Hukum Menceritakan Hutang Orang Lain

0
17

BincangSyariah.Com – Sudah maklum bahwa dalam Islam kita dilarang untuk menceritakan keburukan dan aib orang lain. Menceritakan keburukan dan aib orang lain disebut dengan ghibah. Dalam Islam, hukum ghibah adalah haram. Namun bagaimana hukum menceritakan hutang orang lain, apakah haram?

Menceritakan hutang orang lain, jika dia sengaja tidak mau membayarnya padahal dia mampu untuk membayar, maka hukumnya boleh, tidak berdosa. Ini sebagai bentuk hukuman padanya karena telah lalai menunaikan kewajiban membayar hutang. Halal merusak kehormatan orang yang lalai membayar hutang, bahkan dia boleh dipenjarakan.

Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Ahmad berikut;

عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  لَىُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ

Dari Amr bin Syarid, dari bapaknya, beliau berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Penundaan hutang oleh seorang yang mampu membayar hutang menghalalkan kehormatan (harga diri) dan pemberian hukuman padanya.

Menurut Ibnu Qudamah, maksud menghalalkan kehormatan di sini adalah pihak pemberi hutang halal mencaci dan menyifati dengan buruk orang yang berhutang dan enggan membayar padahal mampu, juga halal memenjarakannya. Beliau berkata dalam kitab Al-Mughni berikut;

إذَا امْتَنَعَ الْمُوسِرُ مِنْ قَضَاءِ الدَّيْنِ فَلِغَرِيمِهِ مُلَازَمَتُهُ وَمُطَالَبَتُهُ وَالْإِغْلَاظُ لَهُ بِالْقَوْلِ فَيَقُولُ : يَا ظَالِمُ  يَا مُعْتَدٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ ؛ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَيُّ الْوَاجِدِ ، يُحِلُّ عُقُوبَتَهُ وَعِرْضَهُ  .فَعُقُوبَتُهُ حَبْسُهُ ، وَعِرْضُهُ أَيْ يُحِلُّ الْقَوْلَ فِي عِرْضِهِ بِالْإِغْلَاظِ لَهُ .

Jika seorang yang kaya menahan dari melunasi hutang, maka seorang yang memberikan piutang boleh untuk selalu menguntitnya dan memintanya serta berkata keras kepadanya, ia boleh mengatakan: Wahai orang dzalim, wahai orang yang melampui batas, atau perkataan yang semisal dengan itu. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw: Penundaan hutang oleh seorang yang mampu menghalalkan pemberian hukuman kepadanya dan penurunan harga dirinya.  Pemberian hukuman adalah dengan memenjarakannya dan maksud dari “harga dirinya” adalah menghalalkan berkata-kata tentang harga dirinya yaitu dengan perkataan keras.

Namun jika orang yang berhutang memang tidak mampu membayar, maka tidak boleh membicarakan hutangnya kepada orang lain. Sebaliknya, dia harus dikasihani dengan cara ditunggu sampai dia mampu membayar atau hutangnya dibebaskan. Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Al-Tirmdzi dari Ka’ab bin Umar, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda;

من أنظر معسرا أو وضع له أظله الله في ظله

Barangsiapa memberi tangguh kepada orang yang dalam kesukaran atau menghapuskan utangnya, maka Allah akan menaunginya di dalam naungan-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here