Hukum Mencium Istri Saat Puasa Ramadhan?

1
28

BincangSyariah.Com – Jamak kita temui pemandangan, sebelum berangkat kerja seorang suami mencium istrinya terlebih dahulu. Lalu bagaimana bila ciuman itu dilakukan ketika  keduanya (baca; suami dan istri) sedang puasa Ramadhan atau puasa wajib lainnya? Sejatinya, bagaimana hukum mencium istri saat puasa ramadhan atau puasa wajib lainnya?

Adapun hukum terkait mencium istri ketika sedang berpuasa, hukumnya boleh. Pendapat ini dikemukan oleh Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim Al Kaff. Dalam kitab At- Taqriratu as sadidatu fil Masaili al Mufidah, halaman 455, ia mengatakan boleh hukumnya seorang suami mencium istrinya. Pun sebaliknya, istri dibolehkan mencium suaminya.

Ciuman tersebut tak membatalkan puasa. Akan tetapi dengan catatan, ketika keduanya (baca; istri dan suami) berciuman tak menimbulkan syahwat (birahi). Bila sebaliknya, membuat gejolak  syahwat, padahal mereka berpuasa, maka haram hukumnya. Terlebih apabila sampai suami inzal (keluarnya sperma/ mani), maka puasa tersebut batal.

Syekh Hasan Al- Kaff menjelaskan hukum mencium Istri saat Puasa sebagai berikut:

 حكم القبلة ; تحرم اذا كانت تحرك شهوته , و اما اذا لم تحرك شهوته  فخلاف الاولى, ولا تبطل الا اذا انزل بسببها

Artinya; hukum mencium pasangan ketika berpuasa; berciuman haram hukumnya apabila menggerakkan syahwatnya (birahi), dan adapun jika tak menggerakkan syahwat, maka ada perbedaan pendapat ulama. Melakukan ciuman itu hukumnya tidak membatalkan puasa, kecuali apabila efek dari ciuman itu sampai inzal, maka puasanya batal.

Menurut fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, selama tidak menimbulkan inzal, seorang boleh mencium istrinya ketika sedang berpuasa.  Dan puasanya tetap sah. Begitupun ketika seorang menyentuh/ berpelukan atau tidur bersama istrinya (baca; maksudnya bukan berhubungan badan) pada saat berpuasa, maka puasanya tetap sah.

Syekh Bin Baz mengeluarkan fatwa tersebut berdasarkan hadis Nabi Muhammad yang berbunyi;

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَأ قَالَتْ: ((كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ

Artinya; bersumber dari Aisyah semoga Ridha Allah besertanya, ia berkata: Nabi Muhammad SAW, pernah mencium istrinya sedangkan beliau berpuasa, dan beliau pun pernah menyentuh kulit istrinya sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.

Apabila terjadi, sebab ciuman antara suami dan istri, lantas menyebabkan keluar air madzi (cairan/air yang keluar akibat syahwat yang tinggi), maka puasanya  pun tetap sah. Sebab air mdazi, tak mengakibatkan puasa seseorang batal.

Syekh Bin Baz mengatakan;

ولو أمذى لم يضره أيضاً على الصحيح، المذي لا يبطل الصوم، وهو الماء اللزج الذي يخرج على أثر الشهوة

Artinya; apabila sebab berpelukan mengakibatkan keluar madzi, maka menurut pendapat yang shahih, itu tak membatalkan puasanya. Madzi itu adalah air atau cairan yang keluar sebab ketika syahwat sedang membuncah. Dan Madzi itu tak membatalkan puasa.

Demikian penjelasan terkait hukum mencium istri saat puasa Ramadhan? Semoga bermanfaat bagi kita semua.

(Baca:Apakah Vaksinasi Covid 19 Membatalkan Puasa?)

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here