadis telah jelas memaparkan “Barang siapa berbuat curang pada kami maka tidak termasuk golongan kami “(HR Muslim).

Hukum ini berlaku umum untuk setiap hal yang tidak sesuai hakikatnya. Seseorang yang berbuat curang berarti melakukan kemaksiatan, dan orang yang membantu dalam kecurangan berarti sama-sama mendapatkan dosa. Tidak layak kesulitan dalam ujian memperbolehkan kecurangan, sebab ujian berguna untuk membedakan antara yang sungguh-sungguh dengan lainya.

Wallahu A’lam.

7 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum Ustadz saya mau tanya , kalau dia mengatakan saya Bakhil karena tidak mau memberikan contekan lalu dia marah dan saya sudah tidak sanggup lagi untuk menahan sakit hati saya karena terus dikatakan Bakhil apa saya sudah berdosa ustadz karena telah memberikan contekan kepada dia alasannya saya tidak sanggup bersabar lagi, mohon jawabannya ustadz terimakasih

  2. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh, saya izin bertanya ustadz, saya ikut ujian online yg katanya berhadiah medali dan piagam, nah terus ada soal yg sulit, terus awalnya niat aku cuma mau nyari cara²/penjelasannya aja digoogle, eh ternyata ada jawabannya digoogle, terus aku jawab deh sama kaya digoogle,
    Dalam peraturan ujiannya memang tidak ada larangan untuk membuka google atau buka buku, tapi saya merasa tidak nyaman saja, karena nilai saya cukup bagus tpi buka google, mohon penjelasannya dan apa yang harus saya lakukan? terimakasih banyak

  3. Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh, saya izin bertanya ustadz, saya ikut ujian online yg katanya berhadiah medali dan piagam, nah terus ada soal yg sulit, awalnya sih saya cuma mau liat cara²/penjelasan dari soal tersebut digoogle, eh ternyata penjelasannya lengkap dengan jawabannya, terus aku jawab deh sama kaya digoogle,
    “Dalam peraturan ujiannya memang tidak ada larangan untuk membuka google atau buku karena mungkin penyelenggara tau yg namanya dilaksanakan dari rumah pasti kebuka buku ataupun google”, tapi saya merasa tidak nyaman saja karena nilai saya cukup bagus tpi buka google, mohon penjelasannya dan apa yang harus saya lakukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here