Hukum Menceritakan Masalah Rumah Tangga Ke Orangtua

0
18

BincangSyariah.Com – Dalam banyak kasus, banyak di antara pasangan suami dan istri yang mengalami masalah keluarga dan kemudian dia menceritakan masalah keluarga tersebut kepada orangtuanya. Sebenarnya, bagaimana hukum menceritakan masalah rumah tangga kepada orang tua dalam Islam, apakah dibolehkan?

Menceritakan masalah rumah tangga kepada orangtua, jika orangtua tersebut bisa dipercaya dan dinilai bisa memberikan solusi, maka hukumnya boleh. Tidak masalah dalam Islam menceritakan masalah keluarga kepada orangtua jika hal itu dilakukan demi kebaikan bersama antara suami dan istri.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa pada saat Sayidah Fatimah, putri Rasulullah, dan Sayidina Ali mengalami kesulitan ekonomi, maka Sayidina Ali menyuruh Sayidah Fatimah untuk menceritakan masalah keluarganya kepada Rasulullah agar beliau berkenan membantu dan memberikan solusi. Ini menunjukkan bahwa menceritakan masalah keluarga kepada orangtua untuk kebaikan bersama hukumnya adalah boleh.

Hadis dimaksud disebutkan oleh Imam Al-Dzahabi dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir, dari Suwaid bin Ghaflah, dia bercerita bahwa suatu ketika Fatimah dan Ali mengalami paceklik. Lalu Ali menyuruh Fatimah untuk mendatangi Rasulullah dan menceritakan masalah tersebut kepada beliau. Setelah Fatimah mendatangi dan menemui Rasulullah, Fatimah berkata;

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ الْمَلَائِكَةُ طَعَامُهَا التَّهْلِيلُ وَالتَّسْبِيحُ وَالْحَمْدُ فَمَا طَعَامُنَا ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ :وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ نَبِيًّا مَا اقْتَبَسَ فِي آلِ مُحَمَّدٍ نَارٌ مُنْذُ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ، وَلَقَدْ أَتَيْنَا أَعْنُزًا فَإِنْ شِئْتِ أَمَرْنَا لَكِ بِخَمْسَةِ أَعْنُزٍ ، وَإِنْ شِئْتِ عَلَّمْتُكِ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيهِنَّ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ آنِفًا ، فَقَالَتْ : عَلِّمْنِي كَلِمَاتٍ عَلَّمَكَهُنَّ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، قَالَ قُولِي : يَا أَوَّلَ الْأَوَّلِينَ ، وَيَا آخِرَ الْآخِرِينَ ، وَيَا ذَا الْقُوَّةِ الْمَتِينَ ، وَيَا رَاحِمَ الْمَسَاكِينَ ، وَيَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ فَفَعَلْتُ ، قَالَ : فَانْصَرَفَتْ حَتَّى دَخَلَتْ عَلَى عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ ، فَقَالَ : مَا وَرَاءَكِ ؟ قَالَتْ : ذَهَبْتُ مِنْ عِنْدِكَ إِلَى الدُّنْيَا وَأَتَيْتُكَ بِالْآخِرَةِ ، فَقَالَ : خَيْرٌ أَيَّامُكِ خَيْرٌ أَيَّامُكِ

Wahai Rasulullah, makanan para malaikat hanya membaca tahlil, tasbih dan tahmid, namun bagaimana dengan makanan kami? Maka Nabi Saw berkata; Demi Dzat yang telah mengutusku sebagai nabi, api tidak pernah menyala di keluarga Muhammad selama tiga puluh hari. Kami hanya memiliki lima ekor kambing, jika kamu mau, kami akan menyuruh kamu membawa lima ekor kambing, dan jika kamu mau, aku ajarkan kamu beberapa kalimat yang telah diajarkan kepadaku oleh malaikat Jibril barusan. Fatimah berkata; Ajari aku kalimat yang diajarkan Malaikat Jibril kepada engkau. Kemudian Nabi Saw berkata, ‘Ucapkanlah; ‘Yaa awwalal awwaliin wa yaa aakhirol aakhiriina wa yaa dzal quwwatil matiin wa roohimal masakiin wa yaa arhamar roohimiin. Kemudian aku lakukan. Aisyah kemudian pergi menemui Sayidina Ali dan ia bertanya kepada Aisyah, ‘Apa yang engkau dapat? Aisyah menjawab, ‘Aku pergi dari sisimu untuk dunia dan aku sekarang kembali kepadamu dengan akhirat.’ Sayidina Ali berkata, ‘Sungguh baik harimu, sungguh baik harimu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here